NEWSWAY.CO.ID, JAWA TENGAH – Nasib puluhan dapur yang disiapkan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, hingga kini masih menggantung.
Sebanyak 30 dapur dilaporkan telah selesai dibangun dan dilengkapi peralatan, namun belum beroperasi.
Ketua Paguyuban Mitra MBG Banyumas, Suharjono, saat di konfirmasi awak media menyebutkan, pembangunan satu dapur membutuhkan investasi sekitar Rp2,5 miliar hingga Rp3 miliar.
Dengan 30 dapur yang belum beroperasi, total investasi yang telah dikeluarkan para mitra diperkirakan mencapai Rp75 miliar hingga Rp90 miliar.
“Kondisi ini membuat para mitra mempertanyakan kepastian operasional. Modal sudah tertanam sangat besar, tapi dapur yang dibangun belum bisa digunakan untuk menjalankan layanan MBG,” ujar Suharjono.
Persoalan kepastian operasional ini tidak hanya terjadi di Banyumas,di sejumlah daerah lain, para mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bahkan menyuarakan keluhan serupa melalui aksi yang digelar di Jakarta pada awal Oktober.
“Mereka meminta kejelasan dari Badan Gizi Nasional (BGN) terkait keberlanjutan kerja sama dan nasib investasi yang sudah dikeluarkan,”ujarnya.
Di sisi lain, BGN menyatakan tengah melakukan aktivasi SPPG secara bertahap dengan memprioritaskan dapur yang telah memenuhi persyaratan dan kesiapan operasional.
BGN juga melakukan penataan terhadap sejumlah SPPG yang belum memenuhi persyaratan, termasuk persyaratan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Bagi para mitra di Banyumas, persoalan kini bukan sekadar soal membangun dapur, melainkan kepastian kapan fasilitas yang telah menghabiskan investasi miliaran rupiah tersebut benar-benar dapat beroperasi dan memberikan manfaat.
Tanpa kepastian itu, puluhan dapur yang sudah berdiri kokoh berpotensi terus menjadi aset menganggur, sementara program yang diharapkan dapat menggerakkan ekonomi lokal justru belum berjalan optimal.(nw)
Reporter : Suho
