Inovasi Program Lapat Manis: Disdukcapil Banjar Jemput Bola Layani Warga Sakit, Disabilitas hingga ODGJ

16 Desember 2025
Disdukcapil Banjar laksanakan layanan Program Lapat Manis (Foto : Disdukcapil Banjar/newsway.co.id)

NEWSWAY.CO.ID, MARTAPURA – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Banjar menghadirkan inovasi Lapat Manis, layanan perekaman data kependudukan dengan sistem jemput bola bagi warga yang tidak memungkinkan datang ke kantor pelayanan.

Plt Kepala Disdukcapil Kabupaten Banjar, Hayatun Nupus menjelaskan, Lapat Manis menyasar warga dengan kondisi khusus seperti penderita stroke, sakit menahun, disabilitas berat hingga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

“Layanan Lapat Manis ini kami langsung datang ke rumah warga. Jadi mereka tidak perlu dipaksa atau tergesa datang ke kantor,” jelasnya saat ditemui di Ruangannya, Selasa (16/12/2025).

Layanan yang diberikan berupa perekaman data kependudukan, seperti pengambilan foto, sidik jari dan iris mata. Perekaman ini penting agar warga yang sebelumnya tidak memiliki KTP bisa masuk dalam data kependudukan dan berhak menerima bantuan sosial maupun layanan pemerintah lainnya.

Mekanisme pengajuan layanan dilakukan melalui aparat desa. Keluarga atau warga melapor ke desa, kemudian desa mengirimkan surat permohonan ke Disdukcapil disertai data warga yang akan dilayani.

“Biasanya Desa merekap dulu, misalnya ada tiga orang, dua penderita stroke dan satu ODGJ. Supaya kami turun sekaligus,” ujar Nupus.

Pelaksanaan Lapat Manis dilakukan secara rutin setiap hari Jumat dan sudah berjalan selama sekitar satu tahun. Dalam satu kali turun lapangan, tim Disdukcapil melayani hingga lima orang.

“Kalau dihitung setahun, jumlahnya sudah ratusan orang. Banyak di antara mereka sebelumnya tidak bisa mendapatkan bantuan karena belum punya KTP, sekarang sudah bisa,” ungkapnya.

Nupus mengatakan, pelaksanaan Lapat Manis tidak lepas dari tantangan di lapangan. Kondisi ODGJ yang beragam kerap menjadi kendala, terutama saat proses perekaman yang membutuhkan kerja sama dari yang bersangkutan.

“Ada ODGJ yang tenang, ada juga yang bisa mengamuk. Petugas harus ekstra sabar, merayu bahkan menunggu waktu yang tepat supaya mau direkam,” ucapnya.

Selain itu, kondisi kesehatan warga seperti penderita stroke berat juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak jarang petugas harus menghadapi kondisi fisik warga yang membutuhkan penanganan khusus.

“Petugas kami bukan tenaga kesehatan. Jadi untuk kondisi tertentu memang cukup ekstra,” tutur Nupus.

Kedepan, Disdukcapil Banjar berencana berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan, puskesmas atau bidan desa agar pelayanan Lapat Manis bisa lebih optimal, terutama bagi warga dengan kondisi kesehatan berat.

“Kami ingin layanan ini tetap berjalan dengan aman, manusiawi dan maksimal,” tutupnya.(nw)

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog