NEWSWAY.CO.ID, JAWA TENGAH – Masyarakat Jawa Tengah kini berada di bawah bayang-bayang ancaman bencana hidrometeorologi, BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap mengeluarkan peringatan keras agar warga meningkatkan kewaspadaan pada masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan yang diprakirakan berlangsung pertengahan Oktober hingga November 2026.
Masa transisi atau pancaroba ini memicu cuaca ekstrem mematikan berupa hujan lebat disertai petir, angin kencang, hingga puting beliung. Wilayah dataran tinggi menjadi area paling rawan terdampak.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo, menjelaskan kondisi tanah yang kering akibat kemarau panjang akan sangat berbahaya ketika diguyur hujan perdana.
“Kondisi tanah yang tadinya cukup kering akibat kemarau di dataran tinggi akan bisa berbahaya apabila terkena hujan dan bisa berakibat terjadinya tanah longsor,” ungkap Teguh awal bulan Oktober 2026.
BMKG juga mencatat anomali mundurnya awal musim hujan 2026 di wilayah Jawa Tengah bagian selatan.
Awal musim hujan diprakirakan mundur hingga pertengahan November atau awal Desember 2026. Khusus di Kabupaten Cilacap, keterlambatan mencapai 20-30 hari dari kondisi normal, dengan puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Januari dan Februari 2027.
“Kami mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan cuaca selama masa peralihan, terutama terhadap potensi hujan lebat, petir, angin kencang, dan puting beliung yang dapat memicu bencana hidrometeorologi,” pungkasnya.
Menyikapi hal tersebut, BMKG menyerukan agar warga dataran tinggi (Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap Utara), segera lakukan cek lingkungan, bersihkan saluran air, dan pangkas pohon rawan tumbang.
“Tunda aktivitas di lereng curam saat hujan lebat,”ucapnya.
BMKG juga sampaikan imbauan Kepada Pemerintah Desa untuk bisa aktifkan kembali Siskamling dan forum Rembug Bencana, siapkan jalur evakuasi dan posko siaga.
“Kepada generasi muda jadikan gawai sebagai alat mitigasi. Sebarkan informasi cuaca resmi dari BMKG, bukan hoax yang menimbulkan panik. Laporkan kejadian pohon tumbang dan longsor melalui kanal resmi BPBD. Bencana bukan takdir, tapi soal kesiapsiagaan, berarti ketahanan kita menjaga lingkungan dan Alam semesta,”pungkasnya.(nw)
Reporter : Suho
