NEWSWAY.CO.ID, MARTAPURA – Fenomena penyalahgunaan obat batuk Seledryl di kalangan remaja menjadi perhatian serius pihak rumah sakit. Obat yang seharusnya dikonsumsi sesuai dosis untuk meredakan batuk itu justru digunakan secara berlebihan demi mengejar efek tertentu yang membahayakan tubuh.
Direktur RSUD Ratu Zalecha Martapura, Arief Rachman menegaskan, penggunaan obat harus mengikuti aturan pakai. Ia menyebut, salah satu kandungan dalam Seledryl yang kerap disalahgunakan adalah dekstrometorfan.
“Kalau diminum sesuai dosis, tentu fungsinya untuk pengobatan. Tetapi ketika melebihi ambang batas atau overdosis, efek samping pasti muncul. Bukan hanya pada Seledryl, tapi pada semua obat,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Arief mengatakan, dekstrometorfan dalam jumlah tinggi memang bisa menimbulkan efek tertentu yang dianggap “menyenangkan” oleh sebagian remaja. Namun, Seledryl bukan hanya berisi satu zat aktif.

“Di dalamnya ada kandungan lain seperti paracetamol. Kalau dikonsumsi berlebihan, bukan hanya dekstrometorfannya yang naik, parasetamol juga ikut berlebih. Itu bisa menyebabkan mual, muntah bahkan gangguan organ,” jelasnya.
Ia menyebutkan, penggunaan dalam dosis tinggi secara terus-menerus berpotensi mengganggu fungsi organ vital, termasuk ginjal dan hati. Dampaknya mungkin tidak langsung dirasakan berat, namun akumulatifnya bisa berbahaya.
“Efeknya bisa pusing, mual, muntah. Kalau berulang, bisa berdampak pada ginjal dan organ lainnya. Jadi ini bukan hal sepele,” tegas Arief.
Terkait peredarannya, Seledryl tergolong obat bebas terbatas yang memang dapat dibeli di pasaran. Namun, ia menekankan bahwa status tersebut bukan berarti bebas digunakan tanpa kendali.
“Selama masih kategori obat bebas terbatas, memang bisa dibeli. Tapi tetap ada aturan pakai yang harus dipatuhi,” katanya.
Arief juga mengingatkan orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, terutama jika mulai menunjukkan tanda-tanda mengikuti tren yang berisiko.
“Remaja sering ikut-ikutan tren. Padahal kalau ditanya enak atau tidak, sebenarnya tidak juga. Karena setelah itu tetap ada efek samping yang mengganggu,” ucapnya.
Ia menyoroti risiko lain yang tak kalah berbahaya, seperti hilangnya kesadaran saat berkendara yang dapat memicu kecelakaan lalu lintas maupun tindakan agresif.
“Kalau sudah tidak sadar, lalu mengendarai kendaraan dan terjadi tabrakan, itu bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain. Bahkan bisa memicu perkelahian,” ucapnya.
Melalui imbauan ini, RSUD Ratu Zalecha berharap remaja lebih bijak dalam menggunakan obat-obatan dan tidak mudah tergoda untuk mencoba hal-hal yang membahayakan kesehatan.
“Kalau sudah tahu dampaknya berbahaya, sebaiknya ditinggalkan. Jangan sampai masa depan rusak hanya karena coba-coba,” pungkas Arief.(nw)
