NEWSWAY.CO.ID, YOGYAKARTA – Kehadiran Artificial Intelligence (AI) dinilai menjadi tantangan besar bagi arah pembangunan kepemudaan di Indonesia. Perubahan cepat yang dibawa teknologi ini menuntut generasi muda tidak hanya menguasai aspek digital, tetapi juga memiliki karakter kritis dan tangguh dalam menghadapi dampaknya.
Hal tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi UNY, Prof Dr Sugeng Bayu Wahyono MSi, dalam Rapat Serap Aspirasi Revisi Undang-undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan di The Jogja Hotel and Conference, Senin (10/10/2025).
Menurutnya, era transformasi digital tidak lagi bisa dihindari karena telah membentuk tatanan sosial baru yang bersifat imperatif. Namun, kehadiran AI juga membawa konsekuensi eksesif yang perlu diantisipasi melalui pembangunan karakter generasi muda.
“Generasi muda perlu disiapkan agar mampu beradaptasi secara produktif. Dampak eksesif dari kehadiran AI harus diimbangi dengan membangun tipologi pemuda yang idealistik sekaligus kritis terhadap perkembangan era digital,” ujar Sugeng.
Ia menegaskan bahwa pembangunan kepemudaan tidak cukup berorientasi pada kemampuan teknologis, tetapi juga harus menumbuhkan kepekaan sosial. Generasi muda, kata dia, perlu memiliki daya kritis terhadap berbagai persoalan ketidakadilan sosial, mulai dari isu kemiskinan, kesetaraan gender, diskriminasi, hingga lingkungan hidup.
“Pembangunan kepemudaan harus menghasilkan generasi yang peka dan kritis terhadap masalah sosial, serta mampu berperan aktif mewujudkan visi Indonesia emas,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY, Prof Dr Djoko Pekik Irianto MKes AIFO, menyoroti pentingnya pendidikan berkelanjutan bagi pemuda di tengah dominasi teknologi. Ia menilai, penguasaan terhadap AI harus diimbangi dengan pendidikan karakter dan keterampilan hidup (life skills) agar bonus demografi dapat dimanfaatkan secara optimal.
Sementara itu, pembahasan revisi UU Kepemudaan juga memunculkan sejumlah masukan terkait batasan usia pemuda, peran organisasi kepemudaan, hingga perbedaan karakter pemuda di wilayah perkotaan dan pedesaan. Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai usulan dari akademisi dan peserta. (nw)
