Oleh : Isuur Loeweng Suroto
Banjarbaru tidak lahir dari rahim tradisi yang purba. Ia bukan kota yang tumbuh secara organik selama berabad-abad seperti Martapura atau Banjarmasin dengan sungai-sungainya yang legendaris.
Banjarbaru adalah anak gagasan, buah dari nalar teknokratis yang visioner, sebuah
hamparan tanah tinggi yang dipersiapkan dengan cermat sebagai jawaban atas persoalan masa depan. Ia adalah mimpi Van der Pijl tentang kota modern di Banjarbaru.
Kini, lebih dari dua dekade sejak disahkan sebagai kota administratif pada 1999, dan sejak ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan pada 2022, Banjarbaru tengah berada di persimpangan yang menentukan. Ia tumbuh menjadi pusat gravitasi baru, menyerap penduduk,
menarik investasi, dan menjadi magnet bagi mereka yang mencari kehidupan yang lebih teratur, lebih hijau, dan lebih menjanjikan. Namun di tengah arus perubahan yang kian gegas, muncul pertanyaan mendasar: siapa sebenarnya Banjarbaru? Identitas macam apa yang hendak ditawarkan kepada dunia?

Keniscayaan Perubahan dan Tantangan Kematangan
Sebagaimana kota-kota besar lainnya di Indonesia, Banjarbaru tidak bisa menghindari gelombang modernitas. Kepadatan penduduk yang kini menembus angka 200 ribu jiwa lebih, keragaman budaya yang semakin cair, kepadatan lalu lintas di ruas-ruas utama, serta tuntutan
layanan publik yang semakin kompleks, semuanya adalah konsekuensi logis dari statusnya sebagai pusat pertumbuhan baru.
Laju perubahan ini adalah keniscayaan yang tidak bisa ditolak. Namun di sinilah kematangan sebuah kota diuji. Apakah Banjarbaru sekadar tumbuh secara
kuantitatif, bertambah gedung, bertambah penduduk, bertambah kendaraan atau mampu bertumbuh secara kualitatif dengan menjaga keseimbangan sosial dan menghadirkan kehidupan yang berkeadilan?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita menyadari bahwa
pertumbuhan fisik tanpa disertai identitas yang kokoh hanya akan melahirkan kota-kota yang ampang dilupakan, monumen-monumen beton tanpa jiwa, ruang-ruang publik tanpa kehangatan, komunitas-komunitas tanpa ikatan.
Sejauh ini, Banjarbaru telah memiliki nilai-nilai strategis yang ditopang melalui empat pilar
utama: pendidikan, perdagangan dan bisnis, permukiman, serta pemerintahan. Keempat pilar ini telah menjadi fondasi yang relatif kokoh selama lebih dari dua dekade. Namun pertanyaan yang muncul kemudian adalah, sudahkah keempat pilar tersebut dirangkai menjadi sebuah narasi besar yang koheren?
Sudahkah ia dikemas dalam sebuah city branding yang tidak hanya mudah
diingat, tetapi juga mampu menggerakkan seluruh elemen kota menuju visi yang sama?

City Branding: Bukan Sekadar Gincu, Tapi Nyawa
Kita harus berhati-hati membedakan antara slogan politik yang musiman dan city branding yang visioner. Seringkali, kita menyaksikan fenomena “ganti pemimpin ganti slogan” sebuah praktik
yang terkadang membingungkan publik.
Identitas visual berganti, tagline berubah, dan yang terjadi kemudian adalah fragmentasi makna. Kota kehilangan konsistensi, warganya kehilangan pegangan.
City branding yang kita butuhkan bukanlah sekadar gincu yang mempercantik wajah kota untuk sementara waktu. Bukan pula jargon politis yang dirancang untuk memenangkan hati pemilih dalam kontestasi lima tahunan.
City branding yang sesungguhnya adalah upaya kolektif untuk merumuskan “jiwa” kota, apa yang membuat kita berbeda, apa yang membuat kita istimewa, dan
ke mana kita hendak melangkah bersama.
Ia harus menjadi semangat bersama yang melampaui rezim, yang terus hidup bahkan ketika para pemimpin berganti.
Belajar dari Kegelisahan Kota-Kota Lain
Di berbagai belahan dunia, dan semakin banyak di Indonesia, kota-kota kecil dan besar sedang bergulat dengan pertanyaan identitas yang sama. Mereka sadar bahwa di era globalisasi dan persaingan antar wilayah yang semakin ketat, kota tanpa identitas akan menjadi kota yang dilupakan, sekadar titik dalam peta, tanpa daya tarik bagi investasi, talenta, maupun pariwisata.
Lihatlah bagaimana Jakarta, setelah melalui pergulatan panjang, mendefinisikan diri sebagai “Kota Kolaborasi” sebuah pengakuan bahwa kompleksitas ibu kota tidak bisa dihadapi sendirian, bahwa solusi lahir dari gotong royong semua pihak.
Bandung, dengan konsistensi yang patut diacungi jempol, terus menjaga karakter budayanya di bawah berbagai kepemimpinan. Ia tetap menjadi “Kota Kreatif” yang hidup, bukan sekadar label.
Bahkan kota sekelas Pasuruan yang mungkin selama ini luput dari perhatian nasional kini berani memadukan diksi “Religius” dan “Modern” sebagai identitasnya, menunjukkan bahwa kota kecil pun bisa memiliki ambisi besar.
Langkah kota-kota tersebut sejatinya adalah upaya bertahan hidup dalam kompetisi global. Mereka sadar bahwa di era digital, ketika batas-batas geografis semakin kabur, reputasi dan citra adalah modal utama.
Sebuah kota bisa dikunjungi, diinvestasikan, atau bahkan ditinggali semata-
mata karena citranya yang menarik.
Sebaliknya, kota dengan segala potensi tetapi tanpa kemasan yang tepat akan tenggelam dalam hiruk-pikuk informasi yang membanjiri ruang digital.
Banjarbaru, dengan masyarakatnya yang sangat heterogen, perpaduan antara pendatang dan penduduk asli, antara tradisi dan modernitas, antara birokrasi dan kewirausahaan, membutuhkan sebuah “payung makna” baru.
Kita memerlukan sebuah simbol yang mampu mengartikulasikan diri tidak hanya dalam spanduk-spanduk kota, tetapi juga dalam kebijakan publik, dalam desain
ruang-ruang urban, dalam kualitas layanan pemerintahan, dan dalam semangat warganya sehari-hari.
City branding adalah cara kita berkata kepada dunia: “Kami bukan lagi sekadar kota transit, bukan sekadar tempat persinggahan sebelum menuju tujuan lain. Kami adalah pusat gravitasi
baru, tujuan itu sendiri.”
Kekayaan SDM: Tambang Emas Banjarbaru
Mari kita jujur melihat diri sendiri. Banjarbaru tidak diberkahi kekayaan sumber daya alam yang melimpah untuk dikelola menjadi Pendapatan Asli Daerah.
Tidak ada tambang batu bara yang
bisa digali, tidak ada laut dan gunung untuk dijadikan aset pariwisata massal.
Dalam logika ekonomi kreatif yang masih mendominasi banyak daerah di Kalimantan, Banjarbaru bisa dibilang kurang beruntung.
Namun, justru di sinilah letak keunggulan komparatif yang sesungguhnya. Ketiadaan sumber daya alam memaksa Banjarbaru untuk mengandalkan satu-satunya modal yang paling abadi, tidak akan habis tergali, yang justru semakin berharga ketika diasah, yakni adalah manusia.
Data menunjukkan fakta yang membanggakan sekaligus menantang. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Banjarbaru adalah yang tertinggi di Kalimantan Selatan, bahkan melampaui rata-rata nasional.
Di kota ini, kualitas individu, dalam hal pendidikan, kesehatan, dan daya beli mencapai standar yang tidak banyak dimiliki daerah lain.
Kita memiliki sumber daya manusia yang terdidik, terampil, dan memiliki daya saing. Jika kecerdasan kolektif warganya adalah “tambang emas” yang sesungguhnya, maka city branding adalah alat untuk mengolah emas tersebut menjadi perhiasan yang bernilai ekonomi.
Tanpa identitas baru yang segar dan relevan, kualitas SDM yang mumpuni ini hanya akan menjadi angka-angka statistik yang bisu. Lebih tragis lagi, mereka bisa menjadi “ekspor gelap” talenta-talenta terbaik yang meninggalkan kotanya karena tidak menemukan panggung yang layak.
City branding yang tepat akan menciptakan ekosistem yang menarik bagi talenta untuk tinggal, bagi investor untuk menanamkan modal, dan bagi wisatawan untuk berkunjung. Ia adalah magnet yang mengubah potensi menjadi kekuatan nyata.
Empat Pilar dan Ruh Kreativitas
Kita tidak perlu membuang keempat pilar yang telah menjadi fondasi Banjarbaru selama ini. Pendidikan, perdagangan, permukiman, dan pemerintahan, semuanya tetap relevan.
Kebutuhan kita adalah ruh baru yang menyatukan keempatnya, sebuah benang merah yang menjadi satu kesatuan harmonis.
Gagasan “Banjarbaru Kota Kreatif” bisa menjadi jembatan yang menghubungkan warisan lama dengan tantangan masa depan. Kreativitas di sini bukan berarti meninggalkan akar budaya atau mengadopsi gaya hidup asing secara membabi buta. Kreativitas adalah kemampuan untuk melihat kemungkinan-kemungkinan baru dalam setiap keterbatasan, untuk menemukan solusi-solusi inovatif atas persoalan-persoalan urban, untuk menciptakan nilai tambah dari apa yang
selama ini dianggap biasa.
Bayangkan transformasi yang mungkin terjadi. Pilar Pendidikan tidak lagi sekadar menghasilkan lulusan dengan ijazah, tetapi bertransformasi menjadi laboratorium inovasi, inkubator bagi wirausaha muda, pusat riset terapan yang bekerja sama dengan industri, ruang belajar sepanjang
hayat yang terbuka bagi semua warga.
Pilar Perdagangan tidak lagi terbatas pada pasar-pasar fisik yang tradisional, tetapi berkembang menjadi ekosistem digital yang menghubungkan produk-produk lokal dengan pasar global. Para pedagang tidak sekadar menjual barang, tetapi juga cerita, nilai, dan keunikan Banjarbaru.
Pilar Permukiman tidak lagi sekadar kumpulan perumahan, tetapi menjelma menjadi ekosistem ruang publik yang mendorong tumbuhnya kreativitas, taman-taman yang menjadi panggung pertunjukan, trotoar yang nyaman untuk berjalan kaki dan berinteraksi, sudut-sudut kota yang menjadi galeri seni terbuka.
Pilar Pemerintahan tidak lagi berkutat pada rutinitas birokrasi, tetapi menjadi katalisator perubahan, pemberi ruang bagi inovasi, pelindung bagi eksperimen-eksperimen sosial, fasilitator bagi tumbuhnya inisiatif-inisiatif komunitas.
Di era digital seperti sekarang, ketika interaksi pertama dengan sebuah kota sering terjadi melalui layar gawai, citra baru kota adalah pintu masuk yang krusial.
Logo, warna, tipografi, dan ikon kota adalah identitas visual yang akan diperhitungkan di ruang siber. Mereka adalah wajah yang dikenali, asosiasi yang muncul, ketika nama Banjarbaru disebut.
Tanpa identitas visual yang kuat dan konsisten, Banjarbaru akan kehilangan daya saing. Generasi muda yang mobile akan lebih tertarik ke kota-kota yang “terlihat” keren di media sosial.
