Kabut Asap Belum Terkendali, Pemko Banjarbaru  Ambil Langkah Ubah Jam Belajar Siswa Sekolah

22 Agustus 2026
Sekretaris Kota Banjarbaru, Sirajoni saat memimpin rapat. (Foto : MC/newsway.co.id)

NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU – Kondisi Kota Banjarbaru akhir-akhir ini cukup memprihatinkan, bagaimana tidak kabut asap sekan tidak pernah hilang sepanjang 24 jam di sejumlah wilayah.

Banyak aktivitas terganggu, seperti penerbangan, aktivitas jalan rayahingga sektor  pendidikan, melihat kondisai tersebut pemerintah Kota Banjarbaru mengambil sejumlah langkah, salah satunya mengubah jam masuk sekolah menjadi pukul 09.00 WITA.

Kebijakan tersebut dibahas dalam rapat di Ruang Tamu Utama Wali Kota Banjarbaru, Kamis (20/8/2026), dipimpin Sekretaris Daerah Kota Banjarbaru, Sirajoni, atas arahan Wali Kota Banjarbaru, Hj Erna Lisa Halaby.

Jam pembelajaran yang sebelumnya dimulai pukul 07.30 WITA diubah menjadi pukul 09.00 WITA, dengan waktu berakhir menyesuaikan jenjang pendidikan. Kebijakan ini berlaku bagi SD dan SMP, baik negeri maupun swasta, serta satuan pendidikan kesetaraan.

Selama kabut asap masih terjadi, sekolah diminta meniadakan aktivitas di luar ruangan dan siswa diwajibkan menggunakan masker.

Sirajoni mengatakan dampak Karhutla tidak hanya menyangkut pendidikan, tetapi juga mulai menyentuh transportasi, ekonomi dan kondisi masyarakat.

“Yang perlu kita antisipasi dari Karhutla ini bukan hanya kegiatan sekolah, tetapi juga dampaknya terhadap ekonomi, transportasi dan pendidikan,” ujarnya.

Untuk menjaga keamanan lalu lintas, petugas Dinas Perhubungan akan disiagakan di sejumlah jalur menuju sekolah yang terdampak kabut asap, terutama ketika jarak pandang terbatas.

Sementara itu, pemerintah juga mewaspadai dampak kekeringan yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan, untuk itu BPBD melalui unsur pemadam kebakaran disiapkan membantu penyediaan air bersih bagi masyarakat yang terdampak.

Dari sisi kesehatan, peningkatan kasus ISPA turut menjadi perhatian. Data Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru mencatat 21.323 kasus ISPA secara kumulatif sejak Januari hingga Juli 2026. Pada Minggu Epidemiologi ke-29 tercatat 879 kasus dan meningkat menjadi 1.099 kasus pada minggu berikutnya.

Sirajoni mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.

“Kita akan menghadapi kondisi ini dalam dua sampai tiga bulan ke depan. Karena itu kita perlu mengantisipasi apa yang mungkin terjadi, termasuk dampak kekeringan dan Karhutla terhadap masyarakat,” pungkasnya.(nw)

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog