Panggilan Hati Nurani Erva Asal Bontang Kaltim : Dua Bulan Mengabdi di Tengah Luka Aceh Tamiang

30 Januari 2026
Erva relawan perempuan asal asal Bontang Kaltim yang bulan mengabdi di lokasi bencana Aceh Tamiang (Foto : Dok Erva/newsway.co.id)

Di antara tenda-tenda pengungsian dan sisa bangunan yang luluh lantak di Aceh Tamiang, sosok Erva (34) menjadi potret keteguhan relawan kemanusiaan. Perempuan asal Bontang, Kalimantan Timur ini memilih bertahan hampir dua bulan di lokasi bencana, mengabdikan diri untuk para penyintas yang masih berjuang memulihkan hidup mereka.

Keputusan Erva datang ke Aceh bukan tanpa risiko. Sebagai relawan perempuan yang datang dari luar daerah, ia harus berhadapan dengan medan berat, keterbatasan fasilitas, hingga tekanan emosional yang terus menguras tenaga.
Namun bagi Erva, dorongan nurani jauh lebih kuat dibanding rasa lelah dan takut.
Hari-hari awal di lokasi bencana menjadi pengalaman yang mengguncang batin. Ia menyaksikan langsung bagaimana para lansia ikut memanggul logistik demi mendapatkan jatah bantuan, sementara anak-anak kecil harus berebut makanan di tengah reruntuhan rumah yang belum tersentuh perbaikan.

“Rasanya campur aduk. Sedih, marah bahkan kecewa pada diri sendiri karena merasa belum bisa berbuat banyak,” tuturnya.

Selama berada di Aceh, Erva tidak terpaku pada satu peran. Ia siap mengisi kebutuhan apa pun yang dibutuhkan di lapangan. Mulai dari membantu layanan kesehatan darurat, mendampingi anak-anak di pengungsian agar tetap belajar dan bermain, hingga turun langsung membersihkan lumpur dan puing bangunan bersama warga.

“Tidak ada pembagian tugas yang kaku. Selama tenaga masih ada, apa pun saya lakukan,” katanya.

Tantangan terberat justru datang saat harus menyalurkan bantuan ke wilayah-wilayah yang terisolasi. Untuk mencapai desa tujuan, Erva kerap memikul logistik melewati jalan rusak, genangan air, dan sisa-sisa bangunan. Di sepanjang perjalanan, ia sering berpapasan dengan warga lanjut usia yang ikut mengangkut bantuan untuk keluarga mereka, pemandangan itu berulang kali membuatnya terdiam.

Namun di tengah situasi yang serba kekurangan, Erva justru menemukan pelajaran kemanusiaan yang mendalam. Setiap tiba di pengungsian, para penyintas tak pernah menanyakan apa yang dibawa relawan. Pertanyaan sederhana justru selalu menyambutnya.

“Mereka malah bertanya, ‘Kak sudah makan?’ lalu mengajak makan bersama,” katanya.

Bagi Erva, sikap tersebut menjadi tamparan batin. Di saat mereka kehilangan rumah, harta benda, bahkan rasa aman, kepedulian kepada orang lain tetap terjaga. Tak jarang ia diperlakukan seperti keluarga sendiri, dianggap sebagai anak angkat atau kakak oleh warga setempat.

Sebagai relawan perempuan, Erva menyadari dirinya harus lebih kuat. Ia belajar menahan keluh, menjaga sikap, dan bertahan di lingkungan pengungsian yang serba terbatas. Panas tenda, minimnya ruang pribadi, dan waktu istirahat yang singkat menjadi bagian dari kesehariannya.

“Yang paling mereka butuhkan sekarang adalah tempat pulang. Rumah,” ucapnya.

Hampir dua bulan berada di Aceh Tamiang telah mengubah cara pandang Erva tentang makna pengabdian. Dari seorang perempuan biasa asal Kalimantan Timur, ia menjadi saksi bahwa di tengah bencana dan kehilangan, justru tumbuh nilai-nilai kemanusiaan yang paling tulus datang dari mereka yang sedang terluka.(nw)

Latest from Blog