NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU – Barisan Hitam Kota Banjarbaru menyampaikan protes dalam Aksi Kamisan ke-47 di Tugu Nol Kilometer, belasan peserta aksi mengenakan pakaian serba hitam, lengkap dengan topeng wajah putih dengan senyum lebar, pipi merah, kumis melengkung, dan jenggot runcing yang menjadi simbol perlawanan global dan ikon kelompok peretas Anonymous pada Kamis (29/10/2026) sore lalu.
Topeng itu diambil dari tokoh Guy Fawkes, yang menjadi terkenal usai digunakan karakter dalam film V For Vendetta, mereka memilih diam, tanpa orasi, untuk menyindir pernyataan pejabat yang menyebut Kalimantan Selatan baik-baik saja di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Aksi itu mengusung tajuk “Karhutla Belum Usai, Rakyat Terbantai ISPA dan Hutan Terus Terbakar”. Di tengah lalu lintas yang ramai, topeng-topeng itu menjadi simbol keresahan mereka terhadap penanganan karhutla dan dampaknya bagi warga.
Salah satu perwakilan aksi Kamisan Banjarbaru, Muhammad Salman Al-Farizi menjelaskan alasan mereka menggunakan topeng, sebagai bentuk perlawanan.
“Ya, kami hari ini menggunakan topeng sebagai simbolis bahwas ada pejabat yang bilang kalau Kalsel itu baik-baik saja dan tidak lumpuh itu konyol,” ujar Salman seusai aksi.
Bagi Salman dan kelompoknya, senyum di balik topeng itu menggambarkan keheranan mereka terhadap pernyataan tersebut, sebab, warga masih menghadapi dampak kabut asap, termasuk gangguan pernapasan.
“Maksudnya adalah ketika kami mendengar statement tersebut, kami terpaksa untuk senyum dan tidak bisa berkata-kata lagi,” katanya.
Ia mempertanyakan apakah para pejabat merasakan dampak langsung kabut asap atau justru luput dari kondisi yang dialami warga.
“Saking herannya dengan statement itu, apakah mereka tidak merasakan dampak langsung, atau kabut asap ini tidak sampai ke mereka? Kami kurang tahu. Tapi maksudnya kami menggunakan topeng sebagai simbolis bahwa untuk mengeluarkan kata-kata pun kami sudah hampir tidak sanggup,” imbuhnya.
Di balik aksi tanpa orasi itu, peserta juga menyampaikan solidaritas kepada warga yang terdampak karhutla, termasuk anak-anak yang mengalami gangguan pernapasan dan relawan yang kehilangan nyawa saat berjuang memadamkan api.
Salman turut menyoroti klaim aparat negara terkait hujan yang turun beberapa hari sebelumnya, menurut dia, klaim tersebut menambah kekecewaan mereka di tengah krisis yang belum sepenuhnya berakhir.
“Walaupun sudah turun hujan, yang mana hujan beberapa hari yang lalu pun diklaim oleh aparat negara. Mereka mengklaim kalau itu di tangan mereka,” ungkapnya.
Melalui mimbar bebas tersebut, Salman berharap pemerintah dan masyarakat sama-sama menyadari dampak bencana ekologis yang terus berulang di Kalimantan.
“Harapannya biar kami dan mereka yang di atas sadar, supaya pada akhirnya berkomitmen untuk membenahi bencana ekologis yang terjadi di Kalimantan,” tandasnya.(nw)
