Melihat Lebih Dekat Yoni Setiawan, Ketua RT 33 Syamsudin Noor, Pelopor Gerakan Markissa

by
7 April 2026
Yoni Setiawan saat mengangkut sampah untuk dibawa ke tempat pemilahan. (Foto : Doc Pribadi Yoni/newsway.co.id)

Yoni Setiawan menceritakan keseriusan dirinya mencatat setiap tahapan proses study tiru tentang pengelolaan sampah di Rorotan Jakarta. Ketua RT 33 RW 07 Kelurahan Syamsudin Noor Banjarbaru itu dikenal melalui gerakan Markissa (Mari Kita Sedekah Sampah) dan inovasi Sumur Komposter Sanitasi.

Bagi Yoni, studi tiru ini bukan sekadar kunjungan, melainkan penguat atas langkah yang telah ia rintis dari lingkup terkecil.

~ Advertisements ~

“Di Rorotan ini kita lihat pengolahan sampah hasil akhir TPA. Tapi tadi juga ditegaskan, ini bukan solusi akhir. Kalau mesin rusak, sampah bisa kembali menumpuk. Artinya, kuncinya tetap di sumbernya, di rumah warga,” ujarnya seraya mengingat apa yang ia simak saat study tiru.

Dengan nada tegas dan penuh optimisme, Yoni menceritakan keberhasilan Rorotan justru terletak pada keberanian membudayakan pemilahan sampah melalui sosialisasi berkelanjutan dan penerapan aturan yang tegas.

~ Advertisements ~

“Mereka bisa membudayakan warga untuk memilah sampah. Kenapa kita tidak bisa? Kita harus bisa juga. Rumah pilah dan Suster Santi yang sudah kita jalankan saya kira sudah tepat, tinggal kita kuatkan dan diperluas ke semua RT,” katanya lagi.

Lantas  Yoni memulai bercerita bagaina gerakan yang sedang dibangun di wilayahnya, dengan suara berat Yoni menegaskan pengelolaan sampah bukan hal baru. Ia juga menyampaikan selama sekitar delapan bulan terakhir, warga RT 33 konsisten menjalankan program Markisa (Mari Kita Sedekah Sampah) untuk sampah non-organik.

~ Advertisements ~
~ Advertisements ~

Kegiatan dilakukan rutin setiap Minggu pagi, sampah yang masih bernilai dikumpulkan dan dipilah, lalu dikelola melalui mekanisme bank sampah setiap Sabtu sore.

~ Advertisements ~

Sembari menikmati udara sore, Yoni menceritakan sejak setahun Bank Sampah Sumber Rezeki di wilayah tersebut telah dilengkapi peralatan pengolahan yang relatif memadai. Namun, tantangan berikutnya bukan lagi pada ketersediaan sarana, melainkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan desain produk daur ulang yang lebih inovatif, serta strategi promosi dan pemasaran agar memberi nilai tambah ekonomi.

~ Advertisements ~

“Dimulai dari keikhlasan dan modal sendiri di lingkungan RT, ternyata sampah itu yang membawa saya sampai bisa belajar ke sini. Saya yakin, kalau kita mulai dari rumah sendiri dengan konsisten, sampah bukan lagi masalah. Insya Allah, ini bisa jadi budaya warga Banjarbaru untuk menjadikan kota kita benar-benar elok,” ucap Yoni.

Yoni juga mengatakan bahwa apayang terjadi dan dilihatnya di Rorotan Jakarta saat study tiru, persoalan sampah yang kian kompleks menuntut pendekatan yang tidak lagi parsial, melainkan terpadu dengan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama. Ghela nafas panjang.

~ Advertisements ~

Ia menilai bahwa ekosistem penanganan sampah darilevelbawah harus dilakukannscepat mungkin kalau persoalan sampah bisa semakain dikendalikan.

“Semua harus punya komitmen, sermua harus satu tujuan dan berpikir bahwa menyelesaikan persoalan sampah adalah tugas bersama,” tutupnya sembari menghembuskan nafas.

~ Advertisements ~

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog