NEWSWAY.CO.ID, BANJARMASIN – Konsolidasi mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) di Banjarmasin, Jumat (29/8/2025), menjadi ajang untuk menyuarakan keresahan publik. Tidak hanya diikuti mahasiswa ULM, kegiatan ini juga dihadiri perwakilan Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad al Banjari (UNISKA MAB), Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban), hingga komunitas pengemudi ojek online (ojol).


Dalam forum tersebut, perwakilan ojol menyinggung mahalnya biaya untuk menjadi anggota DPR dan polisi. Menurutnya, hal itu membuat sebagian pejabat cenderung mengutamakan pengembalian modal ketimbang kepentingan rakyat.
Polisi, dinilai perwakilan ojol seharusnya berpendidikan minimal S1 agar memiliki intelektualitas lebih baik dalam bertugas. Sistem perekrutan harus diubah agar kualitasnya meningkat. Selain itu, gaji besar DPR juga dinilI lebih baik dialihkan untuk meningkatkan kesejahteraan guru.


Sorotan serupa datang dari Putu Widi Rangga Aditya, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) ULM. Ia menilai ketimpangan gaji antara anggota DPR dan guru sangat memprihatinkan.
“Gaji anggota DPR mencapai triliunan rupiah per tahun, sementara guru di pelosok masih berjuang dengan jalan rusak dan gaji kecil. Saya bercita-cita menjadi pendidik, tapi di negara yang tidak menghargai guru, apakah cita-cita itu masih pantas?,” kata Rangga.


Ia juga membagikan pengalamannya dalam program Asistensi Mengajar di bawah Kemendikbudristek. Menurutnya, beban guru semakin berat dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Guru yang harus membagikan MBG, padahal tugas mereka sudah sangat banyak. Ironisnya, ketika saya tanya siswa apakah ada yang bercita-cita jadi guru, tidak ada satu pun yang menjawab iya,” ungkapnya.


Selain isu pendidikan, konsolidasi juga membahas arah gerakan mahasiswa terkait reformasi DPR. Meski seruan pembubaran DPR mulai bergeser pasca insiden tewasnya seorang demonstran yang dilindas kendaraan taktis (Rantis) Brimob di Senayan, mahasiswa menegaskan isu itu tidak boleh hilang.
Dalam forum itu, tagline Indonesia Cemas kembali digaungkan sebagai simbol keresahan terhadap kondisi bangsa. Mahasiswa juga mempertanyakan sikap ULM, apakah akan mengikuti arahan pusat atau berani berdiri di atas kaki sendiri. ULM didorong harus bersikap tegas, tidak hanya mengikuti arus. (nw)




Reporter newsway.co.id Barito Kuala/Banjarmasin : Aminah