NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU – Sebanyak 25 Perwira Dikbang Polri terdiri dari 8 personel Sespimti, 10 Sespimmen, dan 7 peserta SPPK Polri ikut terjun ke lapangan memadamkan api di kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) jalan baru Bandara Syamsudin Noor Rabu (9/9/2026) sore.
Dalam kesempatan itu Kapolda Kalsel, Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan didampingi Wakapolda, Brigjen Pol Noviar, S.I.K mengenalkan strategi pemadaman berbasis cairan surfaktan dan pemantauan drone thermal untum memadamkan api di lahan gambut.
Rombongan perwira tersebut diterjunkan langsung ke lapangan dalam rangka Praktik Kerja Dalam Negeri (PKDN) serta Kuliah Kerja Profesi (KKP) untuk membedah manajemen krisis karhutla di wilayah hukum Polda Kalsel.
Karakteristik tanah gambut di kawasan, Jalan Baru akses Bandara Syamsudin Noor, menyimpan bara di bawah permukaan selama ini menjadi kendala utama pemadaman konvensional.
Peserta Didik Sespimti Polri, Ronaldo Siregar, menyoroti efektivitas inovasi baru yang diterapkan jajaran Polda Kalsel dalam menembus lapisan dalam tanah tersebut.
“Penanganan Karhutla dulu memang sering terasa sporadis, begitu api padam di permukaan lalu ditinggal, tidak lama kemudian terbakar lagi karena sifat gambutnya. Penggunaan cairan surfaktan ini melumpuhkan titik api sekaligus mendinginkan struktur tanah secara mendalam, sehingga area bekas terbakar tidak menyala kembali,” ujar perwira yang pernah bertugas di Kalsel tersebut.
Ia menambahkan, kehadiran 8 perwira Sespimti di Kalsel yang tergabung dalam Satgas Edukasi Operasi Aman Nusa II bersama SOPS Polri, dari total peserta yang tersebar di 6 Polda, memiliki dua misi utama.
Selain mengedukasi masyarakat terkait pencegahan, mereka bertugas mendalami pola manajemen mitigasi yang efisien dalam menangani bencana salah satunya kebakaran hutan dan lahan.
“Tantangan alam memang tidak bisa dilawan, tetapi bagaimana kita meresponsnya secara komprehensif adalah bentuk ikhtiar. Pendekatan Kapolda Kalsel ini sangat tepat, terarah, dan membuat penggunaan sumber daya serta personel jauh lebih efektif dan efisien,” tambahnya.
Sementara itu Peserta Didik Sespimmen Polri, Ricky Donaire, menjelaskan bahwa penanganan diawali dengan pemetaan pemantauan udara untuk menemukan hotspot (titik panas) tersembunyi yang tak kasat mata.
“Pola ini memanfaatkan teknologi drone thermal untuk mendeteksi keberadaan titik panas secara akurat sangat membantu pemadaman. Setelah titik koordinat dipantau, tim Satgas Karhutla langsung bergerak melakukan pemadaman menyasar lokasi tersebut menggunakan cairan surfaktan,” ujar Ricky.
Ia menegaskan bahwa pemadaman ini tidak dilakukan secara asal, melainkan berlangsung secara terstruktur hingga tuntas.
“Kami mengamati proses ini berlangsung bertahap sampai selesai. Dengan metode surfaktan ini, kita berharap dapat mempermudah penetrasi air ke dalam lahan dan mempercepat proses padamnya kebakaran hutan serta lahan di Kalsel,” pungkas Ricky.
Ia berharap perpaduan teknologi pemantauan udara, inovasi bahan kimia ramah lingkungan, serta manajemen operasional yang terukur, langkah Polda Kalsel ini diharapkan menjadi tolok ukur baru bagi penanggulangan karhutla nasional.
“Semoga apa yang kitalihat ini, kedepan menjadi barometer baru dalam menangani kebakaran,khususnya lahan gambut secara nasional,” pungkasnya.(nw)
