NEWSWAY.CO.ID, JAWA TENGAH – Aksi perampokan disertai kekerasan dialami sebuah keluarga di wilayah Kotayasa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Peristiwa mencekam tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi Nurgiyanti (39), istri dari Kodrat, yang menjadi salah satu korban.
Nurgiyanti menuturkan, peristiwa bermula saat dirinya terbangun karena mendengar suara mencurigakan dari dalam rumah. Ketika membuka mata, dua orang tak dikenal sudah berada di dekatnya dan langsung mengikat tangan sebelum menariknya keluar kamar.
Di dalam rumah, saat itu terdapat suaminya serta dua anak mereka, Lutfi (8) dan Luigi (14). Namun, hanya anak sulung yang sempat menjadi sasaran kekerasan pelaku. Nurgiyanti melihat suaminya telah lebih dulu dilumpuhkan dalam posisi tengkurap dengan tangan dan kaki terikat.
Kepanikan semakin memuncak ketika ia mendengar jeritan anaknya dari kamar lain. Saat berusaha mendekat, ia menyaksikan dua pelaku menindih tubuh anaknya di atas tempat tidur, satu menekan bagian kepala dan satu lagi menahan kaki. Wajah sang anak bahkan dibekap bantal hingga mengalami mimisan.

Dalam kondisi tersebut, Nurgiyanti hanya bisa menangis dan memohon agar pelaku menghentikan tindakan mereka. Namun, kawanan perampok justru memerintahkannya untuk diam dan tidak berteriak.
Setelah itu, ia dibawa kembali ke kamar bersama suaminya. Meski sempat berhasil melepaskan ikatan di tangannya, Nurgiyanti memilih berpura-pura masih terikat demi menghindari kecurigaan pelaku.
Para perampok diketahui membawa sejumlah senjata tajam, seperti kapak, arit, pisau, serta linggis kecil. Bahkan korban juga mendapat ancaman akan ditembak apabila mencoba melawan.
Begitu situasi dirasa aman dan para pelaku meninggalkan rumah, Nurgiyanti segera membuka pintu kamar dan melepaskan ikatan suaminya. Keduanya kemudian keluar rumah, namun kawanan perampok sudah tidak terlihat.
Berdasarkan keterangan korban, jumlah pelaku ada empat orang. Dua di antaranya bertubuh tinggi besar, sedangkan dua lainnya lebih pendek. Sebagian pelaku mengenakan masker, namun ada satu orang yang tidak menggunakan penutup wajah. Kondisi pencahayaan yang redup membuat korban sulit mengenali wajah mereka secara jelas.
Nurgiyanti menduga rumahnya mungkin menjadi target karena suaminya bekerja di koperasi dan juga menjabat sebagai bendahara paguyuban lingkungan, sehingga kerap memegang uang. Ia mengaku baru sekitar tiga tahun tinggal di kawasan tersebut.
Hingga kini, korban masih mengalami trauma berat akibat kejadian tersebut dan berharap para pelaku segera tertangkap agar tidak menimbulkan korban lainnya. (nw)
