Komdigi Soroti Urgensi Ketelitian Redaksi di Tengah Akselerasi AI

28 November 2025
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) RI Nezar Patria pada kegiatan MediaConnect bertajuk “Dari Cepat Jadi Cermat: Menyikapi AI di Meja Redaksi” yang berlangsung di Bandung, Kamis (27/11/2025). Wamenkomdigi Nezar menjelaskan bahwa AI telah menjadi alat bantu efektif untuk meningkatkan efisiensi kerja jurnalistik. (Foto:Elvira/Komdigi/Newsway.co.id)

NEWSWAY.CO.ID,Bandung — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menekankan perlunya pemahaman yang komprehensif mengenai pengaruh kecerdasan artifisial (AI) terhadap proses produksi berita. Dorongan ini disampaikan karena alur kerja jurnalistik kini semakin dipacu oleh derasnya arus informasi dan tuntutan publik atas ketepatan data.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria, dalam agenda MediaConnect bertema “Dari Cepat Jadi Cermat: Menyikapi AI di Meja Redaksi” di Bandung, Kamis (27/11/2025) mengatakan, teknologi AI telah berkembang menjadi piranti yang efektif untuk menunjang produktivitas ruang redaksi. Mulai dari koreksi bahasa, penerjemahan, transkripsi, hingga analisis sentimen awal kini dapat dijalankan secara otomatis.

Menurut Nezar, percepatan ini justru memberi ruang bagi jurnalis untuk kembali fokus pada tugas-tugas utama seperti investigasi, verifikasi fakta, dan pendalaman isu. Namun, ia mengingatkan penggunaan AI generatif tetap menyisakan tantangan besar, terutama risiko memudarnya otentisitas karya jurnalistik dan nilai intelektual manusia.

Komdigi saat ini merampungkan dua pedoman penting (Peta Jalan Nasional AI dan Etika AI) yang sedang difinalisasi menjadi Peraturan Presiden.

~ Advertisements ~

“Dua dokumen ini sudah masuk proses pembahasan di Kementerian Hukum,” ujar Nezar.

Ia menambahkan, regulasi tersebut akan melengkapi payung hukum yang sudah ada, termasuk UU Perlindungan Data Pribadi dan UU ITE. Di sisi lain, industri media juga bergerak; Dewan Pers telah menerbitkan panduan internal mengenai penggunaan AI yang aman dan bertanggung jawab.

Salah satu perhatian utama pemerintah yakni penyalahgunaan teknologi, seperti produksi misinformasi, disinformasi, serta manipulasi konten berbasis deepfake. Nezar menilai kolaborasi lintas lembaga dan peningkatan literasi digital masyarakat menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan informasi nasional.

Pemerintah juga terus memajukan konsep Sovereign AI atau AI Berdaulat. Tujuannya memastikan pengembangan teknologi dilakukan oleh dan untuk Indonesia, sehingga ekosistem lokal tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi turut menjadi pemain global.

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah menilai, perkembangan AI telah bergeser dari sekadar alat bantu menjadi agen yang mampu membuat prediksi dan mengambil keputusan kompleks. Ia menggarisbawahi bahwa tantangan yang muncul bukan hanya teknis, tetapi merambah pada ranah sosial dan filosofis.

“Pengembangan AI harus berlandaskan kemanusiaan, inklusivitas, dan persatuan. Teknologi harus membawa kesejahteraan, bukan menciptakan pengangguran baru,” tegas Edwin.

Pemimpin Redaksi Harian Kompas Haryo Damardono, turut memaparkan dampak AI di industri media. Ia mengungkapkan, teknologi tersebut mampu menurunkan biaya penerjemahan secara drastis, namun juga menyebabkan penyusutan peran tertentu.

Untuk itu, Kompas menerapkan pedoman etika internal yang membatasi penggunaan AI hanya sebagai sarana brainstorming dengan pengawasan manusia. Mereka juga membangun sistem deteksi untuk menolak naskah yang terlalu bergantung pada output AI.

“Integritas redaksi tetap menjadi fondasi utama,” ujarnya.

Sementara itu, Creative Advisor sekaligus AI Specialist Motulz Anto menegaskan, adanya batasan mendasar antara kreativitas manusia dan kecerdasan buatan. AI, katanya, bekerja berdasarkan logika, statistik, dan algoritma, sementara kreativitas manusia lahir dari pengalaman, intuisi, hingga etika.

Ia menilai para profesional harus menjadikan etika, kemampuan berpikir kritis, dan inovasi sebagai benteng terakhir agar tidak tunduk pada dominasi AI.

“Mesin bisa meniru pola, tetapi tidak bisa meniru pengalaman batin manusia,” tegas Motulz. (nw)

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog