NEWSWAY.CO.ID, JAWA TENGAH — Halte Sungai Desa Papringan, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas (Dermaga Apung Papringan) menjadi pusat perhatian dengan digelarnya kegiatan Restoking Ikan Sungai Serayu sebagai bagian dari upaya besar penyelamatan dan pelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu, baik di wilayah hulu maupun hilir, Kamis (04/12/2025).
Dalam.kesempatan itu, Bupati Banyumas Drs. Sadewo Tri Lastiono menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan produksi pertanian dan perikanan, termasuk melalui bantuan alsintan dan penebaran benih ikan. Ia juga mengapresiasi kolaborasi lintas lembaga.
“Ini menjadi tanggungjawab lintas lembaga seperti Dinas Perikanan Kabupaten Banyumas, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Kabupaten Banyumas. Selaian itu juga lembaga lain dan peran serta masyarakat,” jelasnya.
Bupati juga mengatakan bahw kegiatan ya g dilakukan adalah harapan untuk masa depan DAS Serayu.
“Melalui kegiatan Restocking DAS Serayu, para pemangku kepentingan berharap upaya ini tidak hanya dipandang sebagai kewajiban seremonial, namun sebagai strategi jangka panjang. Yaitu memulihkan populasi ikan asli Sungai Serayu, memperbaiki kualitas ekosistem perairan, meningkatkan keberlanjutan sumber daya perikanan dan mendorong ekonomi masyarakat melalui kegiatan berwawasan lingkungan,” tegasnya.
Bupati juga mengatakan kegiatan tersebut diyakini akan berdampak pada peningkatan keanekaragaman hayati, keseimbangan ekologi, serta produktivitas perikanan di wilayah hilir DAS Serayu.
“DAS Serayu merupakan salah satu sumber daya air terpenting di Jawa Tengah yang memasok kebutuhan masyarakat di Banjarnegara, Banyumas, dan Purbalingga. Sungai ini berperan vital bagi sektor pertanian, perikanan, serta kebutuhan air bersih penduduk, sekaligus menjadi pemasok utama air Waduk Mrica—bendungan serbaguna yang dikelola PT PLN Indonesia Power UPB Mrica dengan kapasitas PLTA mencapai 184,5 MW,” ungkapnya.
Ancaman Sedimentasi dan Kerusakan Lingkungan
Dalam beberapa dekade terakhir, menurutnya DAS Serayu menghadapi tantangan berat, sedimentasi, erosi, perubahan tata guna lahan, serta penurunan kualitas air menjadi persoalan yang terus meningkat.
“Data tahun 2021 mencatat volume sedimen yang mengendap di Waduk Mrica mencapai 2,89 juta m³, dengan Sungai Serayu menyumbang hingga 69,53 persen dari total sedimen,” tambah Sadewo.
Sadewo menegaskan jika sedimentasi semakin parah dikhawatirkan mengganggu kinerja turbin PLTA, yang berpotensi menurunkan produksi listrik secara drastis.
Berbagai upaya teknis seperti dredging, flushing, pembangunan cek dam, hingga pemasangan underwater sill telah dilakukan, namun belum memberikan hasil optimal.
“Selain faktor teknis, rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan di sekitar DAS turut memperburuk kondisi ekosistem sungai,” ungkapnya.
Restocking: Upaya Konservasi yang Libatkan Banyak Pihak
Sebagai langkah nyata persoalan yang disampaikan bupati, Perum Jasa Tirta I bersama PT PLN Indonesia Power UPB Mrica melaksanakan kegiatan restocking atau penebaran bibit ikan di wilayah hilir Sungai Serayu.
Program ini menjadi bagian dari rangkaian Konservasi DAS Serayu Hulu dan Hilir yang bertujuan, melestarikan ekosistem DAS Serayu, memberikan edukasi dan percontohan kepada generasi mendatang mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
Penebaran bibit ikan dilakukan di kawasan Halte Sungai Desa Papringan, dengan sasaran meningkatkan populasi ikan lokal dan memperbaiki kualitas perairan Sungai Serayu.
Adapun kontribusi CSR dari PT Indonesia Power (PLN) dan Perum Jasa Tirta I berupa penebaran: Ikan Tawes: 50.000 ekor, ikan Nilem: 50.000 ekor, udang: 15.000 ekor dan ikan Sidat 1000 ekor.(nw)
Reporter : Suho
