Islam Tidak Pernah Meminta Orang Jawa Berhenti Menjadi Jawa

16 Juli 2026
Penulis berbaju putih dalam satu momen diskusi. (Foto ; Dok penulis/newsway.co.id)

Oleh: Suho

Pada saat saya berada salah satu Rumah Bedogol (Tokoh Adat) Desa Pekuncen Jatilawang, menemani Mas Kabid yang mengabdi di salahsatu Instansi pemerintahan, di sambut baik oleh Kang Darno, salah satu Anak Putu “Wangsa Banokeling”, pakaiannya sederhana.

Ngobrol ngalor ngidul, disuguhi wedang kopi “Clebek” kesukaan saya.

Ketika adzan asar berkumandang, beliau perlahan ia berdiri, sembari tersenyum. “Mas, solat sit.” Beliau mengingatkan saya.

Saya perhatikan Tak ada jubah Arab. Tak ada sorban panjang. Tak ada bahasa Arab dalam percakapan sehari-harinya. Yang ada hanyalah bahasa Lokal, senyum yang hangat, dan  menunjukan tempat peribadatan (pesolatan)

Di situlah saya berpikir. Bukankah beliau sedang menjadi Muslim yang baik, tanpa harus berhenti menjadi orang Jawa?

Belakangan ini, seolah-olah muncul anggapan bahwa semakin Arab penampilan seseorang, semakin Islami pula dirinya. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan ukuran seperti itu.

Islam mengajarkan tauhid, bukan etnis. Islam mengajarkan akhlak, bukan asal-usul. Islam mengajarkan ketakwaan, bukan pakaian dari negeri mana. Al-Qur’an bahkan mengingatkan:

“Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Artinya, keberadaan suku bukan kesalahan yang harus dihapus. Ia adalah kehendak Allah yang harus dijaga dengan rasa syukur.

Sejarahnya orang Jawa menerima Islam bukan dengan pedang. Islam hadir melalui akhlak para ulama, melalui perdagangan yang jujur, melalui nasihat yang lembut, dan melalui keteladanan.

Yang berubah adalah keyakinannya. Yang berubah adalah cara menyembah Tuhannya. Yang berubah adalah akhlaknya. Tetapi bahasa Lokalnya tetap hidup. Saling asah, saling asih, saling asuh tetap menjadi napas kehidupan.

Gotong royong tetap menjadi kebiasaan. Menghormati orang tua tetap menjadi kehormatan. Menyayangi tamu tetap menjadi adat. Islam tidak menghapus semua itu. Islam justru menyempurnakannya.

Karena itu, mencintai Tanah Kelahiran (Bhumi Pertiwi) bukan berarti kembali kepada kepercayaan lama. Sebaliknya, menjadi Muslim bukan berarti harus meninggalkan jati diri sebagai Wong  Jawa.

Kita bisa salat dengan khusyuk, tetapi tetap berbicara dalam bahasa Jawa kepada ibu. Kita bisa membaca Al-Qur’an dengan fasih, tetapi tetap bangga memakai pakaian adat saat menghadiri acara.

Kita bisa mencintai Makkah sebagai kiblat ibadah, sekaligus mencintai Punden, Tabet, atau Penembahan sebagai tanah tempat kita dilahirkan. Dua-duanya tidak perlu dipertentangkan. Karena Islam itu agama yang relevan untuk semua suku dan daerah.

Kalau hari ini ada gerakan untuk merawat bahasa Lokal, menghidupkan kembali sastra Jawa, sastra Sunda, dan sastra suku lainnya memperkenalkan filosofi, serta Kearifan Lokal kepada anak-anak, itu bukan berarti menjauh dari Islam. Justru masyarakat yang mengenal akar budayanya biasanya lebih percaya diri menghadapi dunia.

Bangsa yang melupakan leluhurnya sering kali kehilangan arah. Akhirnya malah membanggakan leluhur orang lain. Tetapi bangsa yang memuliakan budayanya, sambil tetap berpegang teguh pada ajaran agamanya, akan tumbuh menjadi bangsa yang kokoh.

Islam tidak pernah meminta orang Jawa berhenti menjadi Jawa, orang Sunda berhenti menjadi Sunda, atau Suku-Suku lainya yang ada di Negara Kesatuan Republik ini. Islam hanya meminta orang Jawa, Sunda, dan Suku-Suku lainnya meninggalkan kemusyrikan, meninggalkan kezaliman, meninggalkan kebohongan, dan menggantinya dengan tauhid, kejujuran, keadilan, serta kasih sayang.

Suku_nya tetap. Islamnya semakin kuat.

Dan ketika keduanya berjalan beriringan, lahirlah masyarakat yang santun, religius, sekaligus berbudaya. Bukankah itu yang selama berabad-abad menjadi wajah Nusantara?

Sang Proklamator punya petuah yang indah:

“Kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab. Kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini,”

Petikan pidato Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno kepada rakyat dan bangsa Indonesia dalam salah satu upaya menjaga dan melestarikan budaya Nusantara.

“Jangan menjadi pohon yang tinggi tetapi tidak memberi keteduhan. Jadilah pohon yang akarnya kokoh, dahannya menaungi, dan buahnya memberi manfaat bagi sesama”.

Mungkin di situlah letak kebijaksanaannya. Akarnya adalah Budaya & Kearifan Lokalnya. Batangnya adalah Indonesia. Buahnya adalah Islam yang membawa rahmat bagi siapa saja.(*)

Penulis adaslah :

– Ketua Sanggar KAMULYAN Sinduredja

– Divisi Pegiat Desa Komite Ekonomi Kreatif Jawa Tengah

– Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Banyumas

– Bidang Kebudayaan LPM Provinsi Jawa Tengah

– Jejaring Indonesia Creative Cities Network (ICCN)

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog