NEWSWAY.CO.ID, PULANG PISAU – Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pulang Pisau, Herman Wibowo, mengimbau seluruh elemen masyarakat, termasuk pelaku konservasi, untuk bersama-sama mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjelang musim kemarau panjang.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi kemarau panjang yang diperkirakan mulai terjadi pada Mei 2026.
Herman menegaskan, dampak karhutla tidak hanya mengancam satwa liar, tetapi juga berdampak luas terhadap kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga sektor pariwisata.

“Berdasarkan prediksi BMKG, kita akan menghadapi kemarau panjang mulai bulan Mei ini. Berkaca pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya, wilayah seperti Tumbang Nusa dengan gambut yang dalam pernah terbakar dan menyebabkan asap tebal,” ujar Herman, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, kabut asap akibat karhutla dapat memicu gangguan pernapasan, menurunkan kualitas hidup masyarakat, serta menghambat aktivitas transportasi dan kegiatan belajar mengajar. Selain itu, sektor ekonomi masyarakat juga berpotensi terganggu akibat menurunnya produktivitas.
Di sisi lain, ia menyoroti bahwa kawasan konservasi di Pulang Pisau yang mengusung pelestarian gambut dan satwa, termasuk orangutan, juga terancam jika kebakaran tidak dicegah sejak dini.
“Kita ingin menciptakan ekosistem yang baik, bukan hanya untuk pariwisata, tetapi juga untuk kehidupan masyarakat secara luas. Lingkungan yang aman dan bebas asap menjadi kunci utama,” tegasnya.
Herman mengingatkan bahwa satwa liar memiliki kerentanan yang sama terhadap dampak asap, sehingga perlindungan habitat harus menjadi perhatian bersama.
“Orangutan juga makhluk hidup yang bereaksi terhadap kondisi alam, termasuk asap. Jangan sampai di tahun ini ada foto orangutan pakai masker yang beredar karena kebakaran hutan,” ujar Herman.
Ia menambahkan, upaya pencegahan karhutla membutuhkan komitmen bersama, mulai dari pemerintah, masyarakat desa, hingga pelaku usaha dan sektor pariwisata. Edukasi dan kesadaran menjaga lingkungan dinilai menjadi langkah penting untuk menekan risiko kebakaran.
“Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga menyangkut kesehatan, ekonomi, dan masa depan daerah. Karena itu, semua pihak harus terlibat aktif menjaga agar tidak terjadi kebakaran,” tandasnya.(nw)
Reporter : Winda
