Kampung Mbaroh dan Peran Empat Ekosistem Pendukungnya

24 Desember 2025
Esai

Selama ini, pembicaraan tentang ekonomi kreatif di kota-kota berkembang sering berhenti pada daftar subsektor, gedung inkubator, atau event sesekali. Padahal, ekonomi kreatif sejatinya bukan soal gedung megah atau panggung besar dengan konsernya, melainkan tentang ekosistem: siapa yang bergerak, siapa yang memberi makan sistem, siapa yang menjaga cerita, dan siapa yang menghubungkan semuanya.

Di titik inilah Kampung Mbaroh menjadi menarik untuk dibicarakan dalam konteks ekonomi kreatif di Kota Banjarbaru.

Banjarbaru dikenal sebagai kota penyangga bandara, kota hunian, dan kota jasa. Namun di sela pembangunan itu, ada kampung-kampung yang tumbuh dengan logika berbeda: bergerak perlahan, organik, dan berbasis relasi sosial. Kampung Mbaroh adalah salah satunya. Tanpa label “kampung budaya” sekalipun, Mbaroh sejatinya telah memiliki fondasi yang kuat untuk itu.

Bukan karena ditetapkan, tetapi karena sudah berjalan dengan empat pilar yang sudah hidup, juga bukan dirancang di atas kertas. Kampung Mbaroh secara organik telah memiliki empat pilar utama ecosystem.

~ Advertisements ~

Pertama, Karang Taruna sebagai Ecosystem Builder.
Pemuda di Mbaroh tidak sekadar menjadi panitia acara. Mereka berperan sebagai penggerak, penghubung lintas kelompok, fasilitator rembug warga, sekaligus penjaga energi kolektif. Inilah ciri ekosistem yang sehat: pemuda hadir bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai simpul.

Kedua, Kelompok Wanita Tani (KWT) dan Poktan sebagai Ecosystem Feeder.
Mereka memberi makan ekosistem, secara harfiah dan maknawi. Dari pangan lokal, kebun, hingga praktik bertani, KWT dan Poktan menjaga keberlanjutan ekonomi berbasis kebutuhan riil. Ini bukan ekonomi kreatif yang abstrak, tetapi ekonomi yang tumbuh dari tanah, dapur, dan kebiasaan sehari-hari.

Ketiga, Kelompok Reog sebagai Ecosystem Storyteller.
Reog di Mbaroh bukan sekadar tontonan. Ia adalah narasi hidup tentang identitas, ingatan kolektif, dan transfer nilai lintas generasi. Di tengah kota yang cepat lupa pada asal-usulnya, peran storyteller menjadi semakin penting: menjaga agar pembangunan tidak kehilangan cerita.

Keempat, Tim Eduwisata sebagai Ecosystem Connector.
Mereka menjembatani kampung dengan dunia luar, dari pengunjung, pelajar, komunitas kreatif, hingga jejaring kota. Eduwisata bukan hanya soal wisata, tetapi pengalaman belajar. Di sinilah nilai ekonomi kreatif bertemu dengan pendidikan dan keberlanjutan.

Empat pilar ini tidak dibentuk lewat proyek instan. Ia tumbuh dari kebiasaan gotong royong, tradisi berkumpul, dan kebutuhan bersama.

Mengapa Perlu Diorkestrasi?

Justru karena sudah hidup, Kampung Mbaroh layak diorkestrasi, bukan dipaksa berubah. Orkestrasi di sini bukan berarti menyeragamkan atau mengkomersialkan secara berlebihan. Melainkan menyelaraskan peran: kapan Karang Taruna memimpin proses, kapan Reog berbicara lewat panggung budaya, kapan KWT dan Poktan menjadi tuan rumah, dan kapan eduwisata membuka pintu bagi publik.

Tanpa orkestrasi, potensi akan berjalan sendiri-sendiri. Dengan orkestrasi, potensi berubah menjadi ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Peluang bagi Banjarbaru

Bagi Kota Banjarbaru, Kampung Mbaroh bukan sekadar kampung tematik. Ia bisa menjadi model: bagaimana ekonomi kreatif tumbuh dari kampung, bukan hanya dari pusat kota; bagaimana bandara tidak hanya membawa arus orang, tetapi juga membuka ruang cerita; dan bagaimana pembangunan kota tetap memberi tempat bagi akar budaya.

Ekonomi kreatif Banjarbaru tidak harus selalu dimulai dari event besar. Kadang ia cukup dimulai dari kampung yang sudah rukun, sudah berkarya, dan tinggal diselaraskan.

Dan Kampung Mbaroh, dengan empat pilar ekosistemnya yang sudah hidup, adalah bukti bahwa masa depan itu sedang tumbuh: pelan, tapi pasti.

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog