Agroekologi sebagai Perlawanan Sunyi Warga Kampung Barito Timur, Ladang Kecil Menjaga Masa Depan di Tengah Tekanan Industri Ekstraktif

Penen Padi di Desa Gumpa, Bartim. ( Foto: Sani Lake/newsway.co.id)

Di tengah deru alat berat dan bayang-bayang ekspansi industri ekstraktif yang terus merangsek ke wilayah kampung, warga di sembilan desa Kabupaten Barito Timur memilih bertahan dengan cara yang nyaris tak terdengar. Mereka tidak turun ke jalan, tidak mengangkat spanduk. Mereka menanam.

Oleh Winda

Ladang-ladang kecil di tepi hutan dan bantaran sungai menjadi ruang perlawanan sunyi. Melalui praktik agroekologi, warga kampung merawat tanah, menjaga benih, dan mempertahankan cara hidup yang diwariskan lintas generasi. Di sana, pertanian bukan sekadar soal panen, melainkan soal masa depan.

Agroekologi lahir dari pengalaman panjang masyarakat menghadapi kerusakan lingkungan, penyempitan lahan, hingga ketergantungan pada input pertanian berbasis kimia. Bagi warga Barito Timur, ia bukan konsep akademik, melainkan jawaban atas krisis yang mereka alami setiap hari.

Untuk mengulik lebih dalam praktik ini, Wartawan newsway.co.id berbincang dengan Direktur JPIC Kalimantan Tengah, Sani Lake, di kediamannya, Sabtu, (31/1/2026). Sambutan hangat dan senyum tenang mengiringi percakapan tentang tanah, benih, dan ketahanan hidup masyarakat kampung.

“Agroekologi di Barito Timur bukan jargon proyek. Ia lahir dari pengalaman hidup masyarakat yang melihat tanah rusak, air mengeruh, dan hutan menipis akibat tekanan industri,” ujar Sani Lake.

Menurutnya, ladang-ladang kecil yang dikelola secara campuran padi ladang, sayuran, umbi-umbian, hingga tanaman hutan menjadi ruang strategis untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus pengetahuan lokal.

“Ladang bukan hanya tempat produksi pangan, tetapi ruang belajar lintas generasi. Pengetahuan bertani, menyimpan benih, hingga merawat tanah diwariskan langsung di lapangan,” jelasnya.

Di Kampung Jana Jari, praktik agroekologi dijalankan secara kolektif oleh keluarga. Orang tua fokus pada produksi, sementara anak muda mengambil peran dalam pemasaran dan distribusi hasil ladang. Pola ini membuktikan bahwa pertanian kampung tidak tertinggal oleh zaman.

“Anak muda tidak lagi harus keluar kampung untuk bertahan hidup. Mereka menjadi penghubung antara ladang dan pasar, antara pengetahuan lokal dan teknologi sederhana,” kata Sani.

Perempuan memegang peran kunci dalam sistem ini. Di sejumlah desa, mereka mengembangkan bedengan sayur di sekitar ladang padi sebagai sumber pangan sekaligus penghasilan harian.

“Perempuan adalah penjaga benih, pengatur ritme tanam, dan penentu arah dapur keluarga. Dari dapur itulah sistem agroekologi terus hidup,”ungkapnya.

Di tengah penyempitan ruang hidup akibat tambang dan perkebunan skala besar, agroekologi menjadi narasi tandingan terhadap model pembangunan yang hanya menekankan produksi dan keuntungan.

“Setiap benih lokal yang ditanam adalah pernyataan politik yang sunyi. Setiap kebun campur yang dipertahankan adalah sikap melawan logika pembangunan yang merusak,” tegas Sani.

Bagi warga kampung, tujuan agroekologi bukan semata hasil panen atau tambahan pendapatan. Yang lebih utama adalah menjaga kedaulatan atas pangan, tanah, dan cara hidup.

“Agroekologi adalah upaya sadar warga kampung untuk tidak menyerahkan masa depan sepenuhnya pada sistem yang tidak mereka kendalikan,” tambahnya.

Pengalaman sembilan desa di Barito Timur, lanjut Sani, menunjukkan bahwa masa depan pangan tidak selalu lahir dari proyek besar atau teknologi tinggi.

“Masa depan itu bisa tumbuh dari ladang kecil yang dirawat dengan pengetahuan lokal, solidaritas keluarga, dan kesadaran ekologis,” pungkasnya.

Di tengah perubahan lanskap yang cepat dan bisingnya mesin industri, warga kampung Barito Timur memilih berbicara dengan cara paling sederhana tetap menanam, tetap menjaga tanah, dan tetap menentukan arah hidup mereka sendiri.( nw)

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog