Dari Rorotan, Banjarbaru Siapkan Arah Baru Pengelolaan Sampah dari Sumbernya

by
5 April 2026
Wali Kota Banjarbaru, Hj Erna Lisa Halaby tampak serius memperhatikan proses pengelolaan sampah. (Foto : MC Banjarbaru/newsway.co.id)

NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU – Keseriusan Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarbaru dalam membenahi persoalan sampah tidak berhenti pada wacana.

Pada hari kedua kunjungan studi tiru di Kelurahan Rorotan, rombongan Pemkot Banjarbaru menelusuri langsung berbagai model pengelolaan sampah modern yang telah diterapkan secara terintegrasi, Sabtu (4/04/2026).

~ Advertisements ~

Agenda dimulai dengan kunjungan ke Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, rombongan mendapat pemaparan strategis mengenai roadmap pengelolaan sampah yang dirancang secara sistematis mulai dari sumbernya di tingkat rumah tangga, proses pengolahan di fasilitas antara, hingga pengolahan akhir yang bernilai ekonomi.

Rombongan kemudian melanjutkan kunjungan ke Pusat Edukasi KIE RBU (Recycle Business Unit). Tempat ini menjadi pusat edukasi lingkungan sekaligus fasilitas pengolahan sampah kering dan daur ulang yang terintegrasi.

~ Advertisements ~

Di lokasi tersebut, para camat dan lurah se-Kota Banjarbaru bersama jajaran Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru diperlihatkan bagaimana sistem pengelolaan sampah dapat menjadi bagian dari gerakan edukasi masyarakat, sekaligus menciptakan nilai tambah dari limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

Perjalanan studi tiru berlanjut ke kawasan ProKlim RW 01 Tugu Utara, sebuah kampung iklim yang menjadi contoh nyata adaptasi dan mitigasi perubahan iklim berbasis komunitas, rombongan mempelajari berbagai inovasi pengolahan sampah berbasis masyarakat, mulai dari mesin pembuatan pellet dari SOD, budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai pengurai sampah organik, hingga sistem drop point bambu yang digunakan sebagai sarana fermentasi sampah.

~ Advertisements ~
~ Advertisements ~

Pembelajaran semakin lengkap ketika rombongan mengunjungi fasilitas pengolahan sampah modern yakni RDF Plant Rorotan, Fasilitas yang dibangun oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini mampu mengolah sekitar 2.500 ton sampah setiap hari menjadi bahan bakar alternatif Refuse Derived Fuel (RDF).

~ Advertisements ~

Teknologi yang digunakan melibatkan proses mechanical treatment seperti pemilahan, pencacahan, hingga pengeringan sampah non-organik untuk menghasilkan bahan bakar berukuran 2 hingga 10 sentimeter dengan kadar air di bawah 25 persen, yang memiliki nilai kalor setara batu bara muda.

~ Advertisements ~

Wali Kota Banjarbaru, Hj Erna Lisa Halaby yang mendampingi langsung rombongan terlihat serius menyimak setiap tahapan proses pengolahan sampah hingga menjadi energi alternatif.

“Tentunya ini menjadi pengalaman, wawasan dan ilmu yang telah kita dapatkan di sini. Harapannya hasil dari kunjungan ini bisa segera kita implementasikan di Banjarbaru, tentu dengan menyesuaikan karakteristik wilayah masing-masing dan terus berinovasi dalam pengelolaan sampah,” ujarnya.

~ Advertisements ~

Orang nomor satu di Banjarbaru itu menegaskan bahwa pengelolaan sampah di Kota Banjarbaru harus dimulai dari sumbernya melalui kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.

“Ini harus kita dorong bersama-sama. Tidak bisa dikerjakan secara individu, tetapi membutuhkan dukungan lurah dan camat untuk memberdayakan masyarakat Banjarbaru. Kita harus mengubah perilaku agar pemilahan sampah dapat selesai dari sumbernya,” tegasnya.

~ Advertisements ~

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Banjarbaru, Shanty Eka Septiani menyebutkan bahwa setelah kembali ke Banjarbaru, pihaknya akan menyusun strategi konkret pengelolaan sampah di tingkat kelurahan.

“Setiap kelurahan akan memetakan jumlah penduduk hingga tingkat RW, termasuk perkiraan sampah organik dan anorganik. Kami akan memulai dari beberapa rumah terlebih dahulu untuk pemilahan sampah, dengan target setiap bulan minimal bertambah 10 rumah yang menerapkan pemilahan,” jelasnya.

~ Advertisements ~

Menurutnya, kondisi pengelolaan sampah di Banjarbaru saat ini masih didominasi pola kumpul-angkut-buang, sehingga perubahan pola pikir masyarakat menjadi tantangan utama ke depan.

“Harapannya dari studi tiru ini kita bisa mengubah pola tersebut. Sampah tidak bisa lagi hanya dikumpulkan dan dibuang, tetapi harus diselesaikan dari sumbernya,” katanya(nw)

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog