Ketua Pembina TP Posyandu Buka Rapat Percepatan Implementasi Posyandu Enam SPM Terintegrasi

by
30 Desember 2025
Ketua Pembina TP Posyandu Kota Banjarbaru, H Riyandi Hidayat foto bersama dengan peserta kegiatan dan pemateri.(Foto : newsway.co.id)

NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU – Pemerintah Kota Banjarbaru melalui Tim Penggerak Posyandu menggelar Rapat Percepatan Pelaksanaan Posyandu Enam Bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebagai upaya memperkuat transformasi pelayanan dasar yang terintegrasi bagi masyarakat, di aula Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (30/12/2025).

Ketua Pembina Posyandu Kota Banjarbaru, H. Riyandi Hidayat, saat membuka kegiatan menegaskan bahwa Posyandu kini tidak lagi hanya berfokus pada pelayanan kesehatan semata.

Menurutnya Posyandu telah bertransformasi menjadi pusat layanan terpadu yang mencakup enam bidang SPM, yakni pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, ketenteraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat (linmas), dan sosial.

“Posyandu adalah ujung tombak pelayanan dasar di masyarakat. Transformasi menuju Posyandu 6 SPM merupakan amanat kebijakan nasional yang harus kita jalankan secara sungguh-sungguh,” ujarnya.

~ Advertisements ~

Ia menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Banjarbaru sejalan dengan kebijakan nasional tengah menggalakkan Gerakan Aktifkan Posyandu Kota Banjarbaru Tahun 2025, guna mendukung kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

“Untuk itu diperlukan komitmen kuat dari seluruh elemen, termasuk kader Posyandu dan Tim Pembina di semua tingkatan,” tegasnya.

Riyandi juga menegaskan bahwa sejumlah kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dari eselon II, III, dan IV telah tergabung sebagai anggota Tim Pembina Posyandu. Hal ini menjadi bukti dukungan lintas sektor dalam memenuhi enam SPM yang diamanatkan oleh program nasional.

“Posyandu harus mendapatkan dukungan penuh, baik dari sisi kebijakan, anggaran, maupun fasilitas. Kita tidak hanya mendukung secara administratif, tetapi juga memastikan operasional Posyandu berjalan optimal, termasuk dalam penanganan stunting dan peningkatan gizi masyarakat,” jelasnya.

Sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, menurutnya Banjarbaru dinilai memiliki tantangan sekaligus peluang besar untuk mengembangkan Posyandu yang lebih kreatif dan inovatif.

Prestasi Provinsi Kalimantan Selatan yang pernah meraih peringkat pertama nasional dalam pengelolaan Posyandu menjadi motivasi untuk terus mempertahankan dan meningkatkan kualitas layanan di Kota Banjarbaru.

Untuk menunjang inovasi Posyandu, Riyandi juga mengumumkan rencana peluncuran buku ilmiah berjudul “Posyandu Tanpa Dinding”, hasil inovasi Tim Pembina Posyandu Kota Banjarbaru.

Buku ini digawangi oleh Prof dr Husaini, yang juga berperan sebagai staf ahli Tim Pembina Posyandu di bidang kesehatan dan pendidikan. Inovasi ini menjadi bagian dari atensi Ibu Wali Kota Banjarbaru dalam meningkatkan kualitas pelayanan Posyandu 6 SPM. Arah kebijakan dan teknis pelaksanaan akan terus kita bahas dan matangkan bersama,” tambahnya.

Ia berharap sinergi antara Tim Pembina dan kader Posyandu dari tingkat kota hingga kelurahan dapat terus diperkuat.

“Dengan tim Posyandu yang kuat dan pembina yang solid, Posyandu Kota Banjarbaru optimistis mampu mewujudkan Posyandu yang elok, maju, adil, dan sejahtera bagi seluruh masyarakat,” pungkasnya.

Prof Husaini saat memberikan pemaparan di depan para peserta. (Foto : newsway.co.id)

Dalam pemaparannya, Prof. Husaini menegaskan bahwa Posyandu kini telah bertransformasi dari layanan sektoral menjadi simpul integrasi enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat.

“Posyandu hari ini tidak lagi berdiri dalam satu bidang layanan. Ia telah berevolusi menjadi simpul integrasi enam SPM yang menuntut kesiapan kelembagaan, kader, dan sistem tindak lanjut yang jelas,” ujar Prof. Husaini.

Ia mengungkapkan, di sejumlah kabupaten dan kota masih ditemukan pola lama, di mana kader posyandu hanya bekerja pada satu bidang tertentu. Fenomena ini ia sebut sebagai “melatah sektoral”, yang justru menghambat integrasi layanan dasar.

“Masih ada daerah yang kadernya hanya fokus di satu bidang. Padahal, pendekatan SPM menuntut kerja lintas sektor. Di sinilah Banjarbaru menunjukkan inovasi yang patut diapresiasi,” jelasnya.

Kota Banjarbaru, menurut Prof. Husaini, telah mengambil langkah progresif dengan mengintegrasikan lima bidang SPM lainnya melalui sistem hotline laporan 24 jam yang telah disosialisasikan kepada seluruh pemangku kepentingan.

“Lima bidang SPM lainnya di Banjarbaru dihubungkan melalui hotline 24 jam. Setiap laporan masyarakat tercatat, dan konsekuensinya jelas: harus ditindaklanjuti,” tegasnya.(nw)

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog