NEWSWAY.CO.ID, MARTAPURA – PT Palmina menyatakan keprihatinan atas bencana banjir yang melanda sejumlah desa di wilayah ring satu perusahaan. Hal tersebut disampaikan Direktur Operasional PT Palmina, Leksono Budi Santoso dalam pertemuan bersama DPRD, pemerintah daerah dan masyarakat, Kamis (22/01/2026).
Leksono menyebutkan, untuk jangka pendek, perusahaan telah menyalurkan bantuan kepada desa-desa ring satu dan berencana memperluasnya ke wilayah ring dua. Selain itu, dalam satu pekan terakhir perusahaan juga telah mengurangi operasional pompa hingga 47 persen guna membantu penurunan ketinggian air.
“Data operasional pompa harian sudah kami bagikan kepada masyarakat sekitar agar bisa dipantau secara terbuka. Operator dan karyawan kami juga merupakan warga setempat,” sebutnya.
Untuk jangka menengah, PT Palmina berkomitmen duduk bersama pemerintah daerah dan instansi terkait guna menyusun program Corporate Social Responsibility (CSR) yang tepat, khususnya dalam penerapan Water Management System (WMS).
Menurutnya, penerapan WMS harus berbasis hasil survei lapangan agar sesuai dengan kondisi riil desa-desa terdampak.
“Kami siap membantu dalam bentuk alat, biaya, tenaga kerja, desain, hingga teknologi. Tapi tidak boleh asal, harus dikaji bersama agar tidak menimbulkan dampak baru,” ujarnya.
Leksono menjelaskan, pembangunan WMS dinilai lebih efektif dilakukan saat musim kemarau. Oleh karena itu, perusahaan menargetkan pelaksanaan proyek pada Mei hingga Oktober 2026, dengan uji coba saat musim hujan di akhir tahun.
Terkait proyek berskala besar atau jangka panjang seperti normalisasi sungai dan pembangunan tanggul utama, PT Palmina menegaskan akan mengikuti arahan pemerintah, mengingat proyek tersebut melibatkan banyak pihak dan kewenangan lintas sektor.
Pentingnya keterlibatan masyarakat, tokoh desa, instansi teknis dan pemerintah daerah untuk meminimalkan dampak lingkungan.
“Kami tidak ingin bekerja sendiri. Semua harus terlibat agar benar-benar tepat sasaran,” jelasnya.
Leksono mengakui masih terdapat kekurangan dalam dokumen lingkungan, termasuk detail penanganan wilayah rawa dalam dokumen WMS. Namun hal tersebut telah ditindaklanjuti melalui adendum AMDAL dan dinyatakan siap untuk diaudit.
“Kalau ada kekurangan, kami perbaiki. Kami terbuka dan siap diaudit. Investasi kami besar, jadi tidak mungkin kami main-main dengan aturan,” uca.
Saat ini Desa yang masuk batas wilayah dampak langsung meliputi Galam Rabah, Makmur Karya dan Alalak Padang. Namun perusahaan telah mengumpulkan perwakilan dari sembilan desa, dan menyatakan kesiapan membantu tujuh desa lainnya di Kabupaten Banjar.
Untuk wilayah ring dua, PT Palmina juga berencana menggandeng perusahaan anggota Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalsel agar penanganan dilakukan secara bersama dan selaras di tingkat kecamatan hingga kabupaten.
“Kami ingin membuktikan bahwa kolaborasi ini bisa berjalan dan hasilnya bisa dirasakan masyarakat. Targetnya, hasil nyata bisa dilihat pada 2026,” pungkas Leksono.(nw)
