NEWSWAY.CO.ID, MARTAPURA– Sudah hampir dua pekan Hamdanah bersama keluarganya bertahan di pengungsian akibat banjir yang merendam rumah mereka di Pantai Rumbia dan saat ini mengungsi di Desa Keramat, Kecamatan Sungai Tabuk.
Air yang masuk ke dalam rumah setinggi paha orang dewasa memaksa mereka meninggalkan tempat tinggal dan mencari tempat aman.
“Air masuk ke dalam rumah, sampai sepaha, jadi kami terpaksa mengungsi ke sini,” ujar Hamdanah, Kamis (8/01/2026).
Di pengungsian, Hamdanah tinggal bersama empat kepala keluarga, termasuk suami, anak, cucu dan anggota keluarga lainnya. Anak-anak berusia balita hingga enam tahun ikut terdampak kondisi tersebut.
Untuk kebutuhan makan, bantuan yang diterima warga pengungsian tidak selalu rutin.
“Kadang makan dapat dua kali, kadang cuma sekali. Biasanya siang sekitar jam 10 atau 11, kalau sore kadang jam 3 atau 4,” katanya.
Hamdanah mengaku, kebutuhan yang paling diharapkan saat ini adalah perlengkapan anak-anak dan balita serta keperluan perempuan, seperti pakaian, popok serta susu.
“Harapannya ada bantuan untuk anak-anak, baju-baju, perlengkapan balita. Susu juga pernah dapat, tapi cuma satu kali itu pun susu kotak,” ucapnya.
Selain itu, keterbatasan air bersih dan fasilitas sanitasi juga menjadi keluhan utama. Meski air bersih sudah tersedia, warga harus antre panjang untuk mandi dan berganti pakaian.
“Kalau mandi harus antre, ganti baju juga di dalam WC. Itu yang agak menyulitkan,” tuturnya.
Dari sisi kesehatan, Hamdanah mengatakan layanan kesehatan tersedia selama 24 jam di pengungsian. Namun, kebutuhan khusus perempuan masih belum sepenuhnya terpenuhi.
“Kadang pembalut tidak ada. Pampers untuk anak-anak juga kadang kosong,” katanya.
Banjir juga berdampak langsung pada penghasilan keluarga. Suami Hamdanah yang sehari-hari bekerja sebagai pencari ikan terpaksa berhenti bekerja karena kondisi banjir.
“Suami biasanya cari ikan di sungai, tapi pas banjir ini berhenti. Jadi tidak ada penghasilan,” ujarnya.
Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, Hamdanah dan warga pengungsian lainnya hanya memiliki satu harapan sederhana.
“Mudah-mudahan banjir cepat surut, jangan banjir lagi, supaya kami bisa cepat pulang ke rumah,” pungkasnya.(nw)
