NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU – Wali Kota Banjarbaru, Hj Erna Lisa Halaby terus menekankan pengelolaan sampah maksimal dengan memunculkan berbagai inovasi ditingkat RT, Kelurahan sampai ke Kecamatan.
Hal itu juga ditekankan saat Rakor bersama Camat dan Lurah beberapa waktu lalu di Kecamatan Banjarbaru Selatan, hal itu membuktikan bahwa komitmen wali kota dalam menangani sampah sangat serius.

“Bagaimana para lurah harus terus berinovasi dalam menagani sambah untuk menekan pembuangan nsampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA),” tegasnya.
Dorongan wali kota tersebut ternyata sudah banyak dilakukan ditingkat rumah tangga dan RT, sebut saja upaya mengatasi persoalan sampah dari tingkat rumah sudah berjalan.

Di Kelurahan Syamsudin Noor, gerakan itu bukan hal baru. Sejak 2014, warga RT 25 RW 05 Komplek Citra Raya Angkasa telah memulai langkah konkret melalui pendirian Bank Sampah Citra Angkasa.
Setiap Kamis, termasuk pada Kamis (2/4/2026), bank sampah ini membuka layanan mulai pukul 09.00 hingga 11.00 Wita.


Menggunakan halaman seadanya para warga menjadikan tempat tersebut lokasi penimbangan sampah non organik.

Warga berdatangan membawa aneka sampah terpilah dari rumah masing-masing. Kardus, kertas warna bekas bungkus obat nyamuk dan kotak susu, rak telur, kertas HVS, gelas dan botol air mineral, peralatan dapur berbahan plastik, kaleng, besi, seng, hingga barang elektronik rusak seperti kipas angin dan mesin air, ditata rapi untuk ditimbang.

Bahkan minyak jelantah pun menjadi bagian dari tabungan warga sebagai upaya pengelolaan sampah rumah tangga..
Ketua Bank Sampah Citra Angkasa, Dra. Supartini, mengatakan bank sampah yang dipimpinnya telah beroperasi selama 12 tahun dan kini memiliki 45 nasabah aktif, mayoritas warga setempat. Konsistensi menjadi kunci bertahannya gerakan ini.

“Sejak 2014 kami berjalan. Alhamdulillah sampai sekarang masih rutin. Warga sudah terbiasa memilah dan menabung sampah,” ujarnya.
Dalam operasionalnya, bank sampah menerapkan sejumlah ketentuan sederhana namun penting. Gelas dan botol air mineral yang disetorkan harus dalam kondisi bersih tanpa sisa air.

Minyak jelantah wajib dimasukkan ke dalam botol ukuran satu atau dua liter dan tidak dicampur dengan jenis sampah lain untuk menjaga kebersihan dan memudahkan proses penanganan.
Menurut Supartini, edukasi soal pemilahan menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan bank sampah. Ia meyakini, perubahan perilaku warga dimulai dari dapur rumah masing-masing. Dengan memilah sejak awal, beban sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dapat ditekan secara signifikan.

Gerakan ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Banjarbaru. Supartini mengapresiasi Wali Kota Banjarbaru, Hj Erna Lisa Halaby, yang dinilai konsisten mendorong kesadaran pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga.
“Kami merasa diperhatikan. Ibu Wali Kota sangat mendukung dan terus mendorong warga agar mengelola sampah dari rumah. Itu menjadi semangat bagi kami untuk terus berjalan,” katanya.
Meski demikian, ia berharap dukungan lebih lanjut dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), khususnya terkait penambahan fasilitas pendukung. Salah satu kebutuhan mendesak adalah atap penutup pada bagian bank sampah yang masih terbuka agar sampah kertas tidak rusak saat hujan. Selain itu, warga juga membutuhkan wadah atau tempat pemilahan sampah di rumah untuk memisahkan sampah organik dan anorganik secara lebih efektif.
Bagi warga RT 25 RW 05, Bank Sampah Citra Angkasa adalah ruang belajar bersama, tidak sedikit anak-anak melihat orang tuanya memilah sampah, menurut Supartini, gerakan ini bukan sekadar aktivitas menabung sampah, melainkan investasi budaya bersih untuk generasi mendatang.
“Budayakan sampah menjadi berkah, anak-anak melihat agar paham tentang nilai ekonomis dari menabung sampah. Kalau kita mau disiplin dari rumah, insyaallah lingkungan bersih dan manfaatnya kembali ke kita juga,” pungkas Supartini.(nw)
