NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU – Laboratorium Forensik Polda Kalimantan Selatan mengembangkan cairan pemadam khusus untuk kebakaran hutan dan lahan gambut.
Cairan berbahan dasar minyak nabati tersebut diklaim lebih efektif dan ramah lingkungan, sedangkan untuk 20 liter, biaya produksinya mencapai sekitar Rp 4 juta.
Hal tersebut disampaikan PS Kasubid Narkoba Forensik Labfor Polda Kalsel, AKP Meilia Rahma Widiana, SSI, saat ditemui di lokasi karhutla, Senin (31/08/2026) di Guntung Damar Kota Banjarbaru.
AKP Meilia menjelaskan ada dua jenis bahan aktif yang digunakan, yakni MES dan SLS, keduanya berasal dari minyak nabati.
“MES itu dari minyak nabati kelapa sawit, kalau SLS dari minyak nabati kelapa. Bahan-bahan tersebut kemudian dicampur dengan formula tertentu hingga menghasilkan cairan surfaktan yang mampu menghasilkan busa,”jelasnya.
Ia menjelaskan fungsi utama cairan ini adalah menghasilkan busa saat disemprotkan. Busa tersebut berfungsi menutup suplai oksigen ke dalam tanah.
“Dia menghasilkan busa. Busa ini ketika disemprotkan di atas dia bisa memutus rantai. Jadi dia menutup suplai oksigen ke dalam tanah,” katanya.
Hal ini dinilai penting karena kebakaran di lahan gambut bisa menjalar hingga bermeter-meter ke bawah.
Untuk menjangkau titik api di bawah tanah, Polda Kalsel juga menerapkan metode penyuntikan vertikal menggunakan pipa-pipa yang dilubangi.
“Karena ini gambut dalamnya bisa bermeter-meter ke bawah kebakarannya. Jadi makanya Pak Kapolda juga berinovasi menggunakan metode vertikal tadi disuntik ke bawah dengan pipa-pipa yang dilubangin itu. Diharapkan cairan surfaktan ini tuh sampai ke dalam tanah,” jelasnya.
Menurutnya, surfaktan membuat air lebih efektif untuk pemadaman. Sementara busa yang dihasilkan berfungsi memutus rantai oksigen.
“Surfaktan ini buat air itu lebih efektif untuk pemadaman. Nah busanya tadi itu memutus rantai oksigen. Jadi insyaallah diharapkan dengan menggunakan ini pemadaman di lahan gambut itu lebih efektif. Karena sekarang kekeringan, airnya kurang, jadi diharapkan dengan dengan surfaktan ini airnya tidak terlalu banyak,” bebernya.
Terkait biaya, AKP Meilia menyebut untuk produksi 20 liter cairan ini dibutuhkan anggaran sekitar Rp4 juta.
“Kira-kira dua puluh liter itu empat juta lah mungkin. Satu biang itu. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi tambahan dalam penanganan karhutla di Kalsel, khususnya di lahan gambut yang sulit dipadamkan dengan air biasa,”pungkasnya.(nw)