Investor akan lebih percaya pada kota yang “terlihat” profesional dalam presentasi dirinya. Wisatawan akan lebih memilih destinasi yang “terlihat” menarik dalam foto-foto.
Banjarbaru: Merayakan Mimpi Van der Pijl di
Tengah Derap Zaman
Banjarbaru tidak lahir dari rahim tradisi yang purba. Ia bukan kota yang tumbuh secara organik selama berabad-abad seperti Martapura atau Banjarmasin dengan sungai-sungainya yang legendaris.
Banjarbaru adalah anak gagasan, buah dari nalar teknokratis yang visioner, sebuah
hamparan tanah tinggi yang dipersiapkan dengan cermat sebagai jawaban atas persoalan masa depan. Ia adalah mimpi Van der Pijl tentang kota modern di Banjarbaru.
Kini, lebih dari dua dekade sejak disahkan sebagai kota administratif pada 1999, dan sejak ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan pada 2022, Banjarbaru tengah berada di persimpangan yang menentukan. Ia tumbuh menjadi pusat gravitasi baru, menyerap penduduk,
menarik investasi, dan menjadi magnet bagi mereka yang mencari kehidupan yang lebih teratur, lebih hijau, dan lebih menjanjikan. Namun di tengah arus perubahan yang kian gegas, muncul pertanyaan mendasar: siapa sebenarnya Banjarbaru? Identitas macam apa yang hendak ditawarkan kepada dunia?
Keniscayaan Perubahan dan Tantangan Kematangan
Sebagaimana kota-kota besar lainnya di Indonesia, Banjarbaru tidak bisa menghindari gelombang modernitas. Kepadatan penduduk yang kini menembus angka 200 ribu jiwa lebih, keragaman budaya yang semakin cair, kepadatan lalu lintas di ruas-ruas utama, serta tuntutan
layanan publik yang semakin kompleks, semuanya adalah konsekuensi logis dari statusnya sebagai pusat pertumbuhan baru.
Laju perubahan ini adalah keniscayaan yang tidak bisa ditolak. Namun di sinilah kematangan sebuah kota diuji. Apakah Banjarbaru sekadar tumbuh secara
kuantitatif, bertambah gedung, bertambah penduduk, bertambah kendaraan atau mampu bertumbuh secara kualitatif dengan menjaga keseimbangan sosial dan menghadirkan kehidupan yang berkeadilan?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita menyadari bahwa
pertumbuhan fisik tanpa disertai identitas yang kokoh hanya akan melahirkan kota-kota yang ampang dilupakan, monumen-monumen beton tanpa jiwa, ruang-ruang publik tanpa kehangatan, komunitas-komunitas tanpa ikatan.
Sejauh ini, Banjarbaru telah memiliki nilai-nilai strategis yang ditopang melalui empat pilar
utama: pendidikan, perdagangan dan bisnis, permukiman, serta pemerintahan. Keempat pilar ini telah menjadi fondasi yang relatif kokoh selama lebih dari dua dekade. Namun pertanyaan yang muncul kemudian adalah, sudahkah keempat pilar tersebut dirangkai menjadi sebuah narasi besar yang koheren?
Sudahkah ia dikemas dalam sebuah city branding yang tidak hanya mudah
diingat, tetapi juga mampu menggerakkan seluruh elemen kota menuju visi yang sama?
City Branding: Bukan Sekadar Gincu, Tapi Nyawa
Kita harus berhati-hati membedakan antara slogan politik yang musiman dan city branding yang visioner. Seringkali, kita menyaksikan fenomena “ganti pemimpin ganti slogan” sebuah praktik
yang terkadang membingungkan publik.
Identitas visual berganti, tagline berubah, dan yang terjadi kemudian adalah fragmentasi makna. Kota kehilangan konsistensi, warganya kehilangan pegangan.
City branding yang kita butuhkan bukanlah sekadar gincu yang mempercantik wajah kota untuk sementara waktu. Bukan pula jargon politis yang dirancang untuk memenangkan hati pemilih dalam kontestasi lima tahunan.
