NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU – Wamenko Bidang Pangan yang juga dipercaya menjadi Ketua Penanganan Karhutla Kalimantan Selatan, Dr Hanif Faisol Nurofiq, turun langsung kedaerah Pengayuan pada Sabtu (12/09/2026) pagi.
Hanif mengatakan kawasan Pengayuan, Liang Anggang, kini menjadi garis depan pertaruhan, meski armada kepolisian hingga ratusan relawan telah mengepung titik api karakter gambut yang mengering membuat api terus menjalar underground hingga membakar vegetasi sepanjang hampir satu kilometer.
Menyadari pemadaman konvensional hanya menjinakkan api di permukaan, Hanif menyiapkan resep permanen melalui restorasi hidrologi total di kawasan rawan seperti Liang Anggang, Guntung Damar, hingga Pengayuan.
“Kita bersama satgas karhutla menganalisa tiga lokasi utama di Kalimantan Selatan, yaitu Liang Anggang, Guntung Damar, dan Pengayuan. Secara teknis, Liang Anggang dan Guntung Damar bisa kita kuasai melalui metode perendaman,” ujar Hanif.
Dalam rencana penanganan Hanif menjelaskan, Pemerintah memetakan seluruh kanal drainase untuk ditutup secara sistematis melalui sistem canal blocking mulai tahun depan.
Langkah ini akan dilakukan sejak bulan Mei agar cadangan air tidak terbuang dan lahan gambut tetap basah sepanjang musim kemarau.
“Bilamana kanal blocking mampu kita bangun, maka mungkin bulan Mei itu semua air sudah tidak bisa keluar, sehingga lahan akan selalu basah dan memudahkan kita mengendalikan api,” tegas Hanif.
Hanif menekankan jika kawasan Liang Anggang dan Guntung Damar diintervensi dengan menarik air sungai hingga menjangkau area bandara, maka kawasan Pengayuan akan memanfaatkan dorongan pasang air laut untuk menaikkan massa air ke daratan.
Bahkan direncanakan sumur-sumur resapan juga akan dibangun pada setiap interval satu kilometer untuk terus menyuplai pasokan air ke dalam jaringan drainase.
“Jadi itu solusi permanen untuk jangka panjangnya, selain itu juga kita akan membangun semua sumur-sumur pada titik terpencar dengan interval mungkin 1 kilometer untuk mensuplai drainase-drainase tadi,” tegasnya lagi.
Terpisah, Ketua RT 02 Landasan Ulin Selatan, Hendra, manyampaikan keresahan warganya, ia mengatakan penyekatan fisik di jalur air berpotensi mengunci mata pencaharian warga yang menggantungkan hidup dari berburu kayu galam dan mencari ikan.
“Sisi pemadaman kebakaran jelas terbantu. Tapi bagi warga yang cari ikan dan kayu galam, ini akses utama mereka. Nanti perlu kita duduk bersama lagi untuk bicarakan solusinya,” ungkap Hendra.(nw)
