“Empat Hektar Kebun Buah Ludes Terbakar: Ratusan Juta Raib dalam 15 Hari” 

26 Agustus 2026
Kasman menatap kosong seraya melihat lahan garapannya yang sudah berubah menjadi tumpukan debu karena kebakaran. (Foto : newsway.co.id)

Kisah Kasman, Petani yang Lahan Durian dan Alpukatnya Hangus dilalap Api 

Di tengah kabut asap tipis dan tanah hitam bekas kebakaran, Kasman berdiri terdiam. Kaos kuning-merah bertuliskan “Phapros” yang dikenakannya sudah kusam. Matanya menatap ke arah lahan yang 15 hari lalu masih dipenuhi pohon durian, jeruk, alpukat, dan pisang. Kini yang tersisa hanya arang dan batang gosong. 

“Sudah lima belas hari ini pak,” ujar Kasman dengan suara tercekat.

Kala itu, Kasman juga sama seperti warga lain yang terdampak, menunggu kehadiran Menteri LH M Jumhur Hidayat beserta rombongan yang akan meninjau lokasi kebakaran kebun yang dirawatnya, wajahnya terlihat lelah setelah sebelumnya bersama para relawan berjibaku memadamkan api yang melalap tanamannya., padahal Kasman sudah merawat tanaman itu stahun.ejak lima tahun yang lalu.

Panen yang Tak Pernah Tiba 

Bagi Kasman, 4 hektare itu bukan sekadar tanah, di sana sudah tumbuh durian yang mulai berbuah besar, alpukat, petai, hingga pisang. Semua tinggal kenangan. 

“Sudah mulai berbuah semua durian gede, pisang. Tapi ya tinggal yang di pinggir ini saja pak. Sisa. Pinggir sungai saja,” katanya sambil menunjuk ke arah semak yang masih hijau di tepi aliran air. 

Kerugian? Ia tak berani menyebut angka pasti. Tapi ia tahu nilainya “ratusan juta”. Jerih payah bertahun-tahun ludes dalam hitungan hari. 

Dengan nada gemetar, Kasman menceritakan, api pertama kali muncul dari arah samping dan belakang, dari area kebun. Ia sempat berusaha memadamkan, tapi sia-sia. 

“Sudah kewalahan ulun, sudah sungai kering,” katanya. 

Kekeringan parah membuat sumber air satu-satunya jadi tak berguna. “Sumur bor terus terang enggak mampu,” imbuhnya. 

Ini bukan kali pertama kebunnya terbakar. Kasman mengingat tahun 2015 dan 2022 pernah terjadi hal serupa, tetapi kebakaran kali ini dianggapnya yang parah paling parah.

Kasman beberapa kali menoleh ke belakang, ke arah lahan gosong yang masih berasap. Ia melipat tangan di dada, seolah menahan kecewa. Sesekali ia menunjuk ke titik api berasal. 

Di belakangnya, pohon-pohon berdiri gundul. Langit tampak pucat. Suasana itu mencerminkan apa yang ia rasakan: kehilangan dan pasrah. 

Saat ditanya apa yang dilakukan untuk meminimalisir kerugian, Kasman hanya menjawab singkat, “Pembersihan sama anu air pak.”

Tapi dengan kondisi sungai kering saat ini Kasman mengaku tidak ada pilihan lain kecuali pasrah.

Kisah Kasman adalah potret kecil dari dampak karhutla di Kalimantan. Ketika musim kemarau panjang datang, lahan gambut dan kebun warga menjadi paling rentan. 

Pemerintah memang sudah menyiagakan personel dan membangun sumur bor. Tapi bagi Kasman dan petani lain, bantuan itu datang setelah api sudah melahap semua. 

Kini ia hanya bisa berdiri di lahannya sendiri, menghitung kerugian, dan berharap hujan segera turun, pinggir sungai saja yang tersisa, menjadi satu-satunya harapan kecil untuk memulai lagi. 

Di balik data 8 ribu hektare lahan terbakar tahun ini, ada nama-nama seperti Kasman. Ada kebun yang terbakar, ada ratusan juta yang hilang, dan ada masa depan yang harus dimulai dari nol.*

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog