NEWSWAY.CO.ID, KOTABARU Pemerintah Kabupaten Kotabaru melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) terus memperkuat sektor agraris sebagai pilar utama ketahanan pangan daerah. Sepanjang tahun 2025, program perluasan lahan melalui Cetak Sawah menjadi primadona dalam upaya melindungi lahan produktif serta menyongsong kemandirian pangan nasional.
Kepala DKPP Kotabaru Sarwani mengungkapkan, saat ini progres pengembangan lahan pertanian di Kotabaru menunjukkan tren positif berkat sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, hingga jajaran TNI (Kodim).
Program Cetak Sawah tahap pertama seluas 341 hektare di Kecamatan Pulau Laut Timur telah selesai dikerjakan dan sudah memasuki masa tanam.
“Saat ini kami sedang melanjutkan tahap kedua dengan total luas 630 hektare. Rinciannya, sekitar 320 hektare di Kelumpang Utara dan 310 hektare di Pamukan Selatan. Selain itu, ada program Optimasi Lahan (Oplah) seluas 305 hektare yang tersebar di beberapa kecamatan seperti Kelumpang Tengah dan Kelumpang Utara,” ungkapnya.
Meskipun pelaksana teknis berada di bawah komando Kodim dan PPK Provinsi, Pemkab Kotabaru berperan aktif sebagai penerima manfaat yang akan mengelola hasil lahan tersebut demi kesejahteraan petani lokal.
Program Cetak Sawah ini bukan sekadar mengejar produksi, melainkan langkah strategis untuk memagari lahan potensial dari ancaman alih fungsi lahan menjadi kawasan pertambangan maupun pemukiman.
“Kita ingin melindungi lahan kita agar tahun 2045 tidak lagi defisit beras. Selain itu, pertanian lokal ini disiapkan untuk mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Bahan baku seperti beras, cabe, tomat, ayam, hingga telur diharapkan berasal dari petani dan peternak lokal kita sendiri,” tambahnya.
Sarwani tidak menampik adanya tantangan besar, terutama perubahan iklim yang sering mengganggu jadwal tanam. Selain itu, masalah regenerasi petani menjadi sorotan utama. Banyak pemuda desa yang memilih bekerja di sektor lain daripada mengelola lahan di kampung halaman.
“Kami membentuk Brigade Pangan, yaitu kumpulan petani milenial yang didukung dengan bantuan alat mesin pertanian dan manajemen usaha. Kami ingin anak muda bangga menjadi petani dan menjadi entrepreneur di daerahnya sendiri,” tegasnya.
Menatap tahun 2026, DKPP Kotabaru telah mengusulkan program Rehabilitasi Sawah seluas 700 hektare. Program ini menyasar lahan-lahan yang dulunya produktif namun terbengkalai menjadi semak belukar karena berbagai kendala teknis.
Selain tanaman pangan, DKPP juga akan memfokuskan kembali sektor peternakan untuk menekan ketergantungan daging dan telur dari luar daerah. Di sektor perkebunan, Sarwani menaruh perhatian pada sinergi perusahaan sawit dengan masyarakat sekitar melalui pola plasma dan CSR.
“Harapan kami, keberadaan perusahaan besar harus dirasakan dampak positifnya oleh warga sekitar. Kami ingin perusahaan lebih terbuka dalam berkoordinasi sehingga pertumbuhan ekonomi di sektor perkebunan benar-benar meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal,” pungkasnya. (nw)
Reporter : Rizal
