NEWSWAY.CO.ID, JAWA TENGAH – Jejak sejarah transportasi dan kekayaan arsip Banyumas akan kembali dihadirkan melalui Banjoemas Heritage Week (BHW) 2026.
Kegiatan yang berlangsung pada 10-13 September 2026 tersebut dipusatkan di Hetero Space Purwokerto, Jalan Jenderal Gatot Subroto Nomor 67, Purwokerto.
Mengusung tema 130 Tahun Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS), BHW 2026 menjadi ruang untuk mengenalkan kembali perjalanan perkeretaapian di wilayah Banyumas Raya sekaligus mempertemukan komunitas, pegiat sejarah, dan masyarakat.
Kurator pameran, Jatmiko Wicaksono mengatakan, pihaknya menghadirkan pameran arsip yang mengangkat kiprah SDS yang memasuki usia 130 tahun.
Jatmiko mengatakan melalui koleksi arsip, gambar teknik, serta dokumentasi autentik, pengunjung diajak melihat kembali perkembangan transportasi kereta api dan dinamika pembangunan di Banyumas pada masa lalu.
“Ini puncak dari riset sejak tahun 2009 dan berhasil mengumpulkan sekitar 150 arsip, gambar, foto, surat-surat dan dokumentasi yang akan dihadirkan dalam pameran,” kata Jatmiko, Selasa, 8 September 2026.
Dia menambahkan, BHW tahun ini menjadi momentum peringatan peninggalan SDS, sebuah jalur kereta solusi transportasi yang melebihi zamannya pada waktu itu.
“Kehadiran Kereta Uap Lembah Serayu pada 1896 menunjukkan kemajuan dan percepatan teknologi, persaingan dagang, peningkatan perekonomian, namun pada akhirnya ditinggalkan. Rangkaian kegiatan diawali pada Kamis, 10 September 2026. Setelah pembukaan pada pukul 19.00 WIB, acara dilanjutkan dengan pertunjukan tari dari Yayasan Lengger Bicara Banyumas,”ujarnya.
Jatmiko juga mengatakan, seusai menonton pertunjukan pengunjung kemudian dapat mengikuti tur galeri.
“Pameran arsip dibuka setiap hari mulai 10 hingga 13 September, dengan sejumlah agenda pendukung yang dikemas dalam bentuk diskusi, lokakarya, tur, hingga kegiatan jelajah sejarah,”terangnya.
Tidak hanya menonton pameran, panitia menggelar agenda antara lain Workshop #1 bertajuk Rebuild 3D Bangunan Heritage Stasiun SDS, Sharing Session: Cerita dari Leiden, serta talkshow mengenai komunitas pecinta kereta api pada Jumat 11 September.
“Sementara pada Sabtu, 12 September, peserta dapat mengikuti Jelajah Edisi SDS Land, workshop kepenulisan reportase, History Creators Meet-Up 2026, serta talkshow tentang warisan kereta api kolonial di daerah.Rangkaian BHW 2026 ditutup pada Minggu, 13 September. Selain Playdate Hompimpaa “Dolanan Sepur”, digelar workshop Vintage Travel Journaling, kegiatan Play, Craft & Explore History, dan seremoni penutupan,” bebernya.
Jatmino menambahkan malam penutupan juga diisi dengan penganugerahan Kostha Sanggraha yang diberikan kepada pegiat arsip baik individu, komunitas maupun lembaga.
“Penghargaan ini ditujukan bagi mereka yang konsisten menjaga narasi sejarah lokalnya tetap hidup di tengah masyarakat. Di sela acara juga digelar pertunjukan pantomim, serta penampilan musisi blues asal Banyumas, Gendhit,” ujar Jatmiko, yang juga founder Banjoemas History Heritage Community (BHHC).
Untuk diketahui menurut Jatmiko, BHW 2026 tidak sekadar menampilkan dokumen masa lalu, ajang yang masuk dalam Calender of Event (CoE) Banyumas 2026 ini diarahkan menjadi ruang bersama untuk mempertemukan berbagai komunitas, membuka kolaborasi, dan memperluas literasi sejarah agar warisan Banyumas dapat semakin dikenal masyarakat.(nw)
Reporter : Suho
