Merawat Tradisi, Menggerakkan Ekonomi Cerita Desa-Desa di Kecamatan Jatilawang, Banyumas

by
30 Januari 2026

Di barat daya Purwokerto, sekitar 24 kilometer dari hiruk-pikuk ibu kota Kabupaten Banyumas, terbentang sebuah wilayah yang hidup dalam kesetiaan pada akar sejarahnya. Kecamatan Jatilawang—sebuah nama yang lahir dari bahasa Jawa, jati yang berarti sejati dan lawang sebagai pintu—seolah menjadi gerbang utama menuju kisah-kisah desa yang merawat tradisi sekaligus menggerakkan denyut ekonomi warganya.

Secara geografis, Jatilawang berada di antara dataran rendah di bagian tengah dan perbukitan di selatan. Lanskap ini membentuk karakter wilayah yang subur, terbuka, sekaligus menyimpan panorama alam yang memesona. Dengan luas 48,16 kilometer persegi dan jumlah penduduk lebih dari 71 ribu jiwa, Jatilawang terdiri dari 11 desa yang masing-masing memiliki identitas dan kekhasan sendiri.

Dari timur, Desa Karanganyar menyambut siapa pun yang datang sebagai pintu gerbang kecamatan. Desa ini telah lama dikenal dengan gerabah tanahnya—hasil olah tangan warga yang diwariskan lintas generasi. Gerabah bukan sekadar produk, melainkan simbol hubungan manusia dengan alam, tanah liat yang dibentuk menjadi alat kehidupan sehari-hari sekaligus sumber penghidupan.

Tak jauh dari sana, Desa Adisara tumbuh sebagai sentra produksi bandeng presto, berpadu dengan batik tulis yang dikerjakan dengan kesabaran dan ketelatenan. Di desa inilah tradisi kerja dan kreativitas ekonomi berjalan berdampingan. Sementara itu, Desa Tunjung berperan sebagai pusat administrasi Kecamatan Jatilawang, menjadi simpul pelayanan publik yang menghubungkan desa-desa di sekitarnya.

Jejak ekonomi rakyat juga terasa kuat di Desa Kedungwringin, yang dikenal dengan pengrajin mireng atau mi aci—pelengkap setia soto Banyumasan—serta kerupuk karag dari singkong. Produk-produk sederhana ini menghidupi banyak keluarga, membuktikan bahwa kekuatan ekonomi desa sering kali bertumpu pada hal-hal yang dekat dengan keseharian masyarakat.

Namun Jatilawang bukan hanya tentang produksi dan perdagangan. Di Desa Pekuncen, hidup masyarakat adat Anak Putu Banokeling yang masih teguh menjaga tradisi leluhur. Salah satunya adalah tradisi Unggahan, sebuah ritual sakral yang dilaksanakan menjelang bulan Ramadan. Sekitar sepuluh hari sebelum puasa, warga melakukan Laku Lampah—perjalanan spiritual yang bukan sekadar berjalan puluhan kilometer, melainkan ikhtiar menjaga nilai, menghormati sejarah, dan merawat identitas.

Dalam keheningan ritual Unggahan, masa lalu seolah dihadirkan kembali untuk memberi makna pada masa kini. Tradisi ini mencapai puncaknya dalam rangkaian Perlon Unggahan, yang pada tahun 2026 akan digelar pada 12 hingga 14 Februari. Mulai dari kedatangan Anak Putu Banokeling dari berbagai daerah, malam doa dan makan bersama, masak bersama, pisowanan ke Eyang Banokeling, hingga pelepasan tamu—semuanya menjadi ruang perjumpaan spiritual dan sosial yang sarat makna.

Desa Tinggarjaya dikenal sebagai pangrestu menjelang Perlon, tempat para pemangku adat MASBARLINGCAKEB memohon restu sebelum ritual besar dilaksanakan. Sementara Desa Gunung Wetan menghadirkan pesona alam yang menakjubkan. Dari Bukit Kutamaya, mata dimanjakan oleh panorama Gunung Slamet, Pulau Nusakambangan, hingga bentangan Laut Selatan yang tampak jelas di kejauhan—sebuah lanskap yang menenangkan sekaligus menggetarkan.

Alam Jatilawang juga dipeluk oleh aliran sungai. Sungai Lo Pasir dan Sungai Tajum mengalir membelah desa-desa, dari hulu yang tak jauh dari Waduk Penjalin di Brebes hingga bermuara di Sungai Serayu. Rimbunnya pepohonan di sepanjang aliran sungai menjadikan kawasan ini ruang pelarian sunyi, tempat warga dan pengunjung menemukan keteduhan batin.

Sebagai bekas wilayah administrasi kawedanan pada masa kolonial, Jatilawang menyimpan jejak sejarah panjang tentang kerja keras dan kemandirian. Jalan nasional selatan Pulau Jawa yang melintas wilayah ini memperkuat posisinya sebagai kawasan strategis, membuka akses ekonomi tanpa harus mengorbankan nilai-nilai lokal.

Pada akhirnya, Jatilawang bukan sekadar titik di peta Banyumas. Ia adalah narasi hidup tentang bagaimana budaya, religi, alam, dan ekonomi lokal saling menguatkan. Sebuah pelajaran bahwa kemajuan tidak selalu harus melupakan tradisi, dan bahwa desa-desa yang setia pada akar budayanya justru memiliki daya hidup yang panjang. Di sinilah tradisi dirawat, ekonomi digerakkan, dan identitas dijaga—dari generasi ke generasi. (nw)

Penulis : Suho

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog