Pemkab Banjar Perkuat Validasi Data Layanan, Perilaku Masyarakat Jadi Tantangan Utama Turunkan Stunting

5 Desember 2025
Foto bersama usai pembukaan Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TP3S) (Foto : Muhammad Ervan Ariya Ramadani/newsway.co.id)

NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU – Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Banjar kembali diperkuat melalui Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TP3S) yang digelar di Hotel Rodhita Banjarbaru, Kamis (4/12/2025).

Forum tersebut difokuskan untuk menilai kembali akurasi dan kelengkapan data layanan di seluruh kecamatan, mengingat prevalensi stunting di daerah itu masih berada pada kategori tinggi.

Kepala Bappedalitbang Kabupaten Banjar Nashrullah Shadiq menjelaskan, rakor ini menjadi ajang evaluasi besar-besaran terhadap input data cakupan layanan yang dikawal oleh para Camat bersama Puskesmas dan Penyuluh KB.

Pemetaan kecamatan yang telah dan belum memenuhi kelengkapan data menjadi langkah awal untuk menentukan intervensi lebih tepat.

“Data itu fondasi. Kalau data lengkap dan valid, kita mudah membaca layanan mana yang masih lemah, misalnya TTD untuk remaja putri atau ibu hamil. Dari situ intervensi bisa langsung diarahkan,” jelasnya.

Pemenuhan cakupan layanan pada keluarga berisiko menjadi kunci untuk menurunkan angka stunting secara signifikan. Bahkan wacana pemberian reward bagi petugas desa mulai dipertimbangkan sebagai dorongan kinerja, meski masih menunggu keputusan pimpinan.

Kepala Dinsos P3AP2AKB Banjar Erny Wahdini menekankan, pentingnya kolaborasi lintas perangkat daerah hingga kader desa. Ia menyebut bahwa upaya pemerintah sebenarnya sudah maksimal, termasuk layanan jemput bola ke sasaran. Namun, perubahan perilaku masyarakat masih menjadi tantangan terberat.

“Intervensi pemerintah tidak kurang. Masalahnya ada pada perilaku. ASI eksklusif kita masih di bawah 60 persen, kepatuhan minum Tablet Tambah Darah juga rendah. Ini faktor sensitif yang memicu stunting,” tekannya.

Erny mengungkapkan, penyebaran kasus stunting di Kabupaten Banjar relatif merata, tetapi terdapat dua kecamatan yang mendapat perhatian lebih karena angka kasusnya masih tinggi, yakni Paramasan dan Sungai Tabuk.

“Langkah penanganan spesifik akan ditentukan setelah seluruh data hasil evaluasi disimpulkan,” tuturnya.(nw)

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog