NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU – Kapolda Kalimantan Selatan Irjen Pol Dr Rosyanto Yudha Hermawan mengatakan produksi cairan pemadam khusus untuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih dilakukan secara terbatas.
Kendala utama saat ini adalah penyiapan bahan baku yang masih menunggu kiriman dari Surabaya dan Jakarta.
“Kita masih produksi terbatas ya karena kita masih terhambat dengan penyiapan bahan baku tapi kita sudah mulai minta pengiriman kita beli dari Surabaya dan dari Jakarta mudah-mudahan di minggu ini sudah tiba dan kita bisa produksi sebanyak-banyaknya,” ujarnya, Senin (31/08/2026) saat melakukan pemadam di Guntung Damar.
Ia menjelaskan cairan tersebut merupakan inovasi yang dikembangkan Polda Kalsel melalui dengan Laboratorium Forensik.
Kapolda mengaku semakin optimis setelah melakukan uji coba di lokasi yang sama pada sore sebelumnya. Hasilnya, hingga sore hari tidak lagi terlihat asap di titik tersebut.
” Ya alhamdulillah, kita kemarin dengan beberapa teman-teman dari wartawan kita juga melakukan eksperimen di lokasi yang sama ini di belakang kita itu sampai sore ini kita lihat tidak ada asap di lokasi yang kemarin kita uji coba. Melihat kondisi ini saya juga semakin optimis mudah-mudahan ini semakin berhasil dan ini akan kita produksi sebanyak-banyaknya nanti kita kerja sama dengan pak gubernur dengan pemprov untuk memperbanyak,” jelasnya.
Mengenai dampak ke lingkungan, Kapolda memastikan bahan cairan aman bagi ekosistem. Bahan dasarnya berasal dari minyak nabati.
“Jadi ini bahannya ini bahan eh dari minyak nabati tentunya ini tidak membahayakan dengan ekosistem dan tanah ini sendiri dan bahkan nanti ke depannya bisa menjadi pupuk,” katanya.
Sementara itu PS Kasubid Narkoba Forensik Labfor Polda Kalsel, AKP Meilia Rahma Widiana, SSI, saat ditemui di lokasi karhutla menjelaskan ada dua jenis bahan aktif yang digunakan, yakni MES dan SLS, keduanya berasal dari minyak nabati.
“MES itu dia dari minyak nabati kelapa sawit, kalau SLS dari minyak nabati kelapa. Nah jadi nanti dicampur dengan beberapa bahan, formula kita nanti dihasilkan ini yang ramah lingkungan,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan, bahan yang digunakan salahsatunya menghasilkan busa.
“Busa ini ketika disemprotkan di atas dia bisa memutus rantai oksigen. Jadi dia menutup suplai oksigen ke dalam tanah. Karena ini gambut itu bisa bermeter-meter ke bawah kebakarannya. Untuk itu Pak Kapolda berinovasi menggunakan metode vertikal tadi, disuntik ke bawah dengan pipa-pipa yang dilubangin itu. Diharapkan cairan itu sampai ke dalam tanah,”bebernya. (nw)
