NEWSWAY.CO.ID, MARTAPURA – Bencana banjir yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, meninggalkan dampak besar bagi pembudidaya ikan air tawar. Ratusan pelaku usaha perikanan dilaporkan mengalami kerugian akibat ikan budidaya lepas terbawa arus banjir.
Berdasarkan data sementara, sebanyak 151 pembudidaya ikan terdampak langsung dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp4.463.865.000. Kerugian tersebut terutama berasal dari komoditas ikan nila yang banyak dibudidayakan menggunakan sistem Keramba Jala Apung (KJA).
Kepala Seksi Pengelolaan dan Pembudidayaan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar, Apriyani Mindra Waspodo menjelaskan, tingginya debit air sungai menyebabkan luapan yang merusak keramba dan menghanyutkan ikan.
“Luapan air sungai membuat banyak ikan keluar dari keramba. Dampaknya dirasakan mulai dari wilayah hulu seperti Karang Intan hingga kawasan Martapura Barat,” ujarnya, Rabu (21/01/2026).
Ia mengungkapkan, sebelum banjir terjadi, DKPP Banjar telah menyampaikan peringatan dini kepada para pembudidaya agar meningkatkan kewaspadaan. Namun tidak sedikit pembudidaya yang tetap menjalankan kegiatan karena terikat kontrak dengan pihak penyedia pakan maupun target pemasaran.
“Sebagian pembudidaya tetap melanjutkan usaha karena ada kewajiban kerja sama yang harus dipenuhi, meski risikonya cukup besar,” ucap Apriyani.
DKPP Banjar saat ini masih melakukan pendataan lanjutan di lapangan. Angka kerugian yang tercatat disebut masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah seiring masuknya laporan dari pembudidaya lain yang belum terdata.
“Kami membuka ruang bagi pembudidaya yang terdampak tetapi belum terdata agar segera melapor secara mandiri,” katanya.
Terkait tindak lanjut, Apriyani menyampaikan, fokus utama saat ini adalah menghimpun data akurat sebagai dasar pengajuan bantuan. Data tersebut nantinya akan disampaikan kepada pimpinan daerah, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, serta Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin.
“Harapannya, data ini bisa menjadi acuan untuk penyaluran bantuan, khususnya bibit ikan bagi pembudidaya terdampak,” ujarnya.
Kepala DKPP Kabupaten Banjar, Sipliansyah menyatakan, laporan kerugian tersebut akan diteruskan kepada Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar untuk selanjutnya disampaikan ke pemerintah provinsi.
“Pemprov juga meminta data kerugian ini sebagai bagian dari laporan dampak banjir di Kabupaten Banjar,” sebutnya.
Terkait kemungkinan penerapan skema asuransi bagi pembudidaya ikan, Sipliansyah menyebut pihaknya masih akan mengkaji lebih lanjut ketentuan dan persyaratan yang berlaku.
“Jika memungkinkan, opsi tersebut akan kami bahas dalam rapat lanjutan,” pungkasnya.(nw)
