Oleh: Suho
Di banyak daerah, program pemberdayaan masyarakat sering kali berakhir ketika masa pendanaan selesai. Pelatihan telah dilakukan, bantuan telah disalurkan, tetapi dampaknya perlahan memudar karena tidak dibangun di atas fondasi keberlanjutan. Padahal, hakikat pemberdayaan bukanlah menciptakan ketergantungan, melainkan melahirkan masyarakat yang mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri.
Pengalaman hampir lima tahun Sanggar KAMULYAN Sinduredja di Desa Karanganyar, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, menjadi pengingat bahwa pemberdayaan sejati membutuhkan proses yang panjang, kesabaran, dan kolaborasi dari banyak pihak. Sanggar tidak hanya hadir sebagai tempat berkumpul, tetapi menjadi ruang belajar, ruang berkarya, sekaligus ruang bertumbuh bagi masyarakat.
Berbagai kegiatan yang dijalankan, mulai dari majelis ngaji dan sholawat, kelas Bahasa Jepang gratis, pendampingan usaha, hingga penguatan kelembagaan masyarakat, menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak cukup hanya berbicara soal ekonomi. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan karakter, serta kebersamaan sosial merupakan modal utama dalam membangun desa yang mandiri.
Karena itu, sudah saatnya paradigma pemberdayaan diubah. Keberhasilan sebuah program tidak lagi diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, tetapi dari sejauh mana masyarakat mampu melanjutkan dan mengembangkan manfaat program tersebut tanpa terus bergantung pada bantuan pihak luar.
Dalam konteks ini, kemitraan menjadi faktor yang sangat menentukan. Sinergi antara masyarakat, pemerintah desa, pelaku usaha, dan pengelola Dapur SPPG telah membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku UMKM, kelompok perempuan, dan masyarakat desa secara umum. Kolaborasi semacam ini membuktikan bahwa pembangunan yang melibatkan banyak pihak akan menghasilkan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.
Ke depan, tantangan terbesar bukanlah memulai program baru, melainkan menjaga agar manfaat yang telah dirasakan masyarakat tetap hidup. Setiap pihak harus memahami perannya masing-masing. Pemerintah berfungsi sebagai fasilitator, komunitas menjadi motor penggerak, sementara masyarakat menjadi pelaku utama yang menentukan keberhasilan pembangunan di lingkungannya.
Pemberdayaan masyarakat adalah investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak selalu terlihat dalam hitungan bulan, tetapi akan menjadi kekuatan besar ketika masyarakat telah memiliki pengetahuan, keterampilan, jejaring, dan kepercayaan diri untuk mengembangkan potensinya sendiri.
Semangat inilah yang terus dipegang Sanggar KAMULYAN Sinduredja. Bahwa keberlanjutan bukan sekadar slogan, melainkan komitmen untuk memastikan setiap proses pemberdayaan benar-benar menjadi milik masyarakat. Sebab, ketika masyarakat mampu menggerakkan perubahan secara mandiri, di situlah pemberdayaan mencapai tujuan yang sesungguhnya.*
Penulis Adalah :
– Ketua Yayasan Sanggar KAMULYAN Sinduredja
– Pegiat Desa
– Pegiat Budaya
– Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Banyumas
– Pengurus DPD Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Provinsi Jawa Tengah
– Korda 1 Wilayah Banyumas Raya Komite Ekonomi Kreatif Jawa Tengah
– Pengurus Komite Ekonomi Kreatif Jawa Tengah
– Jejaring Indonesia Creative Cities Network
