NEWSWAY.CO.ID, MARTAPURA – Pemerintah Kabupaten Banjar bergerak cepat merespons dampak banjir terhadap sektor pertanian, khususnya tanaman padi yang saat ini masih berada pada fase awal pertumbuhan.
Melalui Dinas Pertanian, pendataan dan inventarisasi kerugian petani terus dilakukan sebagai dasar penyaluran bantuan serta langkah pemulihan pascabanjir.
Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Retno Sri Murwani mengatakan, fokus pendataan mencakup luas lahan terdampak, jumlah benih yang telah ditebar, hingga tingkat kerusakan tanaman akibat genangan air.
“Saat ini kami masih melakukan inventarisasi kerugian petani, mulai dari benih yang sudah disemai hingga tanaman di lahan. Data ini menjadi dasar untuk menentukan jenis dan skema bantuan yang akan disalurkan,” katanya, Jumat (30/01/2026).
Ia menjelaskan, bantuan bagi petani terdampak akan diupayakan melalui berbagai sumber pendanaan, baik dari APBD Kabupaten Banjar, APBD Provinsi Kalimantan Selatan, hingga dukungan Pemerintah Pusat melalui APBN. Selain itu, pemerintah juga mendorong pemanfaatan asuransi pertanian dan program nasional sebagai bagian dari strategi pemulihan.
Kabupaten Banjar sendiri memiliki peran strategis sebagai salah satu penyangga pangan utama di Kalimantan Selatan. Daerah ini menempati peringkat kedua penghasil padi terbesar setelah Kabupaten Barito Kuala, disusul Tanah Laut dan Tapin.
“Posisi Banjar sangat penting dalam menjaga ketahanan pangan Kalsel. Karena itu, meskipun banjir terjadi hampir setiap tahun, produksi padi harus tetap kita lindungi,” jelas Retno.
Meski sejumlah wilayah terdampak, terutama di daerah rendah seperti Kecamatan Sungai Tabuk, Retno menyebutkan secara umum tingkat kerusakan tanaman padi tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun 2025. Tahun lalu, luas puso tercatat mencapai sekitar 3.000 hektare, sementara tahun ini berhasil ditekan.
Berdasarkan data sementara, benih padi yang terpapar banjir tercatat sebanyak 6.780 kilogram, dengan 6.445 kilogram di antaranya dinyatakan puso. Pada kategori persemaian (lacakan), dari 250 kilogram benih yang terdampak, sekitar 147 kilogram mengalami gagal tumbuh. Sementara untuk tanaman di lahan, dari 1.563 hektare yang terpapar, sekitar 1.297 hektare masuk kategori puso.
“Ini menunjukkan bahwa meskipun banjir masih terjadi, dampaknya bisa ditekan melalui kesiapan petani dan langkah mitigasi yang lebih baik,” ucapnya.
Untuk mempercepat pemulihan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah skema penanganan. Salah satunya melalui Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP), yang proses klaimnya sudah mulai berjalan di beberapa wilayah, seperti Martapura Barat seluas 90 hektare dan Martapura Timur sekitar 24 hektare.
Selain itu bantuan benih akan disalurkan kepada petani yang lahannya mengalami puso, disertai pelaksanaan tanam ulang (replanting) setelah air surut dan kondisi lahan dinyatakan siap tanam.
“Begitu air surut dan lahan memungkinkan, kami akan dorong percepatan tanam ulang agar musim tanam tidak tertinggal terlalu jauh,” jelas Retno.
Salah satu faktor utama yang membuat angka kerusakan tahun ini lebih rendah adalah meningkatnya kesiapan petani dalam menghadapi perubahan iklim. Hal ini didorong melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI) yang melibatkan sinergi antara Dinas Pertanian, Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), dan BMKG.
Petani didorong untuk memahami pola iklim, membaca prediksi cuaca, serta menyesuaikan waktu tanam agar tidak bertepatan dengan puncak banjir.
“Petani sekarang lebih paham kapan harus menunda tanam dan kapan harus mempercepat. Ini sangat membantu mengurangi risiko kerugian,” sebutnya.
Selain itu karakteristik lahan pertanian di Kabupaten Banjar yang didominasi rawa lebak juga menuntut pengelolaan tata air yang tepat. Pemerintah menekankan pentingnya manajemen tinggi-rendah genangan, pengendalian hama tikus dan penyakit tungro, serta penggunaan bibit unggul dan pemupukan berimbang.
Retno mengungkapkan, banjir yang terjadi kali ini bersifat genangan yang naik dan turun secara perlahan, bukan banjir bandang yang membawa material perusak. Kondisi tersebut memungkinkan tanaman padi tetap bertahan selama tidak terendam total dalam waktu lama.
“Secara teknis, padi di fase vegetatif masih aman tergenang sekitar satu minggu. Yang paling rawan justru tanaman yang baru dipindah tanam, karena akarnya belum kuat,” ungkapnya.
Saat ini tanaman padi di Kabupaten Banjar masih berada pada fase vegetatif, dengan panen raya diperkirakan berlangsung pada Juni hingga Juli mendatang. Pemerintah optimistis, melalui koordinasi lintas sektor dan strategi mitigasi yang tepat, dampak banjir terhadap produksi pertanian dapat ditekan, sekaligus menjaga ketahanan pangan daerah tetap stabil.
