NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU – Kondisi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Selatan yang masih belum selesai ditangani Kembali menjadi perhatian pemerintah pusat dengan kehadiran Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Tandyo Budi Revita, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani ke Banjarbaru, Senin (19/10/2026).
Didampingi Gubernur Kalsel H Muhidin dan Forkopimda Prov Kalsel, KSAD dan kepala BNPB meninjau lahan terbakar di dekat Kota Citra Graha Kota Banjarbaru, momentum tersebut digunakan Gubernur Kalimantan Selatan Muhidin untuk blak-blakan kepada Kepala BNPB.
Orang nomor satu di Bumi Lambung Mangkurat itu tak segan pasang badan menjawab kritik pedas netizen terkait polemik bantuan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sempat bikin gaduh di linimasa.
Dengan gaya khasnya yang blak-blakan, Muhidin meluruskan duduk perkara usulan bantuan dari 13 kabupaten dan kota di Kalsel yang sempat menuai tanya publik.
“Jadi tadi rekan-rekan media, aku menyerahkan (surat) pengusulan bantuyan lagi, karena kita kemarin mengusulkan dari 13 kabupaten itu, 12 kabupaten kita usulkan namun hanya enam yang di bantu,” ucap Muhidin membuka lembar klarifikasi.
Kritik pedas sempat menghujani media sosial karena dari selusin daerah yang diajukan, pada gelombang pertama hanya 6 kabupaten yang resmi mengantongi SK bantuan, warganet pun ramai-ramai mempertanyakan komitmen sang gubernur.
“Kemarin itu kan ternyata 6 yang keluar, yang 6 nggak keluar. Jadi kami usulkan lagi bantuan. Jadi ada netizen yang mengomen, ‘Wah, Pak Gubernur gimana nih, kemarin kan sudah dikatakan yang dapat 12, kenapa ini jadi 6 aja kan?’ Nah, ini kan kami usulkan kembali. Jadi tetap kami usulkan kepada BNPB dan Menteri Kehutanan,” tegas Muhidin.
Tak hanya soal kuota administratif, sorotan tajam Gubernur Muhidin juga diarahkan ke wilayah-wilayah yang benar-benar menjerit namun sempat luput dari jangkauan bantuan maksimal, salah satunya kawasan Marahahan.
Ia membeberkan bahwa wilayah tersebut mengalami dampak karhutla yang luar biasa parah, meskipun memiliki karakteristik tipikal lahan yang berbeda dengan area gambut perkotaan. Di sana, api mengancam langsung pekarangan dan persawahan warga.
“Terdampak itu terakhir Marahahan, itu terdampak sangat-sangat, tapi tidak dapat bantuan. Nah, inilah yang kami usahakan supaya bisa dapat bantuan,” ungkapnya dengan nada serius.
“Terdampaknya di sana, kadang-kadang terbakar dekat rumah. Nah, kalau di Banjarbaruadalah gambut. Jadi, di sana itu sawah-sawah yang ada, jadi kita usahakan lagi, mudah-mudahan ada perhatian lagi dari pemerintah pusat supaya operasional memadamkan bisamaksimal,” sambung Muhidin.
Sembari menunggu tambahan restu bantuan dari pusat, Pemprov Kalsel enggan berpangku tangan, Gubernur Muhidin membocorkan langkah taktis mandiri yang digebernya bersama Kapolda Kalsel untuk memerangi karhutla hingga ke akar-akarnya, yakni lewat senjata rahasia bernama surfaktan (zat pembasah lahan gambut).
“Untuk pembasahan saat ini, kami dengan Kapolda sudah membeli surfaktan. Ini mungkin hari Jumat datang, ini akan kami olah, nanti diolah Kapolda, ada yang membuatnya. Diolah nanti itu dibagikan ke kabupaten-kabupaten yang memerlukan,” bebernya.
Bahkan, strategi penyiraman udara (water bombing) pun disulap menjadi lebih efektif, pemerintah daerah bersama unsur terkait mulai merintis pembuatan embung-embung kecil di titik strategis.
Nantinya, air di embung tersebut akan langsung dicampur dengan cairan surfaktan menggunakan ekskavator, sebelum disedok dan disemprotkan dari udara oleh helikopter.
“Jadi kami di sini pembasahan nanti, heli pun pakai water bombing pun nanti mengambil air dari embung kecil. Nanti embung kecil ini kami buat, surfaktannya kami aduk dengan ekskavator, nanti water bombing mengambil dari sana. Pembasahan di mana ada api, jadi langsung pembasahan,” jelas Muhidin.
Muhidin juga menegaskan bahwa seluruh lini di Kalsel kini bergerak dalam satu komando ganda, yaitu memadamkan api yang berkobar sekaligus membubus tuntas lahan gambut kering demi mencegah bencana susulan.
“Semua bergerak, arahan kita ada pemadaman, ada pembasahan. Jadi, dua, ada memadamkan api, ada pembasahan. Seperti tadi kita lihat kan, ini harus kita basahkan seperti itu penanganannya,” tutupnya.(nw)
