NEWSWAY.CO.ID, JAWA TENGAH – Penutupan total jembatan Serayu jalur Banyumas-Kaliori mulai 15 Juni hingga 30 Juli 2026 ini dilakukan untuk mengganti plat lantai jembatan yang keropos, baut angkur, elastomer, serta dinding penahan tanah.
Proyek tersebut diproyeksi akan menelan anggaran yang sebesar Rp 2,6 miliar untuk bentang jembatan sepanjang 69,3 meter.
Akibat penutupan jembatan tersebuit masyarakat harus beralih jalur transportasi, bahkan dihari pertama langsung memicu kemacetan panjang dan kebingungan di kalangan pengendara.

Kepala Dinas Perhubungan Banyumas Omar Udaya, S.STP., M.Si. mengatakan renovasi tersebut karena usia jembatan sudah 34 tahun, selama pengerjaan jembatan akan ditutup selama 45 hari ke depan untuk menjalani rehabilitasi besar-besaran.
Di tengah ketiadaan jembatan darurat karena lebar aliran Sungai Serayu yang mencapai puluhan meter, warga dan pengendara sepeda motor mendadak mengaktifkan kembali moda transportasi sungai kuno: perahu penyeberangan.
Fenomena ini mengingatkan warga pada masa sebelum jembatan modern berdiri. Dulu, saat pembangunan Jembatan Serayu pertama kali, masyarakat setempat biasa menyeberang menggunakan getekan—rakit dari drum-drum bekas yang dikaitkan dengan kabel seling. Kabel tersebut melintang dari sisi selatan ke utara sungai, tepatnya di sebelah utara Klenteng Banyumas.
Kini, tradisi itu kembali hidup. Puluhan perahu kayu bermotor sederhana terlihat bolak-balik mengangkut penumpang dan sepeda motor. Seorang warga, Kantong (40 th), mengaku sempat mencoba jalur darat alternatif melalui Gunung Tugel dan Mandirancan, namun hasilnya mengecewakan.
“Jalannya sesek banget, buyel. Aku nyoba lewat situ, antrean panjang. Akhirnya balik lagi dan milih nyebrang pakai perahu,” ujar Kantong saat di konfirmasi Awak Media (18/6/2026) di dermaga darurat.
Namun masyarakat merasa tidak keberatan karena tarif penyeberangan relatif terjangkau, dengan waktu tempuh lebih cepat.
“Dengan tarif yang relatif murah, warga berbondong-bondong memilih perahu dibanding memutar jauh. Berikut tarif yang berlaku, penyeberang umum: Rp 3.000/orang. Untuk motor saja: Rp 2.000, motor plus 2 orang boncengan: Rp 7.000 sedangkan anak sekolah: Rp 2.000/orang, motor Rp 1.000,” terangnya.
Meski menjadi solusi darurat, Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Banyumas telah mengeluarkan peringatan keras mengenai risiko penggunaan perahu penyeberangan yang tidak memenuhi standar keselamatan.
“Kami sudah ingatkan masyarakat akan bahaya naik perahu di arus Sungai Serayu yang cukup deras. Tidak ada safety seperti jaket pelampung standar, tidak ada sistem komunikasi darurat. Kalau terjadi kecelakaan air, siapa yang bertanggung jawab?” ujar Kadishub Banyumas, saat dihubungi Awak media.
Namun, Dishub juga memahami situasi di lapangan, masyarakat butuh solusi cepat. “Kami paham, tapi itu bukan alasan mengabaikan keselamatan. Kami sudah koordinasikan dengan TNI-Polri untuk mengawasi sementara,” imbuhnya.
Sementara itu, salah seorang pengguna jasa penyeberangan, Warsun mengatakan dengan menggunakan perahu, waktu yang biasanya hanya 5 menit untuk menyeberang, kini menjadi sekitar 20 menit termasuk antre.
“Namun itu masih jauh lebih singkat dibanding jalur darat alternatif seperti melalui Pegalongan yang memakan waktu hingga 45 menit. Biasanya dari rumah ke pasar Banyumas cuma 5 menit. Kalau muter, hampir satu jam. Ya resiko naik perahu, tapi lebih cepat,” terang Warsun.
Akibat penutupan ini, sejumlah jalur transportasi umum terganggu, bus jalur selatan (Purwokerto-Banyumas-Gombong-Kebumen serta Banjarnegara via Somagede) harus memutar, waktu tempuh membengkak drastis, Trans Banyumas koridor Bulupitu-Kejawar dipangkas rutenya, titik putar dipindahkan ke Pasar Wisata Kalisada Kaliori, Kalibagor.
Bahkan portal pembatas setinggi 2,1 meter dipasang di jalur alternatif untuk mencegah kendaraan besar masuk ke jalur sempit.
Untuk itu Pemerintah telah menyiapkan jalur alternatif bagi Kendaraan kecil yaitu melewati Kalisube–Papringan–Pegalongan (via Jembatan Pegalongan) atau Mandirancan-Banyumas.
Untuk kendaraan berat dialihkan ke jalur nasional Buntu-Sampang-Rawalo-Purwokerto jika datang dari arah Kebumen.
Pemerintah kabupaten mengklaim telah berkoordinasi dengan Dishub, DPU, Dinas Pendidikan, hingga TNI-Polri agar jadwal renovasi bertepatan dengan libur sekolah dan event Kota Lama Banyumas untuk meminimalisir dampaknya.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, antrean perahu di dermaga darurat masih tampak mengular. Para penyeberang tampak pasrah.(nw)
Reporter : Suho