City branding yang sesungguhnya adalah upaya kolektif untuk merumuskan “jiwa” kota, apa yang membuat kita berbeda, apa yang membuat kita istimewa, dan
ke mana kita hendak melangkah bersama.
Ia harus menjadi semangat bersama yang melampaui rezim, yang terus hidup bahkan ketika para pemimpin berganti.
Belajar dari Kegelisahan Kota-Kota Lain
Di berbagai belahan dunia, dan semakin banyak di Indonesia, kota-kota kecil dan besar sedang bergulat dengan pertanyaan identitas yang sama. Mereka sadar bahwa di era globalisasi dan persaingan antar wilayah yang semakin ketat, kota tanpa identitas akan menjadi kota yang dilupakan, sekadar titik dalam peta, tanpa daya tarik bagi investasi, talenta, maupun pariwisata.
Lihatlah bagaimana Jakarta, setelah melalui pergulatan panjang, mendefinisikan diri sebagai “Kota Kolaborasi” sebuah pengakuan bahwa kompleksitas ibu kota tidak bisa dihadapi sendirian, bahwa solusi lahir dari gotong royong semua pihak.
Bandung, dengan konsistensi yang patut diacungi jempol, terus menjaga karakter budayanya di bawah berbagai kepemimpinan. Ia tetap menjadi “Kota Kreatif” yang hidup, bukan sekadar label.
Bahkan kota sekelas Pasuruan yang mungkin selama ini luput dari perhatian nasional kini berani memadukan diksi “Religius” dan “Modern” sebagai identitasnya, menunjukkan bahwa kota kecil pun bisa memiliki ambisi besar.
Langkah kota-kota tersebut sejatinya adalah upaya bertahan hidup dalam kompetisi global. Mereka sadar bahwa di era digital, ketika batas-batas geografis semakin kabur, reputasi dan citra adalah modal utama.
Sebuah kota bisa dikunjungi, diinvestasikan, atau bahkan ditinggali semata-
mata karena citranya yang menarik.
Sebaliknya, kota dengan segala potensi tetapi tanpa kemasan yang tepat akan tenggelam dalam hiruk-pikuk informasi yang membanjiri ruang digital.
Banjarbaru, dengan masyarakatnya yang sangat heterogen, perpaduan antara pendatang dan penduduk asli, antara tradisi dan modernitas, antara birokrasi dan kewirausahaan, membutuhkan sebuah “payung makna” baru.
Kita memerlukan sebuah simbol yang mampu mengartikulasikan diri tidak hanya dalam spanduk-spanduk kota, tetapi juga dalam kebijakan publik, dalam desain
ruang-ruang urban, dalam kualitas layanan pemerintahan, dan dalam semangat warganya sehari-hari.
City branding adalah cara kita berkata kepada dunia: “Kami bukan lagi sekadar kota transit, bukan sekadar tempat persinggahan sebelum menuju tujuan lain. Kami adalah pusat gravitasi
baru, tujuan itu sendiri.”
Kekayaan SDM: Tambang Emas Banjarbaru
Mari kita jujur melihat diri sendiri. Banjarbaru tidak diberkahi kekayaan sumber daya alam yang melimpah untuk dikelola menjadi Pendapatan Asli Daerah.
Tidak ada tambang batu bara yang
bisa digali, tidak ada laut dan gunung untuk dijadikan aset pariwisata massal.
Dalam logika ekonomi kreatif yang masih mendominasi banyak daerah di Kalimantan, Banjarbaru bisa dibilang kurang beruntung.
Namun, justru di sinilah letak keunggulan komparatif yang sesungguhnya. Ketiadaan sumber daya alam memaksa Banjarbaru untuk mengandalkan satu-satunya modal yang paling abadi, tidak akan habis tergali, yang justru semakin berharga ketika diasah, yakni adalah manusia.
