NEWSWAY.CO.ID, BANJARMASIN – Tim gabungan Basarnas tetap melanjutkan operasi pencarian korban KM Virgo Transport 8 meski penyelaman ke dalam badan kapal untuk sementara disesuaikan.
Sementara itu, tim salvage didorong untuk melakukan pengangkatan dan menstabilkan posisi kapal, memasuki hari ke-21, Sabtu (3/10/2026).
Basarnas sendiri mengalihkan fokus pencarian ke permukaan laut dan kawasan pesisir.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI, Mohammad Syafii bilang, operasi SAR tak dihentikan maupun ditutup. Basarnas masih meyakini terdapat korban di dalam badan kapal yang dapat dievakuasi.
“Operasi ini tidak dihentikan, tidak ditutup karena kita juga masih meyakini bahwa di dalam kapal ini masih ada korban-korban yang bisa nanti kita evakuasi dan kita serahkan kepada keluarga dalam kondisi terhormat,” ujar Syafii di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Sabtu (3/10/2026).
Syafii mengatakan keputusan menyesuaikan metode penyelaman diambil setelah Basarnas mengevaluasi proses pencarian sejak kecelakaan terjadi pada Minggu (13/9/2026).
Tim penyelam telah masuk sekitar 10 hingga 15 meter ke dalam badan kapal, namun, pencarian lebih jauh terkendala tumpukan material dan debris yang menutup sejumlah akses.
“Beberapa jendela sudah dibuka dan dapat dimasuki oleh penyelam, namun dari akses tersebut saya sampaikan sejak hari ke-19 sudah tidak ditemukan korban,” kata Syafii.
Lebih nlanjut ia mengatakan, kondisi kapal yang masih tidak stabil juga menjadi pertimbangan.
“Posisi kapal dapat berubah, termasuk trim dan kemiringannya, sehingga membahayakan penyelam yang berada di dalam badan kapal,” ujarnya.
Risiko lain berasal dari kondisi bawah air, pasalanya Visibilitas rendah akibat sedimen dan debris menyulitkan penyelam melihat kondisi sekitar.
Benda-benda tajam juga berpotensi menyebabkan luka, sementara tumpahan minyak dan kontaminasi lainnya menambah risiko saat penyelaman.
“Lokasi kapal berada di kedalaman sekitar 27 meter. Dengan peralatan scuba, waktu kerja efektif penyelam diperkirakan tidak lebih dari 20 menit dalam satu sesi,” tambahnya.
Atas pertimbangan tersebut, Basarnas mendorong tim salvage melakukan pengangkatan dan stabilisasi kapal sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran.
“Operasi pencarian langsung di dalam badan kapal akan dilanjutkan kembali setelah kapal berhasil diangkat, berada dalam kondisi stabil, dan risiko terhadap tim evakuasi dapat terukur serta dikendalikan,” jelas Syafii.
Sementara proses salvage berjalan, pencarian korban di luar badan kapal tetap dilakukan. Fokusnya berada di permukaan laut dan kawasan pesisir dengan memperhitungkan arah arus, angin, gelombang, serta temuan di lapangan.
“Area prioritas pencarian meliputi wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat, dengan penyesuaian berdasarkan kemungkinan arah hanyut, kondisi arus, angin, gelombang, serta perkembangan temuan di lapangan,” ujar Syafii.
Operasi SAR Gabungan Tingkat Nasional kini disesuaikan menjadi operasi di wilayah kerja Kantor SAR Banjarmasin, Palangkaraya, dan Pontianak. Ketiga kantor SAR tetap melakukan pencarian di wilayah masing-masing sembari mendukung proses salvage kapal.(nw)
