NEWSWAY.CO.ID, YOGYAKARTA – Sinar mentari pagi terasa hangat ketika anak-anak SD N Gembongan, Sentolo, Kulon Progo, datang ke sekolah, Kamis (29/1/2026). Mengenakan seragam merah putih, mereka saling menyapa dan bercanda sebelum masuk ke ruang kelas.
Di antara kesibukan pagi itu, tampak seorang siswi yang datang dengan dua tas di pundak. Satu berisi buku pelajaran, satu lagi berisi susu dan pakaian ganti untuk adiknya.
Namanya Ariendra Ralea, siswa kelas 3. Di usianya yang baru 9 tahun, Ariendra dituntut tumbuh dewasa lebih cepat dari anak-anak lain sebayanya.
Di dalam kelas, Ariendra memiliki dua bangku. Satu untuk dirinya sendiri, kemudian satu bangku lagi berukuran lebih kecil, khusus untuk adiknya. Ya, Ariendra memang bersekolah dengan membawa serta adiknya yang baru berusia tiga tahun.
Setiap hari, selama enam bulan terakhir, rutinitas itu dijalani Ariendra tanpa keluhan. Sebab sang ibu, Rubiyanti (36), telah didiagnosis menderita kanker payudara sehingga kondisi fisiknya melemah dan harus rutin menjalani kemoterapi. Dalam situasi sulit inilah, Ariendra mengambil peran mengurus rumah, membantu merawat ibu, dan menjaga dua adiknya yang masih kecil.
Ariendra menempuh perjalanan lebih dari satu kilometer untuk menuju sekolah. Terkadang ia bersepeda, namun tidak jarang juga berjalan kaki. Sang adik, selalu ikut bersamanya hingga Ariendra selsai sekolah.
Meski harus membagi fokus antara pelajaran dan menjaga adik, Ariendra dikenal sebagai murid yang rajin dan cerdas. Cita-citanya cukup mulia, yakni ingin menjadi dokter agar bisa mengobati banyak orang.
Kepala Sekolah SD N Gembongan, Pri Hastuti Komarul mengungkapkan, Ariendra adalah murid yang rajin dan memiliki prestasi belajar yang baik. Hanya saja, hidupnya kurang beruntung dari sisi ekonomi. Pihak sekolah kemudian memberi dispensasi khusus agar Ariendra tetap bisa belajar sambil menjaga adiknya.
“Kami ingin membantunya menggapai cita-cita,” ungkapnya.
Kisah yang dialami Ariendra menggugah simpati banyak pihak, termasuk Pemkab Kulon Progo. Melalui Disdikpora, pemkab memberikan bantuan tali asih sebagai bentuk kepedulian atas kondisi keluarga mereka.
“Kami sangat tersentuh dengan semangat dan keteguhan anak ini. Ia menunjukkan keteladanan luar biasa di usia yang masih sangat muda,” ujar Nur Wahyudi.
Melalui pemberian tali asih, Disdikpora Kulon Progo berharap dapat meringankan beban ekonomi keluarga Ariendra. Selain bantuan materi, dukungan moral juga terus diberikan agar ia tetap bisa mengenyam pendidikan tanpa harus kehilangan hak sebagai anak-anak. (nw)