Data menunjukkan fakta yang membanggakan sekaligus menantang. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Banjarbaru adalah yang tertinggi di Kalimantan Selatan, bahkan melampaui rata-
rata nasional. Di kota ini, kualitas individu, dalam hal pendidikan, kesehatan, dan daya beli mencapai standar yang tidak banyak dimiliki daerah lain.
Kita memiliki sumber daya manusia
yang terdidik, terampil, dan memiliki daya saing. Jika kecerdasan kolektif warganya adalah “tambang emas” yang sesungguhnya, maka city branding adalah alat untuk mengolah emas tersebut menjadi perhiasan yang bernilai ekonomi.
Tanpa identitas baru yang segar dan relevan, kualitas SDM yang mumpuni ini hanya akan
menjadi angka-angka statistik yang bisu. Lebih tragis lagi, mereka bisa menjadi “ekspor gelap” talenta-talenta terbaik yang meninggalkan kotanya karena tidak menemukan panggung yang
layak.
City branding yang tepat akan menciptakan ekosistem yang menarik bagi talenta untuk tinggal, bagi investor untuk menanamkan modal, dan bagi wisatawan untuk berkunjung. Ia adalah
magnet yang mengubah potensi menjadi kekuatan nyata.
Empat Pilar dan Ruh Kreativitas
Kita tidak perlu membuang keempat pilar yang telah menjadi fondasi Banjarbaru selama ini. Pendidikan, perdagangan, permukiman, dan pemerintahan, semuanya tetap relevan.
Kebutuhan kita adalah ruh baru yang menyatukan keempatnya, sebuah benang merah yang menjadi satu kesatuan harmonis.
Gagasan “Banjarbaru Kota Kreatif” bisa menjadi jembatan yang menghubungkan warisan lama dengan tantangan masa depan. Kreativitas di sini bukan berarti meninggalkan akar budaya atau
mengadopsi gaya hidup asing secara membabi buta. Kreativitas adalah kemampuan untuk melihat kemungkinan-kemungkinan baru dalam setiap keterbatasan, untuk menemukan solusi-solusi inovatif atas persoalan-persoalan urban, untuk menciptakan nilai tambah dari apa yang
selama ini dianggap biasa.
Bayangkan transformasi yang mungkin terjadi. Pilar Pendidikan tidak lagi sekadar menghasilkan lulusan dengan ijazah, tetapi bertransformasi menjadi laboratorium inovasi, inkubator bagi wirausaha muda, pusat riset terapan yang bekerja sama dengan industri, ruang belajar sepanjang
hayat yang terbuka bagi semua warga.
Pilar Perdagangan tidak lagi terbatas pada pasar-pasar fisik yang tradisional, tetapi berkembang menjadi ekosistem digital yang menghubungkan produk-produk lokal dengan pasar global. Para pedagang tidak sekadar menjual barang, tetapi juga cerita, nilai, dan keunikan Banjarbaru.
Pilar Permukiman tidak lagi sekadar kumpulan perumahan, tetapi menjelma menjadi ekosistem ruang publik yang mendorong tumbuhnya kreativitas, taman-taman yang menjadi panggung
pertunjukan, trotoar yang nyaman untuk berjalan kaki dan berinteraksi, sudut-sudut kota yang menjadi galeri seni terbuka.
Pilar Pemerintahan tidak lagi berkutat pada rutinitas birokrasi, tetapi menjadi katalisator
perubahan, pemberi ruang bagi inovasi, pelindung bagi eksperimen-eksperimen sosial, fasilitator bagi tumbuhnya inisiatif-inisiatif komunitas.
Di era digital seperti sekarang, ketika interaksi pertama dengan sebuah kota sering terjadi melalui layar gawai, citra baru kota adalah pintu masuk yang krusial.
Logo, warna, tipografi, dan ikon kota adalah identitas visual yang akan diperhitungkan di ruang siber. Mereka adalah wajah yang
dikenali, asosiasi yang muncul, ketika nama Banjarbaru disebut.
Tanpa identitas visual yang kuat dan konsisten, Banjarbaru akan kehilangan daya saing. Generasi muda yang mobile akan lebih tertarik ke kota-kota yang “terlihat” keren di media sosial.
Investor akan lebih percaya pada kota yang “terlihat” profesional dalam presentasi dirinya. Wisatawan akan lebih memilih destinasi yang “terlihat” menarik dalam foto-foto.
Beban dan Tanggung Jawab City Branding
Tentu saja, tugas melakukan city branding tidaklah semudah membalik telapak tangan. Ada risiko yang melekat dalam setiap proses penciptaan identitas bersama, yaki risiko mekanisme inklusi dan eksklusi simbolik.
Siapa yang dirangkul dalam narasi baru ini, dan siapa yang merasa tidak terwakili?
Kelompok mana yang suaranya didengar, dan kelompok mana yang terpinggirkan?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak boleh diabaikan. City branding yang otoritatif, yang ditetapkan tanpa melibatkan partisipasi publik yang bermakna, hanya akan melahirkan identitas artifisial yang tidak membumi.
Ia mungkin indah di atas kertas, tetapi tidak berakar dalam keseharian warga.
Oleh karena itu, keberanian seorang pemimpin untuk mengambil langkah ini harus disertai dengan kebijaksanaan untuk membuka ruang partisipasi seluas-luasnya.
Lintas sektor, pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas seni, tokoh masyarakat, generasi muda harus segera duduk bersama untuk menyamakan persepsi.
City branding harus dimulai dari percakapan
intens, baik melalui forum-forum formal di level pemerintahan, maupun diskusi-diskusi santai di ruang-ruang komunitas.
Proses ini mungkin panjang dan melelahkan. Akan ada perdebatan, tarik-menarik kepentingan, bahkan kemungkinan deadlock. Namun, justru dari proses yang demokratis itulah lahir identitas yang otentik, yang tidak hanya dimiliki secara legal, tetapi dihayati secara emosional oleh seluruh warga.
Menatap Masa Depan Banjarbaru
Banjarbaru sudah selayaknya bersalin rupa. Bukan karena kita malu dengan apa yang sudah dimiliki selama ini. Sebaliknya, kita bangga dengan fondasi yang telah dibangun oleh para pendahulu.
Bukan pula karena kita ingin menjadi kota lain, kita ingin menjadi versi terbaik dari
diri kita sendiri.
Kita bersalin rupa karena kita sangat mencintai masa depan kota ini. Karena kita ingin anak-cucu kita mewarisi bukan hanya infrastruktur fisik, tetapi juga kebanggaan identitas. Karena kita ingin dunia mengenal Banjarbaru bukan sekadar sebagai “kota administratif” atau “kota transit”, tetapi
sebagai pusat kreativitas, laboratorium inovasi, dan rumah bagi manusia-manusia berkualitas.
Tantangan ke depan tidaklah ringan. Persaingan antar daerah semakin ketat, sumber daya semakin terbatas, dan ekspektasi warga semakin tinggi. Namun, justru dalam tantangan itulah peluang bersembunyi.
Kota-kota yang mampu merumuskan identitasnya dengan jernih, dan
konsisten mewujudkannya dalam kebijakan dan tindakan, adalah kota-kota yang akan
memenangkan masa depan.
Mari kita melangkah, bersama-sama, menciptakan dampak positif untuk sebuah harapan baru. Sebelum zaman benar-benar meninggalkan kita dalam kesunyian yang administratif.
Sebelum kota-kota lain melesat begitu jauh hingga kita hanya bisa melihat dari kejauhan.
Banjarbaru bukan lagi mimpi Van der Pijl di atas kertas. Ia adalah kenyataan yang terus menjadi.
Kini, terserah kita para penghuninya, para pemimpinnya, untuk menentukan akan menjadi apa ia nanti. Akankah kita membiarkannya tumbuh tanpa arah, ataukah kita dengan sadar menenun
identitasnya, helai demi helai, di persimpangan zaman ini?
Waktu tidak berpihak pada mereka yang ragu. Mari bekerja. Mari berkarya. Mari menciptakan Banjarbaru yang tidak hanya dikenal, tetapi dikenang.(nw)
Tentu saja, tugas melakukan city branding tidaklah semudah membalik telapak tangan. Ada risiko yang melekat dalam setiap proses penciptaan identitas bersama, yaki risiko mekanisme inklusi dan eksklusi simbolik.
Siapa yang dirangkul dalam narasi baru ini, dan siapa yang merasa tidak terwakili?
Kelompok mana yang suaranya didengar, dan kelompok mana yang terpinggirkan?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak boleh diabaikan. City branding yang otoritatif, yang ditetapkan tanpa melibatkan partisipasi publik yang bermakna, hanya akan melahirkan identitas artifisial yang tidak membumi.
Ia mungkin indah di atas kertas, tetapi tidak berakar dalam keseharian warga.
Oleh karena itu, keberanian seorang pemimpin untuk mengambil langkah ini harus disertai dengan kebijaksanaan untuk membuka ruang partisipasi seluas-luasnya.
Lintas sektor, pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas seni, tokoh masyarakat, generasi muda harus segera duduk bersama untuk menyamakan persepsi.
City branding harus dimulai dari percakapan
intens, baik melalui forum-forum formal di level pemerintahan, maupun diskusi-diskusi santai di ruang-ruang komunitas.
Proses ini mungkin panjang dan melelahkan. Akan ada perdebatan, tarik-menarik kepentingan, bahkan kemungkinan deadlock. Namun, justru dari proses yang demokratis itulah lahir identitas yang otentik, yang tidak hanya dimiliki secara legal, tetapi dihayati secara emosional oleh seluruh warga.
Menatap Masa Depan Banjarbaru
Banjarbaru sudah selayaknya bersalin rupa. Bukan karena kita malu dengan apa yang sudah dimiliki selama ini. Sebaliknya, kita bangga dengan fondasi yang telah dibangun oleh para pendahulu.
Bukan pula karena kita ingin menjadi kota lain, kita ingin menjadi versi terbaik dari
diri kita sendiri.
Kita bersalin rupa karena kita sangat mencintai masa depan kota ini. Karena kita ingin anak-cucu kita mewarisi bukan hanya infrastruktur fisik, tetapi juga kebanggaan identitas. Karena kita ingin dunia mengenal Banjarbaru bukan sekadar sebagai “kota administratif” atau “kota transit”, tetapi
sebagai pusat kreativitas, laboratorium inovasi, dan rumah bagi manusia-manusia berkualitas.
Tantangan ke depan tidaklah ringan. Persaingan antar daerah semakin ketat, sumber daya semakin terbatas, dan ekspektasi warga semakin tinggi. Namun, justru dalam tantangan itulah peluang bersembunyi.
Kota-kota yang mampu merumuskan identitasnya dengan jernih, dan
konsisten mewujudkannya dalam kebijakan dan tindakan, adalah kota-kota yang akan
memenangkan masa depan.
Mari kita melangkah, bersama-sama, menciptakan dampak positif untuk sebuah harapan baru. Sebelum zaman benar-benar meninggalkan kita dalam kesunyian yang administratif.
Sebelum kota-kota lain melesat begitu jauh hingga kita hanya bisa melihat dari kejauhan.
Banjarbaru bukan lagi mimpi Van der Pijl di atas kertas. Ia adalah kenyataan yang terus menjadi.
Kini, terserah kita para penghuninya, para pemimpinnya, untuk menentukan akan menjadi apa ia nanti. Akankah kita membiarkannya tumbuh tanpa arah, ataukah kita dengan sadar menenun
identitasnya, helai demi helai, di persimpangan zaman ini?
Waktu tidak berpihak pada mereka yang ragu. Mari bekerja. Mari berkarya. Mari menciptakan Banjarbaru yang tidak hanya dikenal, tetapi dikenang.(nw)
