85 Persen Wilayah Desa Pekauman Ulu Terendam Banjir, 2.000 Jiwa Terdampak

1 Januari 2026
Kondisi Desa Pekauman Ulu terendam banjir dengan 2.000 jiwa terdampak (Foto : Muhammad Ervan Ariya Ramadani/newsway.co.id)

NEWSWAY.CO.ID, MARTAPURA – Banjir masih menggenangi sebagian besar wilayah Desa Pekauman Ulu, Kabupaten Banjar. Ketinggian air bervariasi, mulai dari sekitar 30 sentimeter di ruas jalan utama hingga mencapai 80 sentimeter di gang-gang permukiman warga.

Pembakal Desa Pekauman Ulu, Bima Dwi Satria, mengatakan bahwa berdasarkan pendataan sementara, hampir seluruh wilayah desa terdampak genangan air.

“Kalau kami hitung dari total wilayah desa, sekitar 85 persen warga terdampak banjir. Di jalan raya rata-rata sekitar 30 sentimeter, tapi di dalam gang bisa sampai 80 sentimeter,” ujarnya, Kamis (1/01/2026).

Ia menyebutkan, sedikitnya sekitar 590 rumah terendam banjir dengan jumlah warga terdampak mencapai kurang lebih 2.000 jiwa.

“Data sementara yang kami catat kemarin ada sekitar 590 rumah terendam, dengan jumlah jiwa terdampak sekitar 2.000-an,” jelas Bima.

Meski pemerintah kecamatan telah membuka lokasi pengungsian, sebagian besar warga memilih bertahan di lingkungan masing-masing. Mereka umumnya menempati rumah kerabat atau lokasi yang dianggap lebih tinggi di sekitar desa.

“Kebanyakan warga bertahan di desa sendiri, di tempat-tempat yang agak tinggi. Sempat kami arahkan untuk mengungsi ke kecamatan karena di sana dibuka pengungsian, tapi warga lebih memilih bertahan,” katanya.

Bima mengatakan, alasan utama warga enggan mengungsi adalah faktor keamanan harta benda, serta karena masyarakat sudah terbiasa menghadapi banjir tahunan.

“Kalau dibilang terbiasa, iya karena banjir ini hampir tiap tahun. Tapi tahun ini bisa dibilang yang paling besar, mendekati kejadian tahun 2021. Tahun-tahun sebelumnya jalan tidak sedalam ini,” ungkapnya.

Akibat banjir yang berkepanjangan, sebagian besar warga kini menggunakan apar-apar atau lantai panggung sementara di dalam rumah untuk beraktivitas.

“Rata-rata warga sudah pakai apar-apar, karena tiap tahun banjir mereka memang sudah menyiapkan sendiri,” ucapnya.

Bima mengungkapkan, banjir dengan ketinggian signifikan ini telah berlangsung sekitar satu pekan, sementara kenaikan debit air mulai terasa sejak dua minggu terakhir.

Terkait bantuan, pemerintah desa telah menerima layanan kesehatan dari RS Pelita Insani. Sementara bantuan makanan baru diterima dari pihak kecamatan dalam jumlah terbatas.

“Bantuan kesehatan alhamdulillah sudah ada. Untuk bantuan makanan dari kecamatan, sekitar 300 bungkus dan itu masih sangat kurang,” katanya.

Ia menyebutkan, keluhan kesehatan warga didominasi penyakit kulit, terutama di bagian kaki akibat terlalu lama terendam air.

“Keluhan paling banyak itu penyakit kulit di bagian kaki. Tapi alhamdulillah sudah ada bantuan pengobatan,” tuturnya.

Bima berharap pemerintah kabupaten dan provinsi dapat segera menetapkan status tanggap darurat agar penanganan banjir dan penyaluran bantuan bisa dilakukan lebih cepat dan maksimal.

“Harapan kami, pemerintah kabupaten dan provinsi bisa segera mengeluarkan pernyataan tanggap darurat bencana, supaya penanganan dan bantuan bisa lebih cepat,” pungkasnya.(nw)

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog