NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU – Pemerintah Kota Banjarbaru tengah berupaya keras menuntaskan kasus dugaan dana sebesar Rp 2,6 miliar yang melibatkan bendahara Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat yang dibawa kabur. Sekretaris Daerah Kota Banjarbaru Sirajoni, memberikan keterangan resmi terkait perkembangan kasus ini.
“Kasus ini sudah menjadi atensi khusus dari Wali Kota dan Wakil Wali Kota, dan saya sendiri selaku Sekretaris Daerah,” ujar Sirajoni kepada awak media, Rabu (19/11/2025).
Saat ini, Inspektorat Kota Banjarbaru tengah melakukan audit secara menyeluruh untuk mengungkap fakta dan potensi kerugian yang ditimbulkan. Sirajoni juga memastikan, pembayaran gaji pegawai Dinkes tetap berjalan lancar meski ada kasus ini.
“Kami sangat memahami kondisi psikologis para karyawan. Pembayaran gaji sudah dilaksanakan oleh pihak dinas beberapa waktu lalu,” jelasnya.

Mengenai status ASN yang menjadi bendahara, Sirajoni belum bisa memastikan siapa yang bersalah. “Kalau ada dugaan, itu bisa saja, tetapi kami belum bisa memvonis. Jika ada pegawai yang terlibat, tindakan akan diambil setelah audit dari Inspektorat dan BKPSDM rampung,” tegasnya.
Pihak kepolisian juga memiliki kewenangan untuk melakukan penyelidikan. Pemko Banjarbaru mempersilakan proses tersebut berjalan, namun tetap menunggu hasil audit internal.
Ketika ditanya mengenai keseriusan pemerintah dalam menangani kasus ini, Sirajoni menjawab, Pemerintah Kota Banjarbaru sangat serius menangani permasalahan ini.
“Jangan ragukan kami. Pesan Wali Kota jelas, tindak dengan serius apabila ada yang terlibat. Audit sedang berjalan dan saya selalu mendesak pihak Inspektorat untuk menanganinya,” tegasnya.
Dana Rp 2,6 miliar yang diduga digelapkan merupakan Uang Persediaan (UP) yang seharusnya digunakan untuk operasional Dinkes.
“Setiap dinas ada UP, dan di Dinkes sekitar 3 miliar,” ungkap Sirajoni.
Terkait keberadaan oknum bendahara, Sirajoni membenarkan yang bersangkutan tidak berada di tempat.
“Belum ada yang mengamankan, karena belum bisa dianggap pelaku sebelum ada audit. Namun, proses akan tetap berjalan,” katanya.
Sirajoni tidak bisa memastikan kapan pemeriksaan akan selesai. “Kalau dikejar waktu, nanti hasilnya tidak sempurna. Dalam audit ini, kami betul-betul prioritaskan, secermat dan secepat mungkin,” pungkasnya. (nw)
