Di Balik Tradisi Perlon Unggahan Anak Putu Banokeling, Memori yang Tak Lekang oleh Waktu dari Tanah Jawa

by
15 Februari 2026
Dibalik Tradisi "Perlon Unggahan Anak Putu Banokeling". Tersimpan Memori Yang Tak Lekang Oleh Waktu- Kisah Tanah Jawa. ( Foto : Suho/Newsway.co.id )

Oleh Suho – Ketua Yayasan Sanggar KAMULYAN Sinduredja

Di sebuah desa yang sunyi namun sarat makna, langkah-langkah kaki tanpa alas terdengar pelan menyusuri jalanan tanah. Mereka adalah anak putu Banokeling—keturunan masyarakat adat Bonokeling—yang datang dari berbagai penjuru untuk berkumpul di Desa Pekuncen. Seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka kembali menunaikan Perlon Unggahan, sebuah tradisi sakral yang menandai persiapan spiritual menjelang bulan suci Ramadan.

Tradisi yang digelar mulai Kamis hingga Sabtu, dengan puncak acara pada Jumat (13/2/2026), bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara ajaran leluhur dan nilai-nilai Islam, antara keheningan batin dan kebersamaan sosial.

Jejak Nyadran dalam Napas Banokeling

Dalam khazanah masyarakat Islam Nusantara, Perlon Unggahan memiliki kemiripan dengan tradisi Nyadranatau Sadranan yang lazim dilakukan pada hari-hari terakhir bulan Ruwah (Syaban). Kata Nyadran berakar dari sraddha (Sanskerta) yang berarti keyakinan—sebuah wujud penghormatan kepada leluhur melalui doa dan sedekah.

Jejak sejarah menunjukkan, pada masa Hindu-Buddha, Nyadran berupa upacara pemujaan arwah. Ketika Islam berkembang, para wali memberi sentuhan baru: tahlil, doa bersama, dan sedekah. Di tangan masyarakat Banokeling, akulturasi itu hidup dalam wujud Perlon Unggahan—ritual yang mengajak manusia membersihkan diri lahir dan batin sebelum memasuki Ramadan.

Perjalanan Tanpa Alas Kaki, Simbol Ketergantungan

Anak putu Banokeling dari desa-desa sekitar Cilacap, seperti Kalikudi, Tambakreja, dan Adiraja, berjalan kaki menuju Pekuncen tanpa alas. Prosesi ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan simbol kesadaran bahwa manusia sepenuhnya bergantung kepada Tuhan.

Busana adat pun menjadi bahasa simbolik. Perempuan mengenakan kemben dan selendang putih, sementara laki-laki memakai pakaian serba hitam lengkap dengan jarit dan iket. Warna hitam, bagi Banokeling, melambangkan kelanggengan tradisi—bahwa adat harus dijaga meski zaman terus berubah.

Membersihkan Makam, Membersihkan Hati

Rangkaian acara diawali dengan bersih makam leluhur: mencabut rumput, merapikan nisan, dan membersihkan lingkungan sekitar. Bagi mereka, makam bukan sekadar tempat peristirahatan, melainkan ruang dialog batin dengan para pendahulu.

Setelah itu, kirab dan sedekah digelar. Warga membawa tenong berisi makanan atau hasil bumi, diarak menuju makam atau balai desa, lalu dibagikan kepada siapa saja. Sebuah pesan sederhana namun dalam: rezeki harus dibagi, kebahagiaan harus dirasakan bersama.

Simbol Akulturasi dan Kebersamaan

Camat Jatilawang, Bahtiar, yang hadir bersama Danramil dan Kapolsek setempat, menyampaikan bahwa prosesi Perlon Unggahan dipimpin oleh Kyai Kunci atau sesepuh adat, sebagaimana Nyadran dipimpin tokoh agama.

“Tujuannya sama, yakni menegaskan akulturasi Islam dengan adat Jawa, sekaligus menumbuhkan kebersamaan, persaudaraan, dan rasa syukur,” ujarnya.

Nilai-nilai sosial yang ditanamkan para leluhur terasa kuat: mempertemukan sanak saudara yang jarang bertemu, mengajarkan gotong royong, serta menanamkan penghormatan kepada orang tua dan leluhur.

Tetap Lestari di Tengah Zaman

Di masa kini, Perlon Unggahan Anak Putu Banokeling tidak hanya menjadi ritual spiritual, tetapi juga daya tarik budaya di wilayah Kecamatan Jatilawang. Meski menarik perhatian wisatawan, esensinya tetap terjaga: sebagai pengingat bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah personal, melainkan juga tentang kebersihan hati, kebersamaan, dan penghormatan terhadap asal-usul.

Tradisi ini adalah cermin kearifan Nusantara—memadukan ziarah, doa, sedekah, dan makan bersama dalam satu harmoni. Sebuah warisan yang terus hidup, mengalir dari generasi ke generasi, seperti alunan doa yang tak pernah putus di bumi Jawa.

Latest from Blog

[10.57, 11/3/2026] Ervan Newsway: Pasar murah di Halaman Kantor Bupati Banjar (Foto : Muhammad Ervan Ariya Ramadani/newsway.co.id) [10.57, 11/3/2026] Ervan Newsway: DKPP Banjar Sediakan Beras Lokal dan Ikan Bersubsidi di Pasar Murah Kantor Bupati Banjar NEWSWAY.CO.ID, MARTAPURA – Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar menyediakan beras lokal dan ikan bersubsidi pada kegiatan pasar murah yang digelar di halaman Kantor Bupati Banjar, Rabu (11/03/2026) hingga Kamis (12/03/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian penutupan pasar murah Ramadan yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Banjar selama dua hari untuk membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga lebih terjangkau. Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan DKPP Kabupaten Banjar, M. Hamdani mengatakan, pihaknya menyiapkan dua komoditas utama dalam kegiatan tersebut, yakni beras lokal serta ikan air tawar. “Untuk hari ini kami menjual beras lokal jenis unus. Per kantong dijual seharga Rp40 ribu dengan isi 4 liter. Harga tersebut sudah mendapatkan subsidi dari pemerintah daerah sebesar Rp20 ribu per kantong,” ujarnya. Ia menjelaskan, pada hari pertama kegiatan pihaknya menyiapkan sekitar 200 kantong beras atau setara 400 liter. Jumlah yang sama juga akan kembali disediakan pada hari kedua kegiatan pasar murah. Selain beras, DKPP juga membawa ikan air tawar yang terdiri dari ikan nila dan ikan patin. Kedua jenis ikan tersebut dijual dengan harga lebih murah karena mendapatkan subsidi dari pemerintah daerah. “Untuk ikan nila dan patin ini kita berikan subsidi sekitar Rp10 ribu per kilogram dibandingkan harga pasar,” jelas Hamdani. Pada hari pertama pasar murah, DKPP menyiapkan sekitar 100 kilogram ikan nila dan patin. Stok yang sama juga akan disediakan kembali pada hari berikutnya. Ia mengatakan, antusiasme masyarakat terhadap pasar murah tersebut cukup tinggi karena harga komoditas yang dijual lebih murah dibandingkan harga pasar. “Antusias masyarakat cukup tinggi. Ada juga yang belum kebagian hari ini dan kemungkinan akan membeli besok karena stok hari ini sudah terbatas,” katanya. Untuk pemerataan, pembelian komoditas dibatasi satu paket untuk setiap orang. Selain itu masyarakat juga diwajibkan menunjukkan KTP Kabupaten Banjar saat melakukan pembelian. “Setiap orang hanya bisa membeli satu paket dengan menunjukkan KTP Kabupaten Banjar agar bantuan ini tepat sasaran,” pungkasnya.(nw) [10.58, 11/3/2026] Ervan Newsway: DKPP Banjar sediakan Ikan bersubsidi di Pasar Murah. (Foto : Muhammad Ervan Ariya Ramadani/newsway.co.id)