NEWSWAY.CO.ID, MARTAPURA – Banjir yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Banjar memberikan dampak besar terhadap sektor pertanian, khususnya pada tanaman padi milik petani. Genangan air akibat tingginya curah hujan membuat ribuan hektare lahan pertanian tidak dapat berproduksi secara optimal.
Berdasarkan data Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Banjar hingga 19 Januari 2026, perubahan iklim yang memicu hujan berkepanjangan menjadi penyebab utama terendamnya areal persawahan. Kondisi tersebut menyerang berbagai fase pertumbuhan padi, mulai dari persemaian, lacakan, hingga tanaman yang telah ditanam di lahan.
Kepala Distan Kabupaten Banjar Warsita menyampaikan, total tanaman padi yang terdampak banjir mencapai ribuan hektare. Rinciannya, benih pada tahap semai tercatat sekitar 6.780 kilogram, lacakan 250 kilogram, serta tanaman padi yang sudah ditanam seluas kurang lebih 1.563 hektare.
“Dari total tersebut, sebagian besar tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan puso,” ujarnya, Jumat (23/1/2026).
Ia merinci, semai yang mengalami gagal tumbuh mencapai 6.445 kilogram, lacakan puso sekitar 147 kilogram, serta tanaman padi yang mengalami gagal panen seluas 1.297 hektare.
Wilayah dengan dampak terparah berada di Kecamatan Beruntung Baru, dengan luas puso sekitar 991 hektare. Selanjutnya Kecamatan Martapura Barat terdampak sekitar 141 hektare, disusul Martapura Timur dengan luasan kurang lebih 121 hektare.
Warsita mengungkapkan, saat ini pihaknya masih terus melakukan pendataan dan verifikasi di lapangan sebagai dasar pengajuan bantuan, baik melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Banjar maupun bantuan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian.
“Kami sudah melakukan koordinasi dan rapat dengan Kementerian Pertanian, khususnya terkait program Optimalisasi Lahan dan Cetak Sawah Rakyat. Semua lahan terdampak akan kita masukkan dalam data usulan penanganan,” ungkapnya.
Selain penyaluran bantuan benih, Distan Banjar juga telah mendistribusikan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada brigade pangan serta kelompok tani. Bantuan tersebut meliputi traktor, mesin tanam, dan peralatan pengolahan lahan lainnya untuk mempercepat proses tanam ulang.
“Begitu kondisi cuaca membaik, petani diharapkan bisa langsung melakukan pengolahan lahan dan penanaman kembali. Apalagi potensi kemarau diperkirakan datang lebih cepat,” tambahnya.
Sementara itu estimasi kerugian sementara akibat banjir di sektor pertanian diperkirakan mencapai sekitar Rp300 juta. Angka tersebut masih bersifat awal dan akan dihitung kembali secara lebih rinci melalui verifikasi lanjutan.
“Hitungan global sementara berada di kisaran Rp300 juta, nanti akan kita pastikan kembali,” sebutnya.
Di sisi lain, sejumlah petani yang telah terdaftar dalam program asuransi pertanian mulai mengajukan klaim. Pengajuan klaim tercatat berasal dari Kecamatan Martapura Barat dengan luasan sekitar 90 hektare dan Martapura Timur seluas 24 hektare.
Meski demikian, Warsita menegaskan bahwa petani yang mengajukan klaim asuransi tetap diusulkan untuk menerima bantuan dari pemerintah.
Ia juga mengimbau para petani agar memanfaatkan dukungan alsintan dan pendampingan yang tersedia untuk mempercepat masa tanam, sehingga target tanam dua kali dalam setahun masih dapat diwujudkan.
“Fokus kita adalah percepatan tanam. Dengan dukungan alat yang ada, pengolahan lahan bisa lebih cepat dan diharapkan petani tetap bisa menanam dua kali dalam setahun,” pungkasnya.(nw)
