Kalsel Pecahkan Rekor MURI dengan Kain Sasirangan Terpanjang di Dunia

21 Agustus 2024
Kalsel memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) kain sasirangan terpanjang sepanjang di dunia 5,7 km (foto.doc/newsway.id)

NEWSWAY.ID, BANJARBARU–Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mencatatkan prestasi membanggakan dengan memecahkan rekor di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kain Sasirangan terpanjang di dunia, yang mencapai panjang 5,7 kilometer.

Pencapaian ini dilakukan dalam rangka pembukaan acara Meratus Geopark Great Culture Carnival, yang berlangsung di kawasan Perkantoran Gubernur Kalsel, Banjarbaru, pada 20-21 Agustus 2024.

Acara pembukaan Meratus Geopark Great Culture Carnival ini dimeriahkan dengan pawai kain Sasirangan, serta pertunjukan tarian tradisional Sinoman Hadrah dan tarian suku Dayak Mandau Telabang.

Ketua Dekranasda Kalsel, Raudhatul Jannah, yang membuka acara tersebut secara resmi, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kecintaan terhadap budaya dan kekayaan alam Kalsel serta sebagai upaya pelestariannya.

Event ini juga merupakan bagian dari perayaan Hari Jadi Provinsi Kalsel ke-74 dan Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) ke-14, dengan beragam kegiatan pendukung seperti kirab karnaval, sajian tarian dan kesenian daerah, UMKM Expo, pameran biodiversity, serta penampilan dari band papan atas, Padi Reborn.

Ketua Harian Pengelolaan Geopark Meratus, Hanifah Dwi Nirwana, menjelaskan bahwa acara ini tidak hanya bertujuan sebagai ajang promosi budaya, tetapi juga sebagai bentuk penghargaan terhadap kekayaan geologi yang dimiliki oleh Kalsel.

“Event Meratus Geopark Great Culture Carnival ini menjadi sarana promosi budaya sekaligus upaya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat lokal,” ujar Hanifah pada Selasa (20/8/2024).

Kain Sasirangan yang berhasil mencetak rekor dunia tersebut dibentangkan dengan formasi Kelayang Dandang, melibatkan sekitar 6.000 peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Sasirangan sendiri adalah kain tradisional khas suku Banjar yang memiliki nilai budaya tinggi dan merupakan salah satu bentuk kekayaan intelektual Provinsi Kalsel.

Sasirangan berbeda dari batik karena memiliki keunikan tersendiri, yaitu proses pembuatannya melalui teknik pewarnaan dengan metode jelujur (manyirang) menggunakan tali atau benang.

Kain ini telah ada sejak zaman Kerajaan Banjar pada abad ke-7, dahulu dikenal sebagai kain Lagundi, dan dipercaya memiliki kekuatan magis untuk pengobatan serta perlindungan dari gangguan roh jahat.

Seiring perkembangan zaman, kain Sasirangan kini telah menyebar luas dan digunakan sebagai bahan pakaian sehari-hari, serta dipromosikan ke mancanegara dalam berbagai bentuk, termasuk pakaian, kain helai, aksesori, dan keperluan sehari-hari lainnya.

Sasirangan juga memiliki beragam motif yang populer, seperti Sarigading, Ombak Sinapur Karang, Kambang Kacang, Naga Balimbur, Gigi Haruan, Jajumputan, dan Kambang Tampuk Manggis.

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog

[10.57, 11/3/2026] Ervan Newsway: Pasar murah di Halaman Kantor Bupati Banjar (Foto : Muhammad Ervan Ariya Ramadani/newsway.co.id) [10.57, 11/3/2026] Ervan Newsway: DKPP Banjar Sediakan Beras Lokal dan Ikan Bersubsidi di Pasar Murah Kantor Bupati Banjar NEWSWAY.CO.ID, MARTAPURA – Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar menyediakan beras lokal dan ikan bersubsidi pada kegiatan pasar murah yang digelar di halaman Kantor Bupati Banjar, Rabu (11/03/2026) hingga Kamis (12/03/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian penutupan pasar murah Ramadan yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Banjar selama dua hari untuk membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga lebih terjangkau. Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan DKPP Kabupaten Banjar, M. Hamdani mengatakan, pihaknya menyiapkan dua komoditas utama dalam kegiatan tersebut, yakni beras lokal serta ikan air tawar. “Untuk hari ini kami menjual beras lokal jenis unus. Per kantong dijual seharga Rp40 ribu dengan isi 4 liter. Harga tersebut sudah mendapatkan subsidi dari pemerintah daerah sebesar Rp20 ribu per kantong,” ujarnya. Ia menjelaskan, pada hari pertama kegiatan pihaknya menyiapkan sekitar 200 kantong beras atau setara 400 liter. Jumlah yang sama juga akan kembali disediakan pada hari kedua kegiatan pasar murah. Selain beras, DKPP juga membawa ikan air tawar yang terdiri dari ikan nila dan ikan patin. Kedua jenis ikan tersebut dijual dengan harga lebih murah karena mendapatkan subsidi dari pemerintah daerah. “Untuk ikan nila dan patin ini kita berikan subsidi sekitar Rp10 ribu per kilogram dibandingkan harga pasar,” jelas Hamdani. Pada hari pertama pasar murah, DKPP menyiapkan sekitar 100 kilogram ikan nila dan patin. Stok yang sama juga akan disediakan kembali pada hari berikutnya. Ia mengatakan, antusiasme masyarakat terhadap pasar murah tersebut cukup tinggi karena harga komoditas yang dijual lebih murah dibandingkan harga pasar. “Antusias masyarakat cukup tinggi. Ada juga yang belum kebagian hari ini dan kemungkinan akan membeli besok karena stok hari ini sudah terbatas,” katanya. Untuk pemerataan, pembelian komoditas dibatasi satu paket untuk setiap orang. Selain itu masyarakat juga diwajibkan menunjukkan KTP Kabupaten Banjar saat melakukan pembelian. “Setiap orang hanya bisa membeli satu paket dengan menunjukkan KTP Kabupaten Banjar agar bantuan ini tepat sasaran,” pungkasnya.(nw) [10.58, 11/3/2026] Ervan Newsway: DKPP Banjar sediakan Ikan bersubsidi di Pasar Murah. (Foto : Muhammad Ervan Ariya Ramadani/newsway.co.id)