NEWSWAY.CO.ID, MARTAPURA — Penanganan banjir di Kabupaten Banjar terus dimaksimalkan oleh pemerintah daerah bersama berbagai pihak. Hingga data terbaru hari ini, bencana banjir telah berdampak pada 9 kecamatan, dengan 121 desa dan kelurahan terdampak. Jumlah warga terdampak mencapai 42.082 kepala keluarga atau sekitar 118.151 jiwa serta 13.732 rumah terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Wasis Nugraha mengatakan, tim telah bergerak penuh untuk penanggulangan bencana, mulai dari pendataan, distribusi bantuan, hingga koordinasi lintas sektor.
“Tim inti sudah bekerja dengan skema penyaluran bantuan logistik dan konsumsi secara terukur, agar seluruh warga terdampak bisa terlayani,” katanya.
Untuk pemenuhan kebutuhan pangan, dapur umum masih menjadi tulang punggung layanan darurat. Saat ini dapur umum aktif di Kecamatan Sungai Tabuk, Martapura Barat, serta Kantor Dinas Sosial P3AP2KB Kabupaten Banjar yang melayani wilayah Martapura dan sekitarnya. Ketiganya menjadi pusat suplai makanan bagi pengungsi di berbagai titik.
Selain makanan siap saji, BPBD Banjar juga menyalurkan paket sembako secara rutin. Bantuan tersebut berisi beras, gula, mi instan dan ikan kaleng, yang didistribusikan langsung oleh Bupati Banjar bersama jajaran SKPD dan unsur terkait.
“Jika eskalasi banjir meningkat, kami mendorong kecamatan dan desa untuk membuka dapur umum tambahan. Logistiknya akan kami bantu,” jelas Wasis.
Masalah air bersih turut menjadi perhatian. Banyak sumur warga terendam banjir, sehingga BPBD mengerahkan tandon air dan armada tangki air ke sejumlah wilayah, termasuk Martapura Barat. Seluruh permintaan air bersih yang masuk pada hari ini telah berhasil dipenuhi.
Wasis juga mengakui adanya evaluasi pola bantuan, khususnya terkait makanan siap saji yang berisiko basi akibat jarak distribusi yang jauh. Untuk wilayah tertentu, BPBD kini menyiapkan alternatif berupa bahan mentah agar warga bisa memasak sendiri sesuai kondisi lapangan.
“Skema bantuan kami sesuaikan situasi. Yang penting kebutuhan warga tetap terpenuhi,” ucapnya.
Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar, Yudi Andrea menjelaskan, banjir merupakan karakteristik alam wilayah Banjar yang berada di sistem sungai besar, seperti Riam Kiwa dan Sungai Martapura, sehingga aliran air melambat dan mudah meluap saat hujan intensitas tinggi.
“Ini bukan kejadian baru. Dari dulu masyarakat sudah hidup berdampingan dengan banjir. Tantangannya adalah bagaimana dampaknya bisa kita minimalkan,” jelasnya.
Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah daerah mendorong pembangunan Bendungan Riam Kiwa yang direncanakan memasuki tahap pembebasan lahan pada 2026. Selain itu, koordinasi lintas daerah dengan Banjarmasin dan Banjarbaru terus diperkuat untuk mempercepat aliran dan resapan air.
Terkait logistik, Yudi menegaskan, Kabupaten Banjar tidak bekerja sendiri. Dukungan datang dari pemerintah provinsi hingga pusat, termasuk melalui anggaran kebencanaan dan bantuan lintas sektor.
“Ini gotong royong dengan melibatkan Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga organisasi kemasyarakatan kami ajak terlibat. Kami juga membuka ruang partisipasi melalui surat imbauan resmi,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Banjar berharap sinergi seluruh pihak, termasuk peran aktif media, dapat membantu mempercepat penanganan banjir serta memastikan tidak ada warga terdampak yang terlewat dari bantuan.(nw)
