Kunjungan Kepala Kesbangpol Banyumas ke Sanggar Kamulyan dan Gunungwetan, Matangkan Program Peduli Antar Perbatasan

31 Oktober 2026
Kepala Kesbangpol Banyumas Kunjungi Jatilawang, Siapkan Program Peduli Antar Perbatasan (Foto : Istimewa/SumberInformasiBAKESBANGPOL Kabupaten Banyumas/newsway.co.id)

NEWSWAY.CO.ID, JAWA TENGAH – Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Banyumas, Eko Heru Suroso, S.Sos., melakukan kunjungan kerja ke Sanggar Kamulyan Sinduredja Desa Karanganyar dan Desa Gunungwetan, Kecamatan Jatilawang, dalam rangka persiapan Program Peduli Antar Perbatasan Kabupaten Banyumas, Jumat (30/10/2026).

Kunjungan ini bertujuan untuk melakukan dialog langsung dengan tokoh budaya, pengelola sanggar, dan masyarakat di wilayah perbatasan Banyumas-Cilacap, guna menggali potensi kearifan lokal serta memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan kerukunan.

Di Sanggar Kamulyan Sinduredja, Eko Heru Suroso disambut oleh Ki Suho dan para penggiat budaya yang selama ini aktif melestarikan tradisi dan nilai-nilai luhur Banyumas dinilai memiliki peran strategis sebagai pusat edukasi karakter dan perekat persatuan masyarakat perbatasan.

Kunjungan dilanjutkan ke Puncak Bukit Kutamaya, Desa Gunungwetan, yang dikenal masyarakat sebagai titik energi spiritual dan situs budaya yang sarat makna. Dalam tradisi Jawa, Bukit Kutamaya diyakini sebagai pusat pertemuan energi.

“Program Peduli Antar Perbatasan ini kami rancang tidak hanya sebagai program pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan karakter dan pelestarian budaya. Wilayah perbatasan harus menjadi beranda depan Banyumas yang kuat secara sosial, budaya, dan kebangsaan,” ujar Eko Heru Suroso.

Ia menjelaskan, dalam khazanah budaya Jawa, puncak spiritual di Bukit Kutamaya dimaknai sebagai penyatuan energi mulia. Hari Jumat melambangkan kebaikan, keluhuran, dan waktu untuk beribadah (suci), sementara pasaran Kliwon (Kasih) melambangkan pusat atau poros dari empat penjuru mata angin.

“Pertemuan Jumat dan Kliwon diyakini masyarakat sebagai waktu terbaik untuk melakukan laku prihatin, tirakat, dan meditasi (maneges), sebagai upaya mengendalikan hawa nafsu dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta (Manunggaling Kawula Gusti). Pada saat inilah, dalam tradisi Jawa, batas antara alam nyata dan alam batin menjadi sangat tipis, sehingga penghormatan kepada roh leluhur dan nilai-nilai keluhuran menjadi sangat kuat,”bebernya.

Menurut Eko Heru, nilai-nilai laku prihatin, pengendalian diri, dan penghormatan kepada leluhur tersebut sejalan dengan semangat pendidikan politik beretika dan penguatan karakter kebangsaan yang ingin dibangun Bakesbangpol di wilayah perbatasan.

“Melalui Program Peduli Antar Perbatasan, Bakesbangpol Banyumas berharap dapat bersinergi dengan sanggar budaya, pemerintah desa, dan tokoh masyarakat untuk menjadikan wilayah Jatilawang dan sekitarnya sebagai contoh kawasan perbatasan yang rukun, berbudaya, dan memiliki ketahanan sosial yang kuat,” tutupnya.(nw)

Reporter : Suho

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog