Menuju Banjarbaru Menjadi Kota Kreatif, Kecamatan Cempaka Disiapkan Jadi Living Museum

by
14 Januari 2026
Kegiatan FGD pemetaan potensi wisata dan budaya di Cempaka, untuk kesiapan Cempaka sebagai Living Museum. (Foto : KEK/newsway.co.id)

NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU – Kota Banjarbaru terus bergerak dalam rangka menuju kota kreatif Indonesia, melalui Komite Ekonomi Kreatif (KEK), setelah melakukan Launching Peta Jalan Mbaroh Aero Kalcer 2026, KEK melaksanakan FGD di Kecamatan Cempaka, Rabu (14/01/2026).

Kecamatan Cempaka diproyeksilan menjadi Living Museum yang dalam acara FGD dilakukan pemetaan potensi wisata dan budaya yang ada di Cempaka.

Camat Cempaka Hendrawan Maulana yang membuka kegiatan itu menegaskan bahwa setiap kelurahan di Cempaka memiliki kekhasan yang dapat menjadi kekuatan Living Museum.

“Cempaka punya identitas kuat, mulai dari pendulangan intan hingga produk budaya seperti sasirangan. Semua ini adalah aset yang hidup dan harus dirawat bersama,” ujarnya.

Ia menyampaikan dukungan penuh seluruh lurah dan Pokdarwis terhadap inisiatif KEK Kota Banjarbaru untuk memunculkan potensi Cempaka dalam format Living Museum.

Usai FGD, peserta dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan untuk melihat langsung aktivitas warga di Kelurahan Cempaka, Sungai Tiung, Bangkal, dan Palam sebagai bagian dari proses pemetaan awal.

Ketua Harian KEK Kota Banjarbaru Narwanto menjelaskan bahwa Living Museum bukanlah museum dalam pengertian konvensional.

“Living Museum adalah kehidupan itu sendiri. Tradisi yang masih berjalan, bentang alam, cerita masyarakat, dan manusianya menjadi pameran utama,” kata Narwanto.

Menurut dia, Cempaka memiliki narasi kuat yang saling terhubung, mulai dari sejarah pendulangan intan, tradisi sungai, nilai religius, hingga ketangguhan masyarakatnya.

“Pupur Bangkal, misalnya, itu bukan sekadar produk budaya, tapi cerita dan pengetahuan lokal yang ingin kami gali dan hidupkan kembali,” ujarnya.

Dalam FGD tersebut, setiap kelurahan diminta menyiapkan data awal potensi wilayah berdasarkan tujuh aset utama, yakni aset spiritual, sejarah, alam, manusia, budaya, lingkungan, dan aset lainnya. Pendekatan ini menegaskan bahwa aset bukan hanya benda mati, melainkan juga cerita, nilai, dan manusia.

Proses pemetaan dilakukan secara partisipatif dengan menggali pertanyaan pemantik, seperti tempat yang paling sering dikunjungi orang luar, cerita leluhur yang hampir hilang, serta tokoh-tokoh yang menyimpan pengetahuan sejarah pendulangan intan. Hasil pemetaan kemudian divalidasi melalui survei lapangan untuk memastikan kedalaman dan akurasi data.

Narwanto menambahkan, pengembangan Living Museum Cempaka sejalan dengan visi Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby yang menaruh perhatian besar pada penguatan ekonomi kreatif.

“Ibu Wali Kota sangat tertarik menjadikan Banjarbaru sebagai kota kreatif. Karena itu, peta jalan ekonomi kreatif harus disiapkan secara serius,” katanya.

KEK Kota Banjarbaru menargetkan penguatan ekosistem ekonomi kreatif pada 2026, penetapan Banjarbaru sebagai kota kreatif nasional pada 2027, serta persiapan jejaring UNESCO Creative Cities pada 2028.

“Targetnya, 2029 Banjarbaru masuk dalam jaringan kota kreatif dunia. Apalagi Banjarbaru direncanakan menjadi tuan rumah ICCF 2027,” ujar Narwanto.

Sebagai pembanding, Narwanto menyebut kawasan Karangasem di Bali yang berhasil memposisikan diri sebagai Living Museum, di mana kehidupan masyarakat menjadi daya tarik utama wisata budaya.

“Cempaka punya potensi serupa, dengan karakter dan cerita yang khas Banjarbaru,” katanya.

Dengan pendekatan Living Museum, Cempaka diharapkan tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga ruang belajar, ruang hidup, dan sumber kesejahteraan baru bagi masyarakat berbasis budaya dan ekonomi kreatif.(nw)

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog