Pumpung Creative Space Diresmikan, Hidupkan Sejarah Intan Trisakti dan Potensi Gastronomi Menuju Banjarbaru Kota Kreatif

29 Agustus 2026
Salah satu pojok Pumpung Creative Spaceyang menggambarkab wilayah penemuan intan Trisakti. (Foto : Kahar KEK/newsway.co.id)

NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU – Enam puluh satu tahun setelah penemuan Intan Trisakti, Kampung Pumpung, Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, kembali membuka ruang untuk menafsirkan sejarahnya melalui cara yang lebih kontekstual.

Bukan sekadar mengenang sejarah pendulangan intan, masyarakat bersama Komite Ekonomi Kreatif Kota Banjarbaru dan Bubuhan Pumpung Kreatif (BPKraf) mulai mengembangkan Pumpung sebagai ruang hidup yang menghubungkan sejarah, budaya, lingkungan, gastronomi dan ekonomi kreatif.

Langkah tersebut ditandai dengan hadirnya Pumpung Creative Space dan pengembangan Rute Jelajah Intan Trisakti, yang diluncurkan bertepatan dengan peringatan 61 tahun penemuan Intan Trisakti, Rabu (26/8/2026).

Pumpung Creative Space dirancang sebagai ruang publik kreatif luar ruang sekaligus titik awal pengembangan Cempaka Living Museum. Ruang ini tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi diarahkan sebagai ruang masyarakat untuk beraktivitas, berkarya, belajar, berdiskusi, menampilkan kebudayaan, mengembangkan gastronomi lokal dan membangun kemandirian komunitas.

Konsep tersebut menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Dalam pendekatan living museum, kampung tidak diposisikan sebagai objek yang hanya dipertontonkan kepada wisatawan, melainkan sebagai ruang hidup tempat masyarakat menciptakan pengalaman, pengetahuan dan nilai dari lingkungan mereka sendiri.

Bagi Narwanto, Korda Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Kalimantan Selatan sekaligus Ketua Harian Komite Ekonomi Kreatif Kota Banjarbaru, pendekatan tersebut penting dalam membangun identitas kota.

“Membangun kesadaran untuk identitas sebuah kota bisa dimulai dari mengenali dan menghidupkan kembali aset yang dimiliki, seperti aset sejarah, budaya, lingkungan, sumber daya manusia maupun cerita-cerita yang tumbuh di masyarakat,” ujarnya.

ICCN sendiri merupakan jejaring kota kreatif yang berperan sebagai orkestrator dalam pengembangan ekosistem kota kreatif dan ekonomi kreatif di Indonesia. Dalam perspektif tersebut, pengembangan ekonomi kreatif tidak berhenti pada penciptaan produk atau kegiatan ekonomi, tetapi juga bagaimana ide, pengetahuan, budaya dan warisan leluhur dapat diolah menjadi nilai baru yang tetap berakar pada identitas lokal.

Sejarah yang Dihidupkan

Semangat tersebut diterapkan melalui Rute Jelajah Intan Trisakti. Rute ini dirancang agar sejarah tidak hanya dibaca melalui teks atau foto, tetapi dialami langsung melalui lanskap tempat sejarah itu berlangsung.

Pengunjung diajak berjalan menyusuri kawasan bekas pendulangan tradisional, melihat bekas lubang pendulangan, danau, sawah, batu akik sisa pendulangan, kayu ulin purba, tanaman lokal hingga menuju titik yang dikaitkan dengan lokasi penemuan Intan Trisakti.

Perjalanan dimulai dari Pumpung Creative Space yang dilengkapi sejumlah fasilitas, antara lain pohon Ramania, pohon kopi, balai pertemuan, amfiteater outdoor, galeri karya, dapur tradisional terbuka, warung tradisional, camping ground dan spot pancing.

Setiap titik rute dilengkapi QR Code yang memungkinkan pengunjung mengakses narasi digital yang terhubung dengan website Cempaka Living Museum.

Dengan pendekatan ini, Intan Trisakti tidak ditempatkan semata sebagai artefak masa lalu. Peristiwa penemuannya menjadi pintu masuk untuk memahami kehidupan masyarakat Pumpung, tradisi pendulangan, lanskap, lingkungan dan perubahan yang terjadi di kawasan tersebut.

“Intan Trisakti adalah bagian penting dari sejarah Pumpung. Tetapi kita ingin menunjukkan bahwa setelah 61 tahun, kita masih bisa menemukan ‘intan-intan’ lain yang selama ini mungkin belum kita lihat. Salah satunya adalah intan gastronomi,” kata Narwanto.

Menemukan “Intan” Gastronomi

Gagasan tersebut kemudian diperluas melalui Creative Talk “Potensi Gastronomi di Rute Jelajah Intan Trisakti” yang digelar di Pumpung Creative Space.

Kegiatan yang menghadirkan Narwanto dan pengamat Gastronomi Banjarbaru Nurachmi D. Iriani itu membahas bagaimana pangan, lingkungan, budaya dan pengetahuan masyarakat dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata Pumpung.

Nurachmi menjelaskan bahwa gastronomi tidak berhenti pada makanan yang tersaji di meja. Danau, lahan, kebun, tanaman lokal hingga dapur masyarakat merupakan bagian dari satu ekosistem yang menyimpan pengetahuan.

“Kita sering melihat danau hanya sebagai pemandangan. Tetapi bagi gastronomi, danau adalah dapur besar,” katanya.

Karena itu, ikan air tawar dapat menjadi pintu masuk untuk menceritakan habitat, musim, teknik penangkapan dan cara pengolahan. Begitu pula beras lokal, ramania, supan-supan dan berbagai tanaman yang tumbuh di Pumpung dapat ditelusuri dari asal-usul, musim, cara memperoleh, pengolahan hingga memori rasa masyarakat.

Dari diskusi tersebut muncul gagasan “Dapur Pumpung”, yakni konsep penyajian makanan yang tidak hanya menawarkan rasa, tetapi juga cerita mengenai bahan pangan dan masyarakat yang menghasilkannya.

“Jadi orang tidak hanya makan makanan Pumpung, tetapi juga makan cerita Pumpung,” ujar Nurachmi.

Konsep tersebut diharapkan mengubah pola kunjungan dari sekadar datang, makan dan pulang menjadi pengalaman yang lebih utuh: melihat lingkungan, mengenal bahan pangan, bertemu masyarakat, belajar, mencicipi, membeli produk dan membawa pulang cerita.

Masyarakat sebagai Pemilik Cerita

Pengembangan Pumpung juga menempatkan masyarakat lokal sebagai bagian penting dari ekosistem. Komite Ekonomi Kreatif Kota Banjarbaru menginisiasi Bubuhan Pumpung Kreatif sebagai salah satu wadah awal keterlibatan masyarakat.

Para pendulang dan warga yang memiliki pengalaman langsung menjadi sumber pengetahuan dan cerita. Sementara generasi muda didorong terlibat dalam dokumentasi, pemanduan, seni, konten digital, gastronomi, pengelolaan kegiatan dan pengembangan produk kreatif.

Ke depan, pengembangan diarahkan pada penyusunan paket wisata edukasi, paket gastronomi Pumpung, pelatihan pemandu lokal, dokumentasi sejarah, penguatan gastronomi, kalender kegiatan kreatif serta kerja sama dengan institusi pendidikan melalui outing class dan kokurikuler.

Bagi Narwanto, tantangan terbesar bukan semata membangun infrastruktur, melainkan membangun kesadaran dan orkestrasi seluruh unsur yang terlibat agar memiliki tujuan jangka panjang yang sama.

Pengembangan pun dilakukan secara bertahap, dimulai dari cerita yang kuat, ruang yang aktif, masyarakat yang terlibat dan rute yang menarik, sebelum kemudian meningkatkan fasilitas dan kualitas layanan.

Dengan hadirnya Pumpung Creative Space, Rute Jelajah Intan Trisakti dan gagasan gastronomi Pumpung, peringatan 61 tahun penemuan Intan Trisakti memperoleh makna baru.

Sejarah tidak hanya dikenang, tetapi dihidupkan kembali melalui ruang publik, pengalaman wisata, pengetahuan masyarakat dan kreativitas generasi baru.

Target akhirnya sederhana, tetapi strategis: ketika orang datang ke Pumpung, mereka tidak hanya pulang membawa foto, melainkan membawa cerita tentang Intan Trisakti, masyarakat pendulang, budaya, pangan dan bagaimana sebuah kampung menjaga identitasnya sekaligus menciptakan nilai untuk masa depan.(nw)

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog