Senja baru saja turun di Martapura ketika langkah Ustadzah Hasanah menyusuri jalan yang sudah begitu akrab baginya dengan mengendarai sepeda motor Beat warna hitam miliknya.
Begitulah awal kisah sang ibunda ketika berbincang dengan wartawan media newsway.co.id disela-sela pres rilis pembunuhan berencana yang menimpa anak sambungnya.
Dengan wajah memerah dan nada yang berat, perempuan paruh baya bernama Mudiah itu menceritakan jejak-jejak terakhir anak perempuan dari mantan suaminya itu.

“Setiap hari, rute itu menjadi penghubung antara pondok tempat ia bekerja dan rumah—antara kelas tempat ia mengajar ilmu alat di Pondok Pesantren Muraa’tul Lughah Martapura dan keluarga yang selalu menantinya pulang,” ujar Mudiah terbata.
Cuaca Banjarbaru cukup terik kala itu, Mudiah bersama sang suami yang juga ayah sambung korban duduk di salah satu kursi yang disediakan pihak kepolisisn di Polsek Banjarbaru Utara.
Beberapa rekan media datang sislih berganti, suasana riuh, mungkin suasana itu seakan menggambarkan keriuhan hati Mudiah.
Dengan mata berkaca,Mudiah kembali bercerita,katanya tidak ada yang berbeda pada Selasa sore itu, Hasanah putri sambungnya, bahkan sempat berkerja di toko seusai mengajar.
“Ia terlihat seperti biasa—tenang, sederhana, dan tak menunjukkan tanda apa pun bahwa malam itu akan menjadi perjalanan terakhirnya.Namun satu kalimat yang kini terus terngiang di benak saya dan menjadi potongan terakhir kenangan: ia sempat meminta minum, mengaku sangat kehausan,” ucapnya sesambil menyeka matanya yang binar.
Sesekali Mudiah menghela nafas panjang, sementara di depannya beberapa kamera handphone milik para jurnalis sudah berjajar merekam apa yang ia ceritakan.
Mudiah mengaku kegelisahan mulai tumbuh seiring waktu, anak perempuannya tak kunjung pulang. Jam demi jam berlalu, hingga malam berubah menjadi dini hari. Bagi Mudiah, ibu sambung yang selama ini menyayanginya seperti anak sendiri, firasat buruk mulai tak terbendung.
“Insting saya kuat, anak saya ada sesuatu,” begitu kira-kira yang ia rasakan malam itu.
Acara pres rilis belum juga di mulai, cuaca semakin panas, Mudiah semakin larut bercerita tentang hari terakhir kejadian yang menimpa putri sambungnya.
“Keesokan harinya, pencarian pun kami mulai. Karena anak saya, tak pernah seperti ini. Ia dikenal disiplin, bertanggung jawab, dan selalu memberi kabar setiap kali ada kegiatan,” ucapnya.
Setelah itu, agak lama ia terdiam, matanya berkaca, tatapnya sesakan menggambarkan kebingungan bercampur dendam kepada pelaku.
“Yang membuat hati keluarga semakin gelisah, jarak antara rumah pelaku dan lokasi kejadian perkara (TKP) ternyata hanya sekitar 50 meter. Dalam keputusasaan, saya sempat mendatangi rumah pelaku untuk bertanya, berharap ada petunjuk tentang keberadaan anaknya,” ucapnya geram.
Sehari semalam berlalu. Harapan perlahan berubah menjadi kecemasan yang menyesakkan. Hingga akhirnya, kabar yang paling ditakutkan itu benar-benar datang.
Anak perempuannya ditemukan, bukan dalam keadaan hidup, melainkan sebagai korban pembunuhan, pelakunya adalah orang dekat TKP yang sempat ia datangi waktu pencarian.
“Bagi keluarga, kehilangan ini bukan sekadar duka, melainkan kehampaan yang sulit dijelaskan. Sosok yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan kami kini telah tiada dengan cara yang begitu tragis,” ucapnya dengan nada berat.
Di tengah kesedihan yang mendalam, satu tuntutan menguat dari hati keluarga “keadilan”. Mudiah, dengan suara yang tertahan emosi, meminta hukuman setimpal bagi pelaku. Bahkan ia menegaskan harapannya agar pelaku dijatuhi hukuman mati.
“Harus dihukum mati,” tegasnya
Bagi Mudiah, permintaan itu bukan tanpa alasan. Bagi seorang ibu, kehilangan anak dengan cara keji adalah luka yang tak akan pernah benar-benar sembuh.
Mudiah berucap, kini, jalan yang dulu setiap hari dilalui Hasanah terasa berbeda. Bukan lagi sekadar rute pulang, melainkan saksi bisu dari sebuah tragedi yang meninggalkan duka mendalam.
Di mata para santri dan rekan sesama pengajar, Hasanah akan selalu dikenang sebagai ustadzah yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu. Sementara bagi keluarga, ia adalah anak, saudara, dan bagian tak tergantikan yang direnggut secara tiba-tiba.
Di Martapura, malam itu akan selalu diingat—sebagai malam ketika seorang pengajar tak pernah benar-benar sampai ke rumah.
Waktu pres rillis sudah tiba, Mudiah menyudahi ceritanya, matanya menatap kosong ke bangku depan dimana Kapolres Banjarbaru dan jajaran akan menyampaikan hasil otah TKP dan penyelidikan dari kasus yang menimpa anak perempuannya.
