Arah Baru Pengelolaan Sampah Banjarbaru, Menuju Kota Ramah Lingkungan

by
9 April 2026
Masyarakat Kelurahan Mentaos mendapatkan pemahaman tentang pengelolaan sampah dari Kadis LH, Santi. (Foto : Doc newsway.co.id)

Oleh : Yopi

Dalam rangka memaksimalkan pengelolaan sampah, arah pengelolaan sampah di Kotas Banjarbaru mulai beralih. Kalau pola lama ‘kumpul-angkut-buang’ kian ditinggalkan, digantikan pendekatan berbasis sumber yang menempatkan rumah tangga sebagai titik awal sekaligus penentu keberhasilan perubahan.

~ Advertisements ~

Arah kebijakan ini ditegaskan dalam Peraturan Daerah Kota Banjarbaru Nomor 5 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Sampah, yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam sistem persampahan kota.

Tidak sekadar soal teknis, perubahan ini menyasar cara pandang: sampah tidak lagi dilihat sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan benar.

~ Advertisements ~

Di berbagai kawasan permukiman, praktik pemilahan mulai tumbuh. Warga mengelompokkan sampah menjadi organik, anorganik bernilai daur ulang, dan residu. Skema sederhana ini menjadi fondasi penting untuk menekan beban tempat pemrosesan akhir (TPA), sekaligus membuka peluang ekonomi melalui bank sampah dan kegiatan daur ulang.

Pemerintah daerah memperkuat langkah ini dengan penyediaan sarana, mulai dari TPS, fasilitas TPS 3R, hingga pengembangan bank sampah sebagai bagian dari ekonomi sirkular. Pelaku usaha pun didorong untuk mengurangi kemasan sulit terurai dan bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkan.

~ Advertisements ~

Namun, di atas semua itu, satu hal menjadi penentu: partisipasi warga. Dari rumah, perubahan itu dimulai.

Gambaran nyata terlihat di RT 33 RW 07, Kelurahan Syamsudin Noor, warga selama delapan bulan terakhir konsisten menjalankan program “Markisa” (Mari Kita Sedekah Sampah). Setiap Minggu pagi, sampah nonorganik yang masih bernilai dikumpulkan, dipilah, dan dikelola melalui bank sampah.

~ Advertisements ~

Sementara itu, sampah organik diolah melalui sumur komposter. Setiap sampah yang masuk dicatat untuk mengetahui volume yang berhasil ditahan agar tidak berakhir di TPS. Pendekatan ini bukan hanya teknis, tetapi juga berbasis data membantu warga menghitung kebutuhan fasilitas secara terukur. Satu sumur komposter bahkan diperkirakan mampu menampung hingga satu ton sampah organik.

Dengan pola ini, alur pengelolaan menjadi jelas: organik diolah, anorganik dimanfaatkan, dan hanya residu yang dibuang.

~ Advertisements ~

Di Kelurahan Mentaos, pendekatan serupa juga dilakukan. RW 04 ditetapkan sebagai wilayah percontohan, dengan empat RT yang akan memiliki lubang komposter komunal, 10 titik tong organik sebagai titik kumpul, serta 20 relawan penggerak yang mengedukasi warga melalui praktik ember tumpuk di rumah tangga.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa gerakan pengelolaan sampah di Banjarbaru tidak lagi sporadis, tetapi mulai bergerak menuju sistem yang lebih terstruktur.

~ Advertisements ~

Di titik inilah peran RT menjadi krusial.

Ke depan, setiap RT di Banjarbaru diharapkan mulai menyusun roadmap pengelolaan sampah di wilayahnya masing-masing. Roadmap ini penting agar gerakan tidak berhenti sebagai kegiatan insidental, melainkan menjadi sistem yang berkelanjutan dan terukur.

~ Advertisements ~

Setiap wilayah memiliki karakteristik berbeda, jumlah kepala keluarga, kepadatan permukiman, pola konsumsi, hingga kedekatan dengan fasilitas pengolahan. Karena itu, pendekatan yang dibangun tidak bisa seragam. RT perlu merancang langkahnya sendiri: berapa kebutuhan komposter, di mana titik kumpul sampah ditempatkan, bagaimana skema pengangkutan, hingga siapa saja penggerak utamanya.

Roadmap tersebut setidaknya memuat tahapan jelas: mulai dari edukasi dan sosialisasi, penyediaan sarana, pembentukan relawan, hingga penguatan kelembagaan melalui bank sampah atau unit pengelola di tingkat warga. Dengan perencanaan yang baik, target pengurangan sampah dapat diukur, dievaluasi, dan ditingkatkan secara bertahap.

Peran RW dan kelurahan menjadi penting sebagai penguat, memastikan setiap RT berjalan dalam satu arah kebijakan yang sama, namun tetap memberi ruang inovasi sesuai kondisi lokal.

Banjarbaru kini berada pada fase penting: sedang membangun kesadaran menuju membangun sistem. Dan sistem itu, pada akhirnya, bertumpu pada kekuatan terkecil. RT sebagai simpul kehidupan warga.

~ Advertisements ~
~ Advertisements ~

Jika setiap RT mampu menyusun dan menjalankan roadmap nya sendiri, maka transformasi kota bukan lagi sekadar harapan. Ia menjadi kerja bersama yang nyata dari rumah, oleh warga, untuk Banjarbaru yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.*

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog